gaya politik khawarij
gaya politik khawarij

Waspada Gaya Politik Khawarij: Mengkafirkan Sesama Muslim

Gaya politik Khawarij adalah mengkafirkan sesama muslim karena perbedaan politik.


Dewasa ini tren mengkafirkan sudah menjadi lumrah bagi segelintir orang. Mereka tidak segan dan mudah menuduh tetangganya kafir, imamnya kafir, negaranya kafir, pemimpinnya kafir, mungkin saja orang tuanya kafir. Klaim kafir-mengkafirkan mudah terlepas dari mulut seseorang ketika melihat yang lain berbeda keyakinan, paham, aliran bahkan berbeda kepentingan politik.

Sebernanya fenomena mengkafirkan sesama muslim tidak pernah menemukan tempat bersemi dalam tradisi pemikiran Islam. Memang dalam sejarah tren mengkafirkan ini sempat muncul sebagai bentuk anomali keagamaan, tetapi telah laam dikubur dalam sejarah Islam. Lalu kenapa tren ini muncul lagi ke permukaan?

Mengkafirkan sesama Muslim Bid’ah Terbesar dalam Sejarah Islam

Tragedi besar dalam sejarah Islam bukan karena perbedaan pemikiran. Munculnya tragedi kemanusiaan dalam Islam yang berujung perpecahan dan pembunuhan sesama muslim karena diawali dengan klaim pengkafiran terhadap sesama muslim yang bersumbu dari perbedaan politik dalam Islam.

Tidak ada warisan pemikiran dalam literatur Islam tentang pengkafiran terhadap sesama muslim, kecuali keserampangan pemikiran itu dimulai oleh kelompok pembangkang bernama Khawarij. Itulah awal mula munculnya bid’ah terbesar dalam sejarah pemikiran Islam dan melekat menjadi sumber fitnah kemanusiaan sampai saat ini.

Sebelum munculnya Khawarij, perbedaan pemikiran bahkan konflik antar sesama umat Islam dalam memperebutkan kekhalifahan (politik) tidak pernah memunculkan tuduhan kafir.

Bahkan dalam puncak perang Siffin yang mempertemukan Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, Sayyidina Ali menegaskan peperangan itu sebagai persoalan politik semata (furu’), tidak ada kaitannya dengan akidah (ushul) yang menyebabkan seseorang jatuh dalam vonis kafir. Sayyidina Ali berkata:

“Kita telah bertemu di medan perang, sedangkan Tuhan kita satu, Nabi kita Satu, dan seruan kita dalam Islam satu. Kita tidak menganggap mereka kurang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasulnya dan mereka pun tidak menggap kita kurang. Semua perkara sama, kecuali apa yang kita perselisihkan tentang darah utsman…Sungguh demi Allah kita tidak memerangi penduduk Syam karena kekafiran dan perselisihan dalam agama…Sungguh mereka adalah saudara-saura kita dalam Agama”.

Itulah pandangan bijak sahabat Nabi yang mengganggap perbedaan dan pertikaian politik dalam kerangka furu’. Sekalipun sengitnya perselisihan terjadi hingga memakan korban, tetapi mereka memandang itu tidak bagian dari perbedaan keyakinan.

Para sahabat memang berselisih dan bertikai seputar khilafah danprosedurnya dalam mengurusi kehidupan umat dan pemimpinnya, tetapi mereka merasa tetap disatukan akidah tauhid; Tuhan mereka satu, Nabi mereka Satu, dan Al-Qur’an mereka adalah Iman dan petunjuk bagi semua. Tidak ada klaim pengkafiran di antara mereka, karena masih dalam kerangka persaudaraan seagama dan seiman.

Tidak Ada Warisan Keilmuan Ulama Salaf dalam Mengkafirkan Sesama Muslim

Tradisi pengkafiran (takfiri) yang marak dan menjadi penyakit bagi segelintir kelompok saat ini adalah lompatan pemikiran yang menyimpang dari tradisi para sahabat dan ulama salaf al-shalih. Bagaimana awal mula lompatan pemikiran yang menyimpang tersebut  terjadi?

Baca Juga:  Menelusuri Jejak Sejarah Penyematan Gelar Habib (Bagian 2)

Pemikiran takfiri telah sempat terkubur lama dalam sejarah Islam, karena tidak ada ruang lapang bagi pemikiran yang bercorak radikal-ekstrim tersebut.

Takfiri bangkit lagi dari kuburnya melalui seorang pemikir Islam yang sejatinya tidak pernah ingin memanggil tradisi pemikiran yang telah punah tersebut. Ust Abul A’la al-Maududi (1903-1979) dengan merefleksikan keadaan politik India yang didominasi oleh aturan yang dibuat manusia dalam hal ini kelompok penjajah Inggris dan Mayoritas Hindu dipandang menindas kelompok muslim yang hanya berkisar 25 persen dari penduduk.

Buah hasil refleksi dari kondisi memperihatinkan umat Islam di India sebelum mengalami pemecahan tersebut, mendorong al-Maududi mengangkat kembali slogan yang pernah popular diangkat oleh kelompok khawarij: “Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (Al-Maidah:44). Ayat yang berbicara persoalan otoritas (hakimiyah) ini telah menjadi landasan penting bagi lahirnya tradisi takfiri baik yang digunakan oleh Khawarij masa lalu ataupun kelompok khawarij masa kini (neo-khawarij).

Sayyidina Ali sudah menyangkal pemikiran Khawarij yang dilandaskan pada ayat hakimiyah tersebut dengan ungkapan yang sangat lugas: “itu adalah kalimat kebenaran yang dimaksudkan untuk kebatilan. Benar tiada kekuasaan (otoritas) kecuali milik Allah, tetapi mereka (khawarij) memaksudkan tiada kepemimpinan kecuali milik Allah. Padahal kaum muslimin harus memiliki pemimpin, baik maupun jahat”.

Saya ingin menggarisbawahi ungkapan yang sangat elegan dari Sayyidina Ali ini : itu adalah kalimat kebenaran yang dimaksudkan untuk kebatilan. Tepat sekali, apa yang menjadi kebiasaan kelompok khawarij masa lalu dan sekarang adalah menggunakan “kalimat kebenaran untuk kebatilan”. Persoalannya bukan ayat tersebut salah, karena seungguhnya ayat Qur’an tidak diragukan lagi kebenarannya, tetapi sungguh mereka telah menggunakan ayat kebenaran tersebut untuk kebatilan.

Hal ini mereka terapkan ketika mengadopsi pemikiran al-Maududi secara serampangan ke kondisi yang berbeda dengan kondisi India. Mereka melepaskan pemikiran Maududi yang sangat terikat dengan ruang dan zamannya dalam kondisi Arab yang mayoritas muslim hampir 96 persen ataupun diadopsi ke Indonesia.

Selain itu, mereka juga melupakan pemikiran al-Maududi pasca perpecahan India. Pada saat itu, Islam sudah menjadi mayoritas dan mendominasi di Pakistan 1947. Lalu Maududi berbicara lagi tentang otoritas Tuhan yang bersifat distributif kepada manusia.

Menurutnya, di dalam Islam, ada otoritas manusia yang dibatasi oleh kerangka prinsip ajaran Islam yang terwujud melalui lembaga legislatif, pembuatan Undang-undang dan sistem demokrasi yang dijiwai oleh prinsip-prinsip ajaran Islam. Lalu al-Maududi mengatakan “tidak ada orang berakal yang menantang demokrasi ini”.

Kelompok Khawarij modern memutus pemikiran al-Maududi hanya pada fase awal penolakannya pada otoritas selain otoritas Tuhan. Mereka menutup mata bahkan seakan mendzalimi pemikiran al-Maududi untuk dijadikan jubah dan topeng tindakan pengkafiran terhadap seluruh otoritas yang dibuat selain dari Tuhan.

Baca Juga:  Ihwal Islam Moderat vs Islam Radikal

Pada akhirnya mereka terkubur dalam kedangkalan pemikiran dan kebodohan dengan menyesatkan dan mengkafirkan seluruh aturan, perundang-undangan, negara, konstitusi yang dibuat manusia. Mereka tidak melihat pemikiran al-Maududi secara utuh dan dinamis.

Selain karena mereka lalai dalam membaca secara utuh pemikiran al-Maududi, tetapi sesungguhhnya biang keladi pemikiran takfiri karena kedangkalan pemikiran. Hujjatul Islami, Al-Ghazali pernah mengingatkan fenomena kelompok takfiri ini dengan mengatakan bahwa :

“terburu-buru melakukan pengkafiran biasanya merupakan kebiasaan orang yang dikuasai oleh kebodohan..Engkau harus menahan diri dari mengkafirkan sekte-sekte dan mencaci-maki para pemeluk Islam, merskipun jalan mereka berbeda, selama masih berpegang pada kalimat “la ilaha illallah Muhammad rasulullah”.

Kedangkalan pemikiran kelompok takfiri ini telah berlanjut di bawah kendali kelompok yang selalu mengkafirkan seluruh umat Islam dan negaranya. Ruang mereka sangat terbatas karena menganggap berbagai hal yang tidak sesuai dengan pandangan mereka sebagai kekufuran.

Entah mereka merasa nyaman atau terasing hidup di negara yang mereka tuduh sebagai negara kafir. Mereka terbelenggu oleh imajinasi kesucian dan kemurnian dirinya dengan cara mengkafirkan dan mencaci yang lain. Sungguh mereka selalu tersiksa oleh kebodohan dan kedangkalan pemikirannya, dan semoga Allah selalu memberikan mereka Petunjuk.

Waspada Gaya Politik Khawarij Masa Kini

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa sejarah pengkafiran sesama muslim bukan bermula dari perbedaan keyakinan, tetapi lebih pada perbedaan politik dalam Islam. Dalam sejarah Islam awal tidak pernah ditemukan budaya takfiri (mengkafirkan) sesama muslim karena perbedaan pemikiran dan pandangan dalam berijtihad.

Takfiri muncul pertama kali gara-gara persoalan politik dari proses tahkim antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Kelompok yang tidak sepakat dengan proses tahkim inilah yang memulai tradisi takfiri sesama muslim. Pada perkembangan berikutnya, muncul sejumlah hadist palsu dengan tujuan mencaci maki dan mendukung kelompok kepentingan dalam politik.

Tafsir ayat menjadi alat politik untuk menjustifikasi posisi kelompok masing-masing.

Sepertinya ulangan sejarah ini akan kembali. Gara-gara perbedaan politik orang akan mudah menyalahkan dan mengkafirkan sesama muslim. Dalam kontestasi politik di Indonesia, misalnya, modus ini muncul untuk menjegal kelompok lain dengan membawa Islam. Salah satu contoh yang sangat mencolok misalnya, istilah anti-Islam yang mendadak populer akhir-akhir ini.

Sebenarnya semangatnya sama antara dengan menghujat kafir terhadap kelompok lain dengan menyebut anti Islam. Esensinya sama-sama mendudukan bahwa pihak tertuduh sedang mengingkari, melawan dan memusuhi Islam. Penggunaan istilah saja yang berbeda, tetapi sama-sama menghujat.

Kata “anti” merupakan kata yang terikat yang bermakna melawan, menentang dan memusuhi. Apabila kata ini digabungkan menjadi anti Islam berarti orang atau kelompok yang melawan, menentang dan memusuhi Islam baik ajaran dan umatnya. Kata padanan untuk anti Islam sebagai kelompok yang menentang, melawan, memusuhi dan mengingkari adalah kata kafir.

