anak band
anak band

Konsultasi Syariah : Saya Anak Band, Haruskah Saya Keluar dari Band karena Musik itu Haram?

Assalamualaikum,

Saya mau nanya ustadz. Saya sudah lama memiliki hoby bermusik dan sudah lama membentuk grup musik band. Saya mulai ingin mendalami agama, tetapi katanya jika ingin mendalami agama harus lepaskan semua kebiasaan buruk, termasuk bermusik. Saya mau tanya apakah memang musik itu haram? Dan apakah saya harus keluar dari band itu?

Ricki Edianto, Jkt


Waalaikum salam wr. Wb.

Semoga rahmat dan taufik Allah selalu menyertai saudara Ricki. Terima kasih atas pertanyaannya. Dan saya kira I’tikad saudara untuk mendalami Islam sangatlah mulia dan harus terus istiqamah dijalani. Tentu tidak harus drastis dan frontal, tetapi selami ajaran dan nilai Islam di samping rajin dalam ritualnya.

Untuk pertanyaan saudara saya ingin memulai dari persoalan musik dalam Islam. Musik adalah sederet irama, lagu, nada, dan keharmonisan. Utamanya dari suara yang terlantun berdayu-dayu sebagai hasil dari alat-alat. Walaupun musik adalah sebentuk fenomena intuisi manusia, hingga mampu mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya.

Namun sesungguhnya musik adalah seni. Mendengar musik mampu menyuguhkan hiburan, bahkan suatu keindahan. Musik adalah sebuah fenomena yang sangat unik yang bisa dihasilkan oleh beberapa alat musik. Lantas bagaimana sebenarnya agama memndang musik ini?

Ada dua persoalan yang cukup mendasar.Pertama, bagaimana Islam menilai perbuatan bernyanyi dan mendengarkan nyanyian. Kedua, bagaimana pula Islam melihat perbuatan bermain musik. Ketiga, alat musik apa saja yang diharamkan?

Untuk persoalan pertama. Sesungguhnya hukum musik sudah menjadi persoalan klasik yang masuk dalam ranah khilafiyah. Terdapat dua fatwa hukum berbeda; boleh (mubah) dan tidak boleh (haram). Para Ulama’ yang mengharamkan bernyanyi adalah sebagian Ulama’ Hanabilah. Mereka mendasarkankannya pada  hadits Nabi Muhammad saw.

عن عبد الله بن مسعود , قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” اَلْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ , كَمَا يُنْبِتُ الْمَآءُ الْبَقْلَ

Artinya : Dari Abdullah Ibn Mas’ud berkata: Rasulullah bersabda: “ bernyanyi bisa menimbulkan nifaq (kemunafikan) dalam hati seperti halnya air yang mampu menumbuhkan sayuran (kacang)”. HR. al-Baihaqi, No. 19544.

Hadits ini dikuatkan oleh sejumlah ayat Alqur’an seperti surah Isra’ ayat 64 :

وَاسْتَفْزِزْ مِنْ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمْ الشَّيْطَانُ إلَّا غُرُورًا

Artinya : Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

Baca Juga:  Batalnya Puasa yang Disepakati Ulama dan yang Diperselisihkan

Ibnu ‘Arabi memberikan tafsiran terhadap “Suara” dengan ajakan dan nyanyian yang dilantunkan dengan diiringi seruling. Sementara Ibnu Abbas menafsirkan berbeda. Menurutnya, “suara” yang dimaksud ayat di atas adalah setiap hal yang bisa mengarahkan kepada kemaksiatan. (Ahkam al-Qur’an, 5/275)

Sementara menurut sebagian Ulama’ Hanafiyah, Malikiyyah dan Hanabilah, bernyanyi dan mendengarkan nyanyian hukumnya mubah. Sementara di sisi yang lain  menurut Madzhab Syafiiyah hukumnya cuma makruh. Artinya, lebih baik tidak bernyanyi dan mendengarkannya (Fiqh al-Islam waadillatuh, Wahbah al-Zuhaili. 4/212).

