gaya politik khawarij

Karakter Khawarij Generasi Milenial

Khawarij memiliki makna “mereka yang keluar”. Istilah khawarij ini muncul pada abad ke-1 H untuk menyematkan pada satu kelompok dalam sejarah Islam yang keluar dari ketaatan yang dilatarbelakangi oleh pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sofyan.

Bisa dipahami bahwa lahirnya kelompok ini sebagai bagian dari gejolak politik dalam Islam yang dilegitimasi oleh dalil keagamaan. Khawarij yang awalnya pendukung Sayyidina Ali menolak kesepakatan politik antara Ali dan Muawiyah.

Penolakan Khawarij sejatinya menjadi sangat biasa terjadi dalam dinamika politik. Namun, Khawarij mengangkat sikap politiknya begitu suci dengan mengambil ayat al-Qur’an. Sikap politik Khawarij menjadi sangat sakral bagi pengikutnya dengan legitimasi agama. Menolak kesepakatan dengan dalih sebagai hukum yang dibuat manusia. Dan barang siapa menetapkan hukum dan kebijakan tanpa hukum Allah kafir!.   

Pada prakteknya kemudian Khawarij adalah kelompok pertama dalam Islam yang melakukan bid’ah terbesar dengan mengkafirkan sesama muslim. Kelompok ini gemar menyalahkan kelompok lain yang tidak sealiran dan rela membunuh sesama muslim, bahkan Khalifah Ali sekalipun. Apakah mereka bukan kelompok yang taat beragama? 

Justru kelompok ini sangatlah taat dalam peribadatan. Mereka bisa sangat mungkin rajin beribadah dan hafal al-Qur’an, tetapi memahami teks keagamaan dengan dangkal sesuai kepentingannya. Itulah yang mereka juga pahami terhadap ayat tahkim yang kemudian menjadi doktrin mereka.  

Khawarij bagian dari sejarah Islam dan akan terus ada dalam sebagian kecil peradaban Islam. Semangat dan karakter Khawarij tidak akan pernah pudar baik dalam bentuk pemikiran, sikap dan tindakan. Tidaklah heran jika ada kelompok sekarang yang suka melakukan pembunuhan atas nama agama. Tidaklah heran jika saat ini ada kelompok yang suka mengkafirkan sesama muslim karena perbedaan.

Baca Juga:  Jangan Sekedar Ikut-ikutan, Ini Tolok Ukur Ulama yang Patut dijadikan Panutan

Begitupula tidaklah heran jika ada kelompok yang terus meneriakkan makar, bukan sekedar nahi munkar. Tidaklah heran jika generasi muda saat ini menjadi sangat terpukau dengan ajaran dan nasehat ala Khawarij yang sepadan dengan idealisme generasi muda yang ingin selalu memberontak. Itulah adalah warisan sejarah dalam Islam bahwa ada kelompok semacam itu dalam peradaban ini.

Maka, penting sekali bagi generasi milenial saat ini untuk mengenali karakter ajaran Khawarij ini agar tidak hanya termakan dengan doktrin keagamaan mereka yang sangat dangkal dan cenderung destruktif. Pertama, karakter pembangkangan. Kelompok Khawarij sedari awal tidak akan mengakui ulul amri yang sah. Sebab, ketaatan hanya kepada pemimpin mereka yang dinilai memerintah sesuai dengan syariat.

As-Syahrastani dalam karyanya al-Milal wan-Nihal mendefinisikan Khawarij merupakan sekumpulan orang yang keluar menentang pemimpin yang telah diputuskan oleh masyarakat. Penentangan tersebut bukan hanya tejadi di masa khulafa ar-rasyidin, tetapi juga para pemimpin di setiap zaman sekarang.

Kedua, politik tanpa komromi dan rekonsiliasi. Bagi kelompok ini rekonsiliasai dan upaya damai bukan sesuatu yang bisa diterima. Dalih mereka semua keputusan harus berlandaskan hukum Allah bukan kesepakatan manusia.

Ketiga, pandangan kafir terhadap yang berbeda. Inilah yang sangat berbahaya dari kelompok ini dan cenderung digemari generasi muda. Mereka tidak segan menyematkan kafir terhadap mereka yang berbeda dan dianggap musuh.

Keempat, doktrin melawan pemerintahan yang sah. Pemerintah yang sah bukan hasil kesepakatan manusia, tetapi diteggakkan dengan hukum Allah. Pemerintah dengan hukum manusia adalah pemerintahan yang kufur. Dan setiap kekufuran harus diperangi dan halal darahnya, termasuk khalifah pada masanya.  

Itulah karakter dan pemahaman Khawarij yang sejatinya bukan hilang. Pemahaman ini bisa mengidap pada kelompok saat ini walaupun tidak dikategorikan Khawarij. Pemikirannya akan begitu mudah masuk pada generasi milenial yang memang tidak dilengkapi dengan pemahaman keagamaan yang cukup, tetapi semangat beribadah. Mereka akan mudah terpukau dengan doktrin tahkim dan takfir yang bisa memandang apapun yang berbeda untuk dilawan.

Baca Juga:  Filosofi Lambang Bintang dalam Sila Pertama Pancasila Menurut KH. Maimun Zubair

Bisa juga dalam konteks kekinian semangat dan karakter itu tidak muncul di dunia nyata. Ia justru hadir secara massif di ruang maya. Dengan berbagai ajaran melalui postingan dan komen yang selalu menganggap berbeda itu musuh dan pemerintah yang sah harus digulingkan. Pembangkangan itu sudah banyak ditemui di dunia maya yang banyak dihuni generasi milenial.

Sepanjang sejarah Islam, kelompok Khawarij akan selalu ada dan menjadi benalu bahkan duri peradaban Islam. Mungkin keberadaannya tidak terdeteksi dalam aliran, kelompok atau individu tertentu. Namun, generasi milenial akan merasakan betapa dahsyatnya ajaran mereka dari pembangkangan terhadap pemerintahan yang sah hingga mengkafirkan yang berbeda pandangan. Meskipun perbedaan politik.

Maka, generasi muda saat ini harus bisa mewaspadai pola dan karakter Khawarij kekinian di era medsos. Atau anda lebih senang menyandang bagian dari Khawarij Milenial?

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar