Kisah Isra Mi’raj yang Jarang Diungkap: Jabal Qaf dan Perjumpaan Spiritual Nabi dengan Sisa Kaum Bani Israil

0
2197
jabal qaf

Seusai safari mi’raj dari sidrah al-Muntaha di lapis langit ketujuh, di tengah perjalanan menuju bumi, Rasulullah menyaksikan panorama yang teramat indah. Layaknya blue fire, tampak sinar biru membelah angkasa raya.

Terpesona dengan panorama itu, Rasulullah ajak Jibril mengunjunginya. Dan ternyata, sinar biru itu adalah gundukan gunung besar, bernama Gunung Qaf atau Jabal Qaf.

Al-Alusi mengilustrasikan Jabal Qaf sebagai Gunung halimunan yang tak nampak oleh mata biasa. Itulah, gunung misterius yang jarang orang tahu.Jabal Qaf adalah sejenis gunung berlapis hingga tujuh puluh lapis, dengan model yang persis sama. Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa warna biru langit berasal dari pantulan cahaya biru Jabal Qaf (Tafsir al-Alusi, 5/443. Tafsir al-Adib, 5/177).

Cerita rasul di malam Mi’raj. Aku melihat sebuah Kota kecil yang Indah. Tanahnya berdebu putih seperti perak. Berkilau seperti kaca. Kota itu hunian bagi manusia seperti umumnya.

Tatkala penghuni Kota itu melihatku, mereka serempak berkata: segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kesempatan bisa melihat secara langsung wajahmu, Wahai Nabi Muhammad. Mereka kemudian menyatakan keimanannya kepadaku.

Lalu aku ajarkan mereka hukum-hukum syari’at Allah. Lalu aku bertanya kepada Mereka: “siapakah kalian ini?”. “Kami adalah kaum Bani Israil”. Jawab mereka. “Tapi kenapa hidup di tempat ini?” Tanya Nabi Muhammad.

Mereka mulai bercerita. “Ketika Nabi Musa wafat, terjadi perselisihan sengit di antara Kaum Bani Israil. Huru-hara terjadi di mana-mana. Mereka membasmi seluruh pemuka agama. Demi menyelamatkan diri, kami berusaha keluar dari daerah kami hingga kami sampai di tepi pantai.

Mereka melanjutkan: Kami bingung hendak bersembunyi di mana lagi. Di depan lautan. Di belakang ada Kaum Bani Israil yang sial mencingcang kami. Di tengah kebingungan kami itulah, kami berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kami dari ancaman Bani Israil.

Tiba-tiba, tanah yang kami injak, amblas. Anehnya, kami merasa di ruangan bawah tanah yang pengap. Selama delapan belas bulan kami hidup dalam ruangan bawah tanah. Sebelum kemudian kami menemukan celah untuk keluar. Dan tibalah kami di tempat ini. Namun sebelum Nabi Musa wafat, Beliau berwasiat. Agar menyampaikan salamyya kepadamu wahai Nabi Muhammad.”. Mereka mulai mengakhiri kisahnya.

Nabi lalu bertanya lagi:” aku melihat rumah kalian tidak ada pintunya?”kenapa?

Mereka menjawab:” kami walaupun bukan saudara, tapi kami seperti saudara. Hati dan jiwa kami terpatri dalam satu perasaan yang sama. Kami tidak pernah khawatir akan terjadi tindak kejahatan di antara kami.

Kenapa rumah ibadah kalian bangun jauh dari rumah rumah kalian? Tanya Rasul. Dalam keyakinan kami, seseorang yang mendatangi rumah ibadah dari tempat yang jauh, akan mendapatkan pahala yang jauh lebih banyak dari pada seseorang yang mendatangi rumah ibadah dari tempat yang dekat. Jawab mereka.

Aku melihat kuburan di tempat ini sangat dekat dengan rumah-rumah penduduk, bahkan, ada di depan bangunan rumah mereka? Tanya rasul. “Agar kami setiap saat dapat melihat kuburan itu, hingga kami tidak disibukkan lagi dengan dunia dan melupakan kematian” jawab mereka.

“Kenapa penduduk kota ini jarang tertawa terbahak bahak” rasul kembali bertanya. “Bagi kami tertawa terbahak-bahak hanya akan membuat hati kami gelap gulita. Oleh karena itu kami tidak pernah tertawa terbahak bahak” itulah jawaban mereka.

Rasul kembali bertanya : apakah penduduk kota ini ada yang terserang penyakit? Penyakit itu penebus dosa, kami tidak pernah melakukan dosa. Apakah kalian bercocok tanam? Ya wahai Rasul, namun kami mendatangi sawah kami saat tanam saja. Sehabis itu, kami biarkan tanaman kami, kami pasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Saat panen tiba, baru kami beramai ramai mendatangi sawah kami. (Syarah Hamami Yasin, Hamami Zadah, 11-12).

Mungkin umat modern selalu merasa cemas akan masa depan mereka. Era globalisasi menuntut mereka untuk melakukan antisipasi masa depan. Mereka selalu merasa terancam. Karena pupusnya kepasrahan kepada Tuhan.

Cerita di atas mengajari kita untuk tidak selalu merasa cemas, apalagi terancam dengan masa depan. Karena bila kita menyakini, bahwa hidup berada dalam pengaturan Tuhan. Maka, logikanya, kita tidak perlu repot untuk mengatur hidup ini.