albani dan bin bazz
albani dan bin bazz

Tanda-Tanda Khawarij Menurut Syeikh Albani dan Syeikh Bin Baz

Dalam sejarah Islam, salah satu kelompok yang menjadi biang kerok perpecahan antar umat Islam adalah kelompok Khawarij. Kelompok inilah yang memusuhi para sahabat yang melakukan musyawarah (arbitrase) di Daumatul Jandal setelah perang Siffin. Mereka mengejar dan membunuh para sahabat yang ikut serta dalam musyawarah tersebut. Salah satu sahabat terkemuka yang dibunuh oleh mereka adalah Ali bin Abi Thalib, betapapun dulunya mereka mengklaim sebagai pendukung sahabat Ali di perang Siffin.

Perlu diketahui, banyak dari orang-orang Khawarij yang ahli al-Qur’an dan ahli ibadah. Namun karena pemikiran mereka yang berlandaskan nafsu yang berujung kepada tindakan mereka yang ekstrem membuat wajah Islam menjadi buruk dimata dunia dan membuat keresahan di dunia Islam sendiri. Sebenarnya sebelum Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh, beliau sudah memerangi kelompok Khawarij ini di perang Nahrawan, namun embrio pemikiran-pemikiran Khawarij yang ekstrem sudah terlanjur menyebar dan tumbuh dikalangan umat Islam sampai saat ini.

Dalam buku Majmu’ Fatawa (28/496), Ibnu Taimiyah berkata tentang keberadaan kelompok Khawarij “Dalam beberapa riwayat hadits telah diceritakan bahwa kelompok ini akan tetap muncul sampai zaman keluarnya Dajjal. Alim ulama telah sepakat bahwa kelompok Khawarij ini bukan hanya pasukan tentara yang menyertai Dajjal.”

Kelompok-kelompok radikalis dan ekstremis saat ini, bisa digolongkan sebagai kelompok Khawarij. Mengingat corak pemikiran dan aksi yang dilakukan kelompok radikalis dan ekstremis sama persis seperti yang dilakukan oleh kelompok Khawarij dulu. Untuk memudahkan kita dalam mengenal kelompok Khawarij di zaman ini, ada baiknya kita membaca pendapat dari tokoh-tokoh agama Arab Saudi, Syeikh Albani dan Syeikh bin Baz

Teroris adalah Khawarij di era Kita

Ulama salaf yang terkenal di dunia Arab, Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani menjelaskan pandangannya mengenai teroris dalam kitab Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, “yang di maksud adalah bahwasanya mereka orang-orang yang melakukan tradisi jahat di dalam Islam. Mereka menjadikan pembelotan dari imam sebagai doktrin agama dari generasi ke generasi.

Baca Juga:  Khilafatul Muslimin : Negara dalam Negara, Patutkah Didiamkan?

Telah banyak peringatan nabi atas bahaya mereka di dalam sejumlah hadits. Diantaranya adalah sabdanya, “khawarij adalah anjing-anjing neraka.” Hal ini berdasarkan pula pada ketidakjelasan kekafiran mereka, karena mereka sebatas melakukan kezaliman kedurhakaan dan kefasikan.

Hari ini secara berulang, muncul generasi muda muslim yang tidak memahami agama dengan sebenarnya. Khawarij berpendapat bahwa banyak para pemangku pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Allah kecuali hanya sedikit saja (yang menjalankan hukum Allah). Maka Khawarij berpikir untuk membelot dari pemerintahan tanpa meminta pendapat para ulama dan ahli fiqih serta orang-orang bijak di kalangan mereka. Bahkan kelompok Khawarij mengikuti pemimpin-pemimpin mereka yang mengedepankan fitnah (kekerasan) secara membabi buta dan menumpahkan darah di Mesir, Suriah dan Aljazair serta melakukan kekacauan di tanah suci Mekah puluhan tahun lalu”.

Menganggap Muslim sebagai Kafir adalah Tanda Khawarij

Dalam website resminya www.binbaz.org.sa, Syekh Abdullah bin Abdullah bin Baz mantan Mufti agung Saudi Arabia mengatakan mengenai kelompok Khawarij yang menganggap muslim sebagai kafir “ini adalah kekeliruan dan kedangkalan pemahaman orang yang berpendapat seperti itu. Hal ini dikarenakan mereka memahami sunnah tidak sebagaimana mestinya. Mereka hanya berbekal semangat untuk melenyapkan kemungkaran sehingga tergelincir kepada hal yang justru bertentangan dengan syariat sebagaimana yang dilakukan Khawarij. Mereka hanya berbekal semangat untuk menegakkan kebenaran yang justru menjerumuskan mereka kepada kebatilan sehingga mereka berani mengkafirkan umat Islam hanya karena perbuatan maksiat mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang khawarij zaman dulu

Sementara itu pendapat Ahlu al-Sunnah yang benar adalah bahwa orang yang melakukan maksiat itu tidak menjadi kafir, karena kemaksiatannya sepanjang tidak menganggap halal kemaksiatannya. Apabila dia berzina mencuri dan meminum khamr maka semua hal ini tidak membuatnya menjadi kafir. Orang yang melakukan maksiat itu (dicap) sebagai orang yang imannya lemah dan menjadi orang fasik yang harus diperlakukan nya atasnya sanksi hukum.

Baca Juga:  Menjadi Muslim yang Ramah dengan Perbedaan

Dia tidak dianggap kafir kecuali jika dia telah menghalalkan kemaksiatan itu dengan mengatakan, “ini halal.” Pendapat khawarij mengenai hal ini adalah pendapat yang batil mengkafirkan mereka terhadap orang lain adalah batil. Mengenai mereka, nabi pernah bersabda, “sesungguhnya mereka tidak keluar dari agama, kecuali seperti lepasnya anak panah dari busurnya. Kemudian mereka tidak bisa kembali lagi kepadanya (agama Islam). Khawarij memerangi umat Islam tetapi membiarkan para penyembah berhala. “

Inilah kondisi kaum khawarij disebabkan oleh sikap ekstrem, kebodohannya, dan kesesatan mereka. Maka tidak pantas bagi kaum muda dan tua mengikuti kaum khawarij. Mereka justru harus mengikuti mazhab ahlussunnah waljamaah yang berdasarkan konteks dalil-dalil syariat. Mereka menerima teks bagaimana adanya. Mereka tidak membelot dari imam karena satu dan sejumlah kemaksiatan yang dilakukannya.

Golongan  ahlussunnah waljamaah bahkan menyampaikan nasihat melalui tulisan dan dialog dengan cara yang baik dan bijaksana serta adu argumentasi dengan cara yang lebih baik. Sehingga mereka pun selamat dan kejahatan pun berkurang atau hilang serta kebaikan pun menyebar.”

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

ilustrasi masjid tempat ibadah umat

Bersemangatlah dalam Beribadah (2): Cara Menghindari Kemalasan

Dalam tulisan sebelumnya, sudah dijelaskan betapa Allah SWT menganugerahkan kemurahan dan kemudahan kepada kita untuk …

ibadah

Bersemangatlah Dalam Beribadah (1): Tiada Kesukaran dalam Agama

Allah memerintahkan kita beribadah, pastilah itu bermanfaat dan baik untuk kita sendiri. Tak mungkin ada …