Aksi dan tindakan kekerasan masih menjadi ancaman Indonesia Beberapa persitiwa kekerasan dengan motif intoleransi diskriminasi kerap terjadi di masyarakat baik terhadap golongan minoritas maupun kekerasan atas justifikasi kesesatan pandangan dan keyakinan orang lain Kekerasan bisa muncul dengan berbagai bentuk misalnya karena perbedaan agama perbedaan suku maupun perbedaan golongan Hal yang lebih miris lagi kekerasan terjadi karena perbedaan pilihan politik bahkan menyebabkan orang saling membunuhKekerasan di Indonesia bukan barang baru Berbagai penelitian pernah dilakukan misalnya SETARA Institute yang mencatat tahun 2018 saja ada 109 tindakan intoleransi dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan KBB Kemudian Wahid Institute juga pernah mencatat ada 11 juta orang yang bersedia melakukan kekerasan atas nama agama Data ini menjadi sesuatu yang sungguh mengkhawatirkan jika langkah langkah antisipatif dan preventif tidak segera dilakukan Berikut Data kekerasan berbasis agama sepanjang tahun 2018 1 Pura di Lumajang dirusak orang tak dikenal2 Penyerangan terhadap ulama di Lamongan3 Perusakan masjid di Tuban4 Ancaman bom di kelenteng Kwan Tee Koen Karawang5 Serangan Gereja Santa Lidwina Sleman6 Persekusi terhadap Biksu di Tangerang7 Dua serangan brutal terhadap tokoh IslamBerbagai upaya telah dilakukan pemerintah misalnya dengan memberikan edukasi kepada masyarakat dengan memberikan pemahaman nilai keberagaman toleransi kebhinekaan agar masyarakat memiliki pemahaman yang inklusif Masyarakat harus juga ditempa untuk memiliki imunitas diri agar terhindar dari ajakan dan aksi kekerasan apalagi atas nama agama Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya melalui Kejaksaan Agung institusi negara yang diberikan kewenangan dalam mengawasi aliran kepercayaan dan keagamaan masyarakat membuat sebuah aplikasi yang dinamakan Smart Pakem Aplikasi ini merupakan pengejawantahan tugas Kejaksaan Agung sesuai dengan Peraturan Perundang undangan dalam rangka keamanan dan ketertiban umum yang memiliki tugas pengawasan aliran kepercayaan dan keagamaan masyarakat Atas dasar itu kemudian Kejaksaan Agung menerbitkan Surat Keputusan Jaksa Agung Indonesia Nomor KEP 004 A JA 01 1994 tentang pembentukan Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagaman serta pembentukan Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan Masyarakat pada tanggal 16 September 2015 Baca juga Mengembalikan Fungsi MasjidAplikasi ini dapat diunduh secara bebas oleh masyarakat umum di Google Play store dan situs Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Aplikasi ini memiliki fitur keagamaan kepercayaan serta informasi daftar nama pimpinan ormas wilayah jumlah pengikut dan adanya fitur laporan yang menyediakan data diri pelapor dan subjek laporan Berikut konten aplikasi Smart Pakem dalam kolom Aliran Kepercayaan 1 Paguyuban Penghayat Kapribaden Jakarta Utara 2 Paguyuban Sumarah Jakarta Selatan 3 Himpunan Amanat Rakyat Indonesia Jakarta Selatan 4 Mangudi Kawruh Roso Sejati Jakarta Selatan 5 Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat Indonesia Murni Jakarta Selatan Dari 16 nama organisasi aliran kepercayaan yang tercantum hanya 2 organisasi yang tertulis mempunyai pengikut Pada kolom Organisai Kemasyarakatan Ormas terdapat beberapa data semisal 1 Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kreatifitas Pemuda Bangsa Jakarta Barat 2 Lembaga Pengkajian Keuangan Pemerintah Jakarta Barat 3 Barisan Muda Demokrasi Indonesia Kepulauan Seribu 4 Lembaga Pengembangan Potensi Pariwisata dan Konservasi Kelautan Kepulauan Seribu 5 Dewan Pimpinan Wilayah Terminal Aspirasi Jakarta Kepulauan Seribu Menurut Agung Mukri Juru bicara Kejagung aplikasi ini dibuat untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang macam macam aliran kepercayaan dan juga keagamaan di Indonesia Termasuk di dalamnya terdapat daftar aliran sesat oleh pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia MUI Membuka Celah Kebebasan atau Intoleransi Aplikasi ini menuai kontroversi dan polemik karena dianggap justru memberikan celah kepada radikalisme agama dan menjadi pemicu tindakan intoleransi serta diskriminasi terhadap kelompok minoritas Salah satu protes misalnya dari Yayasan Lembaga Bantuan hukum Indonesia YLBHI dalam siaran persnya yang menyatakan adanya aplikasi ini malah akan memicu peningkatan konflik di antara masyarakat dan membuat kelompok atau individu penganut agama atau keyakinan yang dituduh sesat semakin rentan keselamatannya baik jiwa maupun harta bendanya Secara tegas YLBHI bahkan mendesak pemerintah untuk menghapus aplikasi tersebut Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengkhawatirkan keberadaan app tersebut justru menambah potensi pelanggaran kebebasan beragama Senada dengan ungkapan tersebut juru bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia JAI Yendra Budiana mengatakan peluncuran aplikasi akan membuat orang saling mencurigai dan menambah potensi konflik serta merusak dialog antar kepercayaan yang sudah mulai dibentuk di masyarakat Terlepas dari kontroversi aplikasi ini pada prinsipnya Islam melarang tindakan kekerasan tindakan main hakim sendiri dan tindakan mengkafir kafirkan orang lain Lalu apakah adanya aplikasi ini merupakan kemajuan atau justru kemunduran Di tengah maraknya intoleransi diskriminasi kekerasan ujaran kebencian dan fitnah apakah aplikasi memberikan solusi atau justru negara secara tidak langsung memberikan celah bagi kelompok pecinta kekerasan dan radikal untuk melakukan persekusi terhadap aliran dan kepercayaan yang dianggap tidak sama dengan kelompoknya Atau memang sudah begitu berbahayanyakah aliran kepercayaan atau yang dikatakan sesat sehingga aplikasi ini menjadi urgen Persoalan keyakinan dan kepercayaan adalah seperti seseorang yang mengenakan pakaian atau baju Apakah merasa pas atau tidak di tubuhnya karena terkait dengan cara orang tersebut hidup pandangan dan wawasan dunianya world view Islam memandang perbedaan sebagai rahmat dan sebagai Sunnatullah Keberagaman adalah keniscayaan yang telah Allah berikan di muka bumi bahkan Islam melarang keras segala bentuk pemaksaan dan tindakan main hakim sendiri meskipun itu terhadap orang yang dianggap bersalah menuding orang lain apalagi dilakukan dengan cara kekerasan Sebagaimana Allah Ta ala berfirman Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan QS Al Baqarah 256 Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku 6 QS Al Kafirun 6 Semoga saja aplikasi ini bersifat edukatif Artinya ada pencerdasan dan ruang dialog masyarakat ketika ada perbedaan pandangan dan pemahaman Masyarakat diberikan pengetahuan yang luas tentang banyaknya perbedaan di tengah tengah kehidupannya Dengan informasi yang ada membawa masyarakat memiliki wawasan keberagaman Hal yang perlu di waspadai adalah jangan sampai aplikasi ini jangan justru menjadi alat justifikasi untuk saling menghakimi dan menuduh yang berujung pada kekerasan atau jangan sampai aplikasi ini malah dijadikan alat legitimasi radikalisme dalam melakukan gerakan gerakan tudingan terhadap kelompok kelompok di masyarakat

Tinggalkan Balasan