Protes RUU Larangan Jilbab, Guru-guru Non-Muslim di Swedia Serentak Pakai Jilbab

0
3323

Stockholm – Kejahatan rasial dan Islamofobia di Eropa terus meningkat. Hal itu memicu simpatik dari berbagai kalangan terhadap umat Muslim.

Seperti yang terjadi Swedia. Pemerintah Swedia saat ini tengah menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) yang melarang semua bentuk penutup kepala umat Muslim. RUU itu pun menuai protes. Bahkan guru-guru non-Muslim pun ikut melakukan protes dengan serentak memakai jilbab.

Guru-guru non-Muslim di Sekolah Prästamosseskolan Swedia mendefinisikan kembali koeksistensi dan solidarita. Mereka berangkat di tempat kerja dengan mengenakan jilbab. Ini adalah bentuk protes terhadap larangan jilbab yang mulai berlaku di kota mereka dalam enam bulan ke depan.

Para pendidik secara kolektif mengirim pesan ketidaksetujuan peraturan yang pemerintah Kotamadya Skurup, Swedia, setelah menyetujui RUU yang melarang semua bentuk tutup kepala Muslim di sekolah dasar dan prasekolah.

Dikutip dari laman Lancashire Telegraph, larangan itu disahkan pada bulan Desember dan berdampak pada wanita Muslim yang mengenakan jilbab, burqa, dan niqab.  

“Para siswa menjadi bersemangat ketika mereka melihat bahwa kami memakai kerudung. Mereka merasa bahwa kami mendukung mereka, ”ujar Marit, salah satu guru yang memprotes larangan itu.

Saat ini, komunitas Muslim berjumlah 8,1 persen dari total populasi Swedia. Sekitar 800.000 orang beragama menyebut negara itu rumah mereka, menurut Pew Research Center.

Meskipun Swedia tidak memberlakukan larangan jilbab di tingkat nasional, beberapa kota di seluruh negeri malah tetap memaksakan peraturan tersebut.

Pada 2016, serangan terhadap seorang wanita Muslim berjilbab yang sedang hamil di Stockholm memicu seruan pada wanita Swedia dari semua agama untuk mengenakan jilbab, sebagai bentuk dukungan terhadap hak-hak Muslim.

Kota Gävle di Swedia tengah juga mendukung kampanye iklan pada bulan Februari 2019 untuk merayakan keberagaman dengan memposting foto seorang wanita Muslim hijabi. Islam melihat jilbab sebagai kode berpakaian wajib, bukan simbol agama yang menunjukkan afiliasi seseorang.

Tinggalkan Balasan