Mawali Umayah
Mawali Umayah

Para Mawali Pada Masa Dinasti Umayyah

Pada masa sebelum Islam datang, kata mawali diartikan sebagai budak yang telah dimerdekakan atau tuan yang telah memerdekakannya. Oleh karena itu kata mawali memiliki makna ganda yang kontradiktif yakni sebagai hamba/budak dan sebagai tuan. Meskipun demikian, pada saat itu juga kata mawali mulai digunakan untuk menyebut orang asing (non arab yang merdeka). Terakhir, seiring berjalannya waktu, sebutan mawali lebih akrab disematkan kepada orang-orang Islam non Arab.

Pada periode kekuasaan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, masyarakat terbagi ke dalam empat kelas. Kelas pertama ditempati oleh orang-orang muslim Arab, disusul mawali (orang Islam non Arab), orang-orang dzimmi (non Islam) dan terakhir budak. (Dudung Abdurrahman, 2016). Kaum mawali ini semakin bertambah banyak seiring dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Dinasti Umayyah.

Sukon Saragih mengungkapkan bahwa mayoritas mawali memeluk Islam untuk menghindari pajak dan ingin hidup sederajat dengan yang lainnya, utamanya muslim Arab. Akan tetapi, harapan itu pupus, karena mereka dimanfaatkan untuk memperkuat pasukan kaum muslimin dalam penyerangan ke berbagai wilayah taklukan dan ditugaskan untuk menjadi pengawal, baik dalam kedaaan damai atau pun dalam keadaan perang.

Dalam buku Sejarah Sosial Umat Islam, Ira M Lapidus menyebut bahwa walaupun mawali menjalankan berbagai tugas profesional di medan perang, adiministrasi pemerintahan, perdagangan, obat-obatan dan di bidang kehidupan keagamaan, mereka tetap menempati kelas sosial yang inferior. Selain itu, pemerintahan Dinasti Umayyah juga bersikap diskriminatif terhadap mereka. Faktor diskriminasi tersebut lah yang nantinya membuat mawali berontak kepada Dinasti Umayyah.

Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, mawali memang dianggap masyarakat kelas dua. Akan tetapi, mereka memiliki peran penting pada masa tersebut. Mereka ikut berperan dalam pemerintahan Islam, baik di ibukota Damaskus maupun di provinsi-provinsi. Mereka ada hampir di semua pemerintahan yang penting, misal Departemen Keuangan (Diwan al Kharaj), Departemen Surat Menyurat (Diwan al-Rasail).

Baca Juga:  Harmonisasi antar Agama di Abad Pertengahan Islam

Selain itu, ada juga beberapa mawali yang diangkat menjadi gubernur di beberapa provinsi. Sebagai contoh, Abdul Mahaji Dinar yang merupakan mawali dari Maslamah bin Al Mukhallad (Amir di Mesir) ditunjuk menjadi Gubernur Afrika Utara selama pemerintahan Muawiyah. Salah seorang cucunya, Abdullah bin Abil Muhajir juga diangkat menjadi Amir di Maghrib dari tahun 100-101 H (718-7120 M)

Beberapa mawali yang diangkat menjadi Gubernur tersebut sudah barang tentu memiliki peran yang tidak sedikit. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga kestabilan daerah yang dipimpin. Sebagai pemimpin, mereka juga mempunyai kewajiban untuk mengatur dan mensejahterakan rakyatnya. Tentu saja, mawali yang menjadi gubernur jumlahnya tidak banyak, tapi mereka telah turut memberikan peran dalam sejarah perkembangan Islam.

Selain menjadi gubernur, ada seorang mawali yang sudah merdeka bernama Maimun bin Mihram diangkat menjadi Direktur di Departemen Keuangan di Mesopotamia (jazirah) oleh Umar bin Abdul Aziz. Kemudian ada nama Abdul Malik, Syu’aib al-Sabi di Departemen Khatam. Di Departemen Rasail, juga ada beberapa nama mawali yang bertugas di sana seperti al-Laith bin Abi Rugayah, Rusydain, Salim dan lain sebagainya.

Mawali tidak hanya berperan di bidang administrasi pemerintahan Umayyah. Mereka juga memiliki peran di bidang militer sebagai pasukan perang untuk menaklukan daerah-daerah. Menurut Thabari, ada 20.000 serdadu mawali dalam tentara Umayyah di Khurasan tahun 100 H (718-719 M). Meski mawali memiliki peran besar dalam proses penaklukan-penaklukan, mereka yang ikut berperang tidak dihargai sama sekali oleh pemerintah. Mereka tidak mendapatkan upah dan perbekalan. Jumlah ghanimah yang mereka terima juga sangat minim dibandingkan dengan pasukan muslim Arab.

Selain di bidang pemerintahan dan militer, mawali juga ada yang menjadi ilmuwan. Pasa masa sahabat dan tabi’in, para ilmuwan didominasi oleh kalangan muslim arab. Hal itu berbanding terbalik pada masa Umayyah yang mulai bermunculan para ilmuwan dari kalangan mawali. Pelan-pelan ilmuwan mawali ini menggeser dominasi ilmuwan muslim arab.

Baca Juga:  Meneladani Cara Rekonsiliasi Nabi Muhammad Saw

Nama-nama ilmuwan dari mawali yang muncul pada masa Dinasti Umayyah misalnya Sulaiman bin Yasar, ayahnya adalah mawla Maimunah istri Rasulullah. Ada juga nama Mujahid bin Jabr yang merupakan mawla dari Bani Makhjum, Ikrimah, Atha’ bin Rabah. Di Kufah ada Said bin Jubair, Muhamad bin Sirin, Hasan Basri. Sementara di Syam ada Mahkal bin Abdullah. Di Mesir ada Yazid dan Habib. Mereka semua adalah para budak dan keturunannya.

Pada masa Umayyah, hampir semua khalifahnya memakai hajib atau penjaga pintu istana. Seorang hajib ini memiliki tugas melakukan pemeriksaan terhadap tamu khalifah dan juga berperan dalam menentukan seorang tamu bisa menemui khalifah atau tidak. Umumnya, para khalifah mengangkat mawali untuk menempati posisi ini. Hajib-hajib mawali ini menempati posisi yang terhormat di Istana Umayyah. Sebab, mereka mengabdi dengan penuh kesetiaan kepada tuannya. Mereka juga mendapatkan gaji dengan baik karena pelayanan yang mereka berikan.

Demikian peran orang-orang mawali pada masa Dinasti Umayyah. Walaupun dinomorduakan oleh pemerintah, mereka memiliki jasa yang tidak sedikit dalam sejarah peradaban Islam.

Bagikan Artikel

About Nur Rokhim

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY