kitab fikih
kitab fikih

Maqashidus Syariah sebagai Nalar Ushuli dalam Sikap Moderasi (1) : Memahami Pengertian Maqashidus Syariah

Al Ghazali dan al Juwaini adalah dua ulama klasik yang sering menyinggung pembahasan maqashidus syariah meskipun hanya secara parsial dan tidak utuh. Dalam beberapa karyanya, mereka berdua membahas maqashidus syariah disela-sela pembahasan tema tertentu. Walaupun bahasannya tidak utuh, ini menandakan mereka berdua dalam pengambilan hukum fikih berorientasi pada maqashidus syariah.

Berbeda dengan Al Ghazali dan Al Juwaini, Imam Syatibi lebih serius dan detail menulis dan membahas kerangka teoritis maqashidus syariah secara sistematis dalam beberapa karyanya. Yang paling populer adalah Al Muwafaqat fi Ushulil Ahkam. Relevansi maqashidus syariah bisa ditemukan disini. Sehingga dalam karyanya yang lain, yakni I’tisham,  Syatibi menyatakan bahwa seseorang tidak akan bisa memahami syariat sesuai wajah aslinya bila tidak memperdalam pemahaman tentang maqashidus syariah.

Apa yang istimewa dari maqashidus syariah? Jawabannya ada dalam Nadzariyatul Maqashid ‘inda Imam al Syatibi karya Imam al Raisuni. Disini tertulis, semua hukum Islam hadir sebagai upaya menciptakan maslahat, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, semua hukum harus berangkat dari maslahat, tidak kaku dan tidak terjebak dalam kejumudan teks tanpa memandang konteks yang mengitarinya.

Nilai istimewa maqashidus syariah inilah yang mampu membuka cakrawala berpikir untuk mendudukkan hukum sebagaimana seharusnya. Karena ditempat berbeda ia bisa berbeda karena situasi dan kondisi yang berbeda pula. Cara berpikir dengan nalar maqashidus syariah ini yang sejatinya membuat para ulama klasik dulu tidak mempersoalkan perbedaan sehingga tercipta sosok-sosok yang moderat.

Definisi Maqashidus Syariah

Apa itu maqashidus syariah? Dalam bahasa Arab, maqashidus syariah tersusun dari dua kata, yaitu maqashid dan syariah. Dalam Mu’jamul Wasit dan Mu’jam Maqayis Lughah, maqashid (مقاصد)jama’ dari qashdu (قصد) yang memiliki beberapa arti. Yaitu, i’timad, al Um, ityanus sya’i, al tawajjuh, dan istiqamatu al Thariq.

Baca Juga:  Tidak Bisa Meninggalkan Pekerjaan Saat Shalat Jum'at, Ini Solusinya

Qashdu dan kata yang serumpun dengannya sering kali disebut dalam al Qur’an.

Allah berfirman, “Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus yang tidak ada belokan padanya”. (QS al Nahl:9).

Ibnu Jarir al Thabari dalam tafsirnya Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Qur’an menjelaskan, qoshdu berarti jalan lurus yang tidak ada belokannya.

Kata Qasdhu juga sering dijumpai dalam beberapa hadis Nabi.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi bersabda, “Tidak ada satupun dari kalian yang akan selamat”. Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, Ya Rasulullah”? Nabi menjawab, “tidak juga saya, kecuali dengan Rahmat Allah. Tetaplah kalian, mendekatlah, beribadahlah di waktu pagi, sore dan sedikit dari malam, beramal lah yang pertengahan, yang pertengahan, kalian pasti akan sampai”. (HR. Bukhari).

Mengomentari kata qasdhu pada hadis ini, Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan, makna qasdhu adalah memilih yang pertengahan (moderat).

Demikian juga Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mengomentari kata qasdhu pada hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Samurah bahwa shalat Rasulullah adalah “Qashdan”, demikian juga rukuknya. Qashdan pada hadis ini bermakna pertengahan. Tidak terlalu lama juga tidak terlalu cepat.

Adapun kata syariah dalam kamus Lisanul Arab berarti al Din, al Millah, al Minhaj, al Tahriqah dan al Sunnah. Dalam al Qur’an kata syariah bisa ditemukan dalam beberapa ayat, (QS. al Jatsiyah: 18, al Maidah: 48, al Syura: 13 dan 21), yang memiliki makna aturan atau ketetapan.

Sedangkan dalam term fikih ada beberapa pendapat para ulama tentang syariah. Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa mengartikan syariah dengan ketetapan Allah yang berhubungan dengan aqidah atau amal. Al Jurjani dalam kitabnya al Ta’rifat mendefinisikan, syariah adalah jalan agama. Dr. Manna’ al Qathan dalam karyanya al Tasyri’ wa al Fiqh fi al Islam menyatakan, syariah adalah apapun yang disyaratkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui perantara Nabi. Baik berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan segala aturan kehidupan.

Baca Juga:  Adab Bangun Tidur ala Rasulullah

Sedangkan secara istilah para ulama semisal al Ghazali, al Juwaini dan al Syatibi sendiri tidak menjelaskan definisi maqashidus syariah secara lengkap. Al Ghazali dalam kitabnya al Syifa hanya mendefinisikannya secara sederhana, tidak komprehensif (tidak jami’ dan mani’). Dan, dalam kitab ushul fikihnya, al Mustashfa, beliau hanya menyebutkan jumlah maqashidus syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Demikian juga Imam al Syatibi, ulama yang sangat getol berpedoman pada maqashidus syariah juga tidak membuat definisi yang lengkap. Hal ini sebagaimana dicatat oleh Imam al Raisuni dalam karyanya Nadzariyatu al Maqashid ‘inda al Syathibi. Imam Syatibi menganggap bahwa definisi maqashidus syariah telah cukup jelas sehingga tidak penting untuk dibuat definisinya.

Definisi agak lengkap ditulis oleh Ibnu Asyur dalam kitabnya Maqashid Syariah. Beliau mendefinisikan maqashidus syariah menjadi dua, umum dan khusus. Definisi maqashidus syariah secara umum adalah makna-makna dan hikmah yang dikehendaki oleh pembuat syariat, baik pada sebagian syariat atau seluruhnya. Sedangkan definisi maqashidus syariah secara khusus adalah cara-cara yang dikehendaki syari’ (Allah) dalam upaya mewujudkan tujuan-tujuan yang bermanfaat untuk manusia, atau  untuk terwujudnya maslahat bagi manusia secara umum dalam tindakan-tindakan mereka secara khusus.

Al Raisuni dalam karya tulisnya, Nadzariyatu al Maqashid ‘inda Imam al Syatibi menulis bahwa maqashidus syariah adalah tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh syariat untuk kemaslahatan manusia. Sementara Allal al Fasi dalam kitabnya Maqashidus syariah wa Makarimiha mendefinisikan bahwa maqashidus syariah adalah tujuan dan rahasia syariah yang ditetapkan oleh syari’ (Allah) pada semua hukum-hukumnya.

Dr. Wahbah al Zuhaili dalam kitabnya Ushul Fiqh al Islami mendefinisikan, maqashidus syariah adalah makna, tujuan dan rahasia yang hendak dicapai dari hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari’ (Allah).

Baca Juga:  6 Amalan yang Disunnahkan di Bulan Muharram

Dengan demikian, bisa dikatakan maqashidus syariah adalah tujuan inti dari hukum-hukum yang diundangkan oleh Allah. Tujuannya adalah kemaslahatan manusia. Hal ini karena Islam hadir bukan untuk menyiksa dan menyengsarakan manusia, tapi hadir untuk memberikan kemaslahatan bagi manusia sendiri. Disinilah peran penting maqashidus syariah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …

puasa syawal

Istri Puasa Sunnah Syawal, Tetapi Suami Tidak Mengizinkan?

Sebagaimana maklum diketahui, puasa Ramadhan ditambah puasa sunnah enam hari bulan Syawal pahalanya sama seperti …