Fatwa hukum ini berdasarkan hadits Nabi :

عن عائشة ، قالت : دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وعندي جاريتان تغنيان بغناء بعاث ، فاضطجع على الفراش ، وحول وجهه ، ودخل أبو بكر ، فانتهرني وقال : مزمارة الشيطان عند النبي صلى الله عليه وسلم ، فأقبل عليه رسول الله عليه السلام فقال : ” دعهما ” ، فلما غفل غمزتهما فخرجتا

Dari ‘Aisyah berkata: Rasul masuk ke kamarku, sementara di dekatku ada dua hamba sahaya sedang bernyanyi tentang bu’ats . Lalu Rasul berbaring dan memalingkan mukanya. Kemudian Abu bakar masuk dan mendampratku, sambil berkata: (awas!) ada seruling syetan di dekat Rasul! Rasul kemudian berbalik menghadap Abu bakar dan bersabda: biarkan mereka (tetap bernyanyi). Setelah Abu Bakar berlalu aku menyuruh kedua budak itu keluar, lalu keduanya keluar (HR. bukhari No. 2771).

Pembiaran Rasulullah terhadap praktik bernyanyi, sama artinya dengan signal kebolehan bernyanyi. Tak heran bila Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa bernyanyi adalah hiburan yang mampu memberikan ketentraman jiwa, mendamaikan hati, menyegarkan fikiran. Bernyanyi boleh dilakukan senyampang tidak mengandung fahsyi (kekejian), cabul, tidak mengarah kepada perbuatan maksiat (Al-Halal wa al-haram fi al-Islam, 291).

Untuk persoalan kedua, bagaimana pandangan Islam soal musik? Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa musik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dari bentuknya yang paling sederhana musik mengalami perkembangan yang cukup pesat, berputar mengikuti perkembangan era. Dan kini dunia musik mencapai karir klimaksnya dan sangat mencengangkan. Nyaris tidak ditemukan kehidupan manusia dengan segala dimensinya yang luput dari intervensi musik.

Baca Juga:  Kaidah Cabang Pertama: Subtansi Harus Didahulukan

Menurut Al-Gahazali bermusik untuk mengiringi nyanyian hukumnya boleh, asalkan. Pertama, artisnya bukan wanita yang haram dilihat dan suaranya mampu menimbulkan fitnah. Kedua, alat musiknya bukan alat musik yang diharamkan oleh agama. Ketiga, lirik lagunya tidak mengandung maksiat. Keempat, orang yang mendengarkan  musik tidak lalu terlena dengan dengan nada nada musik hingga abai terhadap kewajibannya. Kelima, nyanyian itu mampu memberikan motivasi untuk meningkatkan ketaatan.

Kalau lagu (nyanyian) yang diiringi musik tersebut gagal memenuhi kreteria tersebut, maka, bernyanyi dan bermusik serta menikmatinya hukumnya haram. Ihya’ Ulum al-Din, 2/306-308).

Untuk persoalan yang ketiga. Lalu alat musik apa saja yang dilarang untuk dimainkan? Nabi besabda :

قال مسدد : حدثنا أبو عوانة ، عن أبي هاشم ، عن ابن عباس ، رضي الله عنه قال : ” اَلْكُوْبَةُ حَرَامٌ ، وَالدُّفُّ حَرَامٌ ، وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ ، وَالْمَزَامِيْرُ

Musaddad berkata: dari Abu ‘Awanah, dari Abu Hasyim, Dari Ibn Abbas ra. Berkata: gendang itu haram, rebana itu haram, gitar (alat musik bersenar) itu haram dan seruling itu haram. Al-mathalib al-‘Aliyyah, Ibn Hajar al-‘Asqalani, no. 2247

Menurut Imam al-Zubaidi keharaman alat-alat musik tersebut bukan karena alatnya. Tetapi karena akibat suara yang dikeluarkan, artinya, keharamannya dikarenakan ada factor lain (haram lighairih) bukan haram lidzatih. (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, 6/501).