Kalimat kafir digunakan dalam Islam memang beragam dari mengingkari ajaran Allah, mendustakan kenabian dan menutup diri dari keimanan Islam. Pengertian kafir secara akidah ini misalnya diterapkan pada kondisi di Makkah sebelum hijrah. Sementara kafir pada masa Madinah digunakan untuk mereka yang mengingkari perjanjian dengan Islam, menolak Islam, memusuhi Islam dan melawan komunitas Islam di Madinah.

Baca Juga:  Memahami Hakikat Kafir (1) : Definisi dan Sebab Kekafiran Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dengan demikian, sesungguhnya menyebut orang atau kelompok sebagai anti Islam sama saja sebagai bentuk halus dengan menyebutkan sebagai kafir dalam arti memusuhi, melawan dan mengingkari ajaran dan umat Islam. Orang yang menjustifikasi orang lain dan kelompok sebagai anti Islam tanpa bukti nyata sesungguh telah melakukan pendzaliman terhadap saudaranya sendiri sama muslim.

Sejarah munculnya slogan anti Islam di Indonesia sebenarnya sama dengan tradisi munculnya takfiri terhadap sesama muslim yang dimulai oleh perbedaan politik. Anti Islam dilekatkan pada korang bahkan pemerintahan yang dalam benak mereka memusuhi umat Islam. Padahal elemen untuk menjustifikasi orang atau pemerintah anti Islam tidak lebih sebagai propaganda politik dan itu sangat membahayakan.

Sejatinya kalau umat Islam saat ini mengetahui bahaya sebutan kafir terhadap sesama muslim juga harus segera menyadari sebutan anti Islam terhadap orang Islam itu sendiri. Bahkan sungguh fatal juga mengatakan pemerintah anti Islam dengan berbagai kebijakan yang masih menghormati Islam. Jangan karena perbedaan pilihan politik slogan anti Islam yang sama bahayanya dengan sebutan kafir mudah dilayangkan.

Anti Islam akhirnya adalah alat legitimasi berbasis keagamaan seperti khawarij yang menggunakan ayat qur’an karena ketidakpuasaannya dengan politik Ali dan Muawiyah. Apakah umat saat ini tidak menyadari kejamnya menuduh orang lain kafir?

Kejamnya menuduh kafir sesama muslim bahkan diibaratkan Nabi seperti membunuh. Nabi bersabda dengan tegas: Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya (HR Bukhari).

Melabeli orang sesama muslim dengan kafir sementara ia masih mengucapkan syahadat, menunaikan shalat dan mengerjakan perintah agama lainnya merupakan perbuatan yang sanga kejam. Kekejaman penyebutan kafir terhadap sesama muslim sekejam peyebutan anti Islam terhadap orang yang tidak memusuhi Islam.

Nabi pun telah memperingatkan bahwa : Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim). Orang yang rajin mengkafirkan orang lain sesungguhya apa kembali pada penuduhnya. Orang yang mudah mengatakan orang lain anti Islam sebenarnya ia telah bertindak anti Islam.

Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim. Selama ia masih mengucapkan syahadat dan menengakkan ajaran Islam, tidak boleh ada kata kafir. Hal yang sama umat Islam di Indonesia harus hati-hati dengan takfiri halus yang sering menyebut orang lain anti Islam.

Wallahu a’lam 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hari Kemerdekaan Agustus

Anugerah Allah SWT, Kemerdekaan Wajib Disyukuri dan Diisi dengan Kebaikan serta Kepatuhan kepada-Nya

Jakarta – Kemerdekaan adalah anugerah besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri. Kemerdekaan juga harus …

Ngatawi Al Zastrouw

Kunci Utama Orang Terjangkit Radikalisme Karena Pemahaman Agama yang Salah

Jakarta – Kunci utama orang bisa terjangkit virus radikalisme karena pemahaman agama yang salah dan …