Tidak usah terlalu terjebak dengan hal kontroversial dengan selalu fokus tentang apakah merayakan tahun baru haram atau tidak. Carilah ruang dan celah yang lebih bermakna tentang tahun baru. Bukan tentang persoalan hukumnya, tetapi bagaimana kita menyeleraskan diri dengan perubahan waktu.
Islam adalah agama yang sangat menghargai waktu. Ibadah dalam Islam menggunakan siklus waktu ke waktu dari jam, hari, bulan dan tahun. Waktu menjadi patokan dan tanda untuk beribadah dan menyembah Allah. Ada waktu yang sangat istimewa dan ada pula waktu yang dilarang untuk beribadah.
Waktu sumber daya alam yang terbatas karena ia tidak mampu diulang kembali. Hal yang tertinggal hanya bisa diganti, tetapi tidak bisa diulang kembali. Merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu. Al-Quran memperingatkan manusia dalam surat Al- Ashar 1-3 agar tidak menjadi orang yang merugi.
Rasulullah pernah memberikan gambaran secara detail tentang siapa yang beruntung dan merugi dalam arus gerak waktu. “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Al Hakim).
Hadist ini memiliki pelajaran penting tentang menghargai waktu dan berintropeksi diri dalam menjalani waktu. Waktu kemaren dan hari ini menjadi satu ukuran tentang orang yang beruntung dan merugi. Apa yang membedakannya adalah persoalan kebaikan. Apakah hari ini sudah lebih baik dari kemaren? Waktu menjadi patokan untuk kebaikan.
Hikmah dari pergantian waktu adalah intropeksi. Sudahkah hari ini lebih baik dari kemaren? Ketika seorang berintropeksi berarti dia menjadikan waktu sebagai pelajaran penting. Pelajarn bagi dirinya untuk melangkah dengan lebih baik. Karena itulah, Tuhan berfirman : “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62).
Gerak waktu adalah pelajaran penting bagi manusia. Sekaligus waktu adalah ruang untuk selalu mensyukuri nikmah Tuhan. Kehidupan ini dari waktu ke waktu adalah nikmat Tuhan. Jangankan sembuh dari penyakit, hidup normal dengan tidak sakit dan tidak ditimpa bencana adalah nikmat Tuhan. Sayangnya manusia hanya bersyukur atas waktu ketika ia lepas dari masalah dan bencana. Dalam waktu yang luang dan kosong ia selalu merasa tidak ada peran Tuhan dalam kesehariannya.
Karena itulah, Nabi memperingatkan kepada manusia untuk selalu bersyukur tentang waktu. “Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412). Waktu adalah anugerah dan nikmat. Hargailah dan syukurilah waktu yang terus berjalan dengan beribadah dan berbuat kebaikan.
Bagaimana menysukuri waktu dengan baik sebelum waktu itu menjadi hilang dalam kehidupanmu? “Manfaatkanlah lima sebelum lima: waktu muda sebelum tua, kesehatan sebelum sakit, kesempatan luang sebelum sibuk, kehidupan sebelum mati, dan kekayaan sebelum miskin.” (HR. al-Hakim).
Kembali pada pergantian waktu dan menyambut tahun baru, persoalan yang penting untuk kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri, apakah waktu mud akita sudah dimanfaatkan dalam kebaikan? Apakah waktu sehat kita sudah dimanfaatkan pada kebaikan? Apakah waktu senggang kita sudah dimanfaatkan untuk kebaikan? Apakah kehidupan dan kekayaan ini sudah dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan?
Tahun baru adalah pelajaran sekaligus bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan. Selamat Tahun Baru semoga kita menjadi orang yang beruntung.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah