jihad dan syahid

Catat! Jihad dan Terorisme Itu Beda Jauh, Yuk Simak Penjelasannya

Kejadian aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar menyisakan duka yang mendalam bagi seluruh elemen negeri ini. Persaudaraan dan ketentraman nasional menjadi terkoyak oleh oknum yang merasa paling benar dalam menjalankan perintah agama. Ironisnya, aksi tersebut juga dikaitkan dengan jihad. Padahal, antara terorisme dan jihad berbeda jauh.

Sebelum mengurai lebih jauh tentang perbedaan jihad dengan terorisme, penulis hendak membahasa tentang keutamaan jihad. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan yang utuh tentang jihad itu sendiri. Secara umum, dalam ajaran Islam, jihad termasuk ibadah yang mulia karena terdapat banyak keutamannya, diantaranya:

Pertama, derajatnya lebih tinggi.

Hal ini didasarkan pada firman-Nya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ 

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. at-Taubah: 20).

Kedua, mati dalam keadaan mulia.

Banyak teks agama (Islam) yang menyebutkan bahwa sesungguhnya orang yang terbunuh atau meninggal dunia karena berjihad, maka ia tidak mati, tetapi masih hidup. Allah berfirman:

وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتُۢۚ بَلۡ أَحۡيَآءٞ وَلَٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ 

Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah: 154).

Dalam ayat lain, Allah akan menempatkan orang yang meninggal di medan jihad dengan balasan surga.

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ وَعۡدًا عَلَيۡهِ حَقّٗا فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ وَٱلۡقُرۡءَانِۚ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِعَهۡدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِۚ فَٱسۡتَبۡشِرُواْ بِبَيۡعِكُمُ ٱلَّذِي بَايَعۡتُم بِهِۦۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ 

Baca Juga:  “Bid’ah” Itu Bernama People Power

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111).

Ketiga, dijauhkan dari rasa sedih dan gelisah.

Ubadah bin Shamit ra mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Berjihadlah di jalan Allah, karena ia merupakan salah satu pintu surga. Allah akan menyelamatkan pelaku jihad dari kesedihan dan kegelisahan.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Al-Hakim).

Itulah tiga keutamaan dari sekian banyak keutamaan jihad dalam Islam. Setidaknya, dari ketiga keutamaan di atas, menjadikan banyak Muslim untuk serius berjihad di jalan Allah dan meraih pahalanya. Namun, jihad yang akan mendapatkan keutamaan itu tentunya jihad yang diridloi oleh Allah, yang tidak bertentangan dengan agama. Sebab, jihad seringkali dipahami secara serampangan sehingga jihad berubah menjadi kejahadan.

Jihad dan Terorisme Itu Dua Hal yang Berbeda

Merujuk keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor 3 Tahun 2004 tentang Terorisme, terdapat penjelasan yang cukup detail tentang definisi terorisme, yakni tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban, yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, terorisme itu merupakan tindakan yang terkutuk dan bertentangan dengan ajaran agama. Sementara itu, jihad adalah bagian dari ajaran agama yang memiliki tujuan sangat mulia, yakni melakukan perbaikan. Untuk lebih jelasnya, berikut penulis uraian tentang perbedaan jihad dan terorisme sebagaimana yang telah diketengahkan oleh MUI.

Baca Juga:  Salafi-Wahabi Dan Terorisme ( 4 ) : Relasi Doktrin Wahabi dan Ideologi Terorisme

Pertama, jihad sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan. Sementara itu, terorisme sifatnya merusak (ifsad) dan anarkis.

Hal itu dapat dimaknai bahwa jihad mempunyai tujuan mulia, yakni memperbaiki. Sebagai contoh bentuk jihad dalam konteks ini adalah melestarikan alam. Dalam QS. Ar-Rum: 41, Allah menyebutkan bahwa alam semesta diciptakan Allah dengan teratur, namun menjadi rusak lantaran ulah tangan manusia. Karena banyak orang yang merusak alam inilah, dibutuhkan orang-orang yang mau berjuang untuk menjaga kelestarian alam. Inilah jihad sesungguhnya.

Lain halnya dengan tindak teror, sekalipun diklaim dilakukan atas nama agama (jihad), tetapi jika ternyata ia malah merusak, maka itu disebut sebagai terorisme. Bom bunuh diri, atau segala tindakan yang sifatnya merusak, adalah termasuk aksi terorisme yang tidak ada kaitannya dengan konsep jihad yang sebenarnya.

Kedua, jihad tujuannya menegakkan agama Allah dan membela hak-hak pihak yang terdzolimi. Terorisme tujuannya untuk menciptakan rasa takut atau menghancurkan pihak lain.

Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan agama Allah atau menjaga agama tetap tegak, dengan cara-cara yang sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Alquran. Jalan Nabi dalam berjihad untuk menegakkan agama Allah adalah dengan dakwah.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 110

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَٰهَدُواْ وَصَبَرُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ 

Artinya: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Terkait dengan ayat ini, Yusuf al-Qaradhawi berkomentar, bahwa jihad dalam ayat ini adalah jihad dengan dakwah dan tablîgh, serta jihad dalam menanggung penderitaan dan kepayahan.

Baca Juga:  Viral Muadzin di Kuwait yang Mengganti Lafadz Adzan Karena Corona, Ini Dalilnya

Ketiga, jihad ditentukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas. Sementara itu, terorisme dilakukan tanpa aturan dan sasaran, tanpa batas.

Jihad berperang memang ada teksnya dalam Islam. Namun demikian, peperangan itu diatur. Pada prinsipnya, Islam tidak menyukai peperangan kecuali ada serangan dari lawan atau ada tindakan yang merugikan umat Islam terlebih dahulu. Hal ini bisa kita lihat dalam beberapa ayat.

Bahwa orang-orang kafir dan musyrik itulah yang pertama kali memerangi kaum Muslim. Allah berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu.” (QS. al-Baqarah: 190). Bahwa ketika orang musyrik mengusir kaum muslimin dari rumah-rumah mereka tanpa alasan yang benar. Jika hal ini terjadi, maka perintah jihad perang boleh dilancarkan (QS. al-Baqarah: 191).

Sementara itu, bom bunuh diri yang terjadi belakangan ini sangat tidak mengikuti aturan dan bahkan dilakukan dalam kondisi negara damai. Maka, laku seperti itu tidak layak disebut sebagai jihad. Yang tepat adalah manipulator agama atau tindak kejahatan berkedok terorisme.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muh. Ulin Nuha, MA

Avatar