Al-Ghazalipun juga mengatakan hal yang sama. Ihya’ Ulum al-Din, 3/269. Artinya, bila bermusik menjadi penyebab utama, tentang kealpaan ibadah, maka hukumnya haram. Bila tidak ya tidaklah !.

Suara gendang dan rebana mampu menggetarkan hasrat untuk berjoget, sementara joget bisa membuat seseorang lupa daratan. Sementara suara dering gitar mampu menghipnotis pemain dan pendengarnya, suara seruling mampu membuat terlena pemain dan pendengarnya sehingga suara suara itu diduga kuat sebagai sumber petaka dan bisa membawa fitnah atau maksiat.  Fitnah dan maksiat seperti apa? Fitnah itu berupa bisa mengabaikan dan melupakannya untuk dzikir (ingat) kepada Allah. Dan lupa kepada kewajiban shalat serta cenderung mengikuti hawa nafsu belaka. Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, 6/501

Karena keharaman alat-alat musik di atas haram lighairi, ada factor eksternal, maka ketika factor tersebut tidak terjadi ketika bermusik dan mendengarkan dengan alat-alat tersebut, maka tentu hukum haramnya menjadi hilang dan berubah menjadi mubah hukumnya. Kok begitu? Karena ada kaidah ushuliyyah yang mengatakan:

Baca Juga:  Suka Mengobral Sumpah, Ini Hukumnya!

اَلْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا

Artinya : Hukum itu berputar putar (mengikuti) illahnya (alasannya). Illat ada maka hukum ada, bila illah tidak ada hukumpun juga tidak ada. I’lam al-Muwaqqiin, Ibn Qayyim al-Jawziy, 4/90

Jika ada pertanyaan, Saya anak Band, haruskah saya keluar dari Band karena musik itu haram? Tentu kita kembalikan pada pendapat ulama ada yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Pada aspek ini sejatinya bermusik hal mubah dengan catatan tidak menimbulkan suatu yang menjurus kepada kemaksiatan dan keburukan. Artinya, sesungguhnya keislaman anda tidak akan terkurangi dengan bermain musik. Banyak musik yang bisa menghantarkan pada Ingat Allah dan mensyukuri nikmat hingga merefleksikan keagungan Tuhan melalui ciptaan bumi dan manusia dalam ritme yang indah.

Lalu, apakah harus keluar dari band? Semuanya kembali kepada kejujuran pribadi saudara, kalau memang saudara bermain gitar bass atau gitas akuistik demi dakwah mengajak umat untuk bershalawat dan membuat Saudara lebih dekat  dan mampu mendekatkan umat untuk mencintai Allah dan Nabi Muhammad, maka hukumnya mubah (boleh). Atau anda bermain musik dengan tidak menjurus kepada hal keburukan tentu saja bukan aib dan dosa.  

Namun, ingat tetap kontrol keasyikan Saudara dalam bermusik dan berdakwah, jangan sampai, alasan bermusik dan berdakwah lantas membuat Saudara lalai dan abai terhadap kewajiban Saudara kepada Allah (agama) dan kepada sosial masyarakat Saudara.

Syukur-syukur, dengan musik yang Saudara tekuni mampu membuat Saudara dan orang lain menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat dan mampu memberikan manfaat kepada yang lain.

Terakhir saya ingin mengatakan bahwa dakwah bukan sekedar di atas mimbar. Mengajak kepada kebaikan dan memberikan manfaat dengan cara yang tidak bertentangan dengan syariat adalah bagian dari dakwah dengan metode yang kamu bisa berikan demi kemuliaan Islam dan kemanfaatan umat.

Jika saudara merasa mempunya kemampuan musik dan dapat menjadi bermanfaat buat Islam dan dakwah Islam kenapa tidak? Semoga amal kita diterima oleh Allah dengan jalan yang sangat beragam.  Amin.

Wallahu a’lam bishshawab.

Wassalamua’alaikum awarhamatullahi wabarakatuh

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah