kitab fikih
kitab fikih

Maqashidus Syariah Sebagai Nalar Ushuli dalam Sikap Moderasi (3): Tokoh-tokoh Maqashidus Syariah Beserta Karyanya

Maqashidus syariah tidak murni muncul dari ide para ulama. Konsep ini telah dijelaskan oleh nushush al syari’ah (teks keagamaan) baik al Qur’an maupun hadis secara jelas. Para ulama hanya sebatas membakukannya dalam bentuk kaidah-kaidah supaya lebih mudah dipahami saja. Ada banyak ayat al Qur’an sebagai buktinya.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. al Baqarah: 185).

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, Tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS. al Maidah: 6).

“Allah hendak memberikan keringanan bagimu” (QS. al Nisa: 28).

Tiga ayat ini telah cukup membuktikan betapa maqashidus syariah sangat diapresiasi oleh Allah. Tidak ada tujuan lain dari hukum-hukum-Nya, kecuali untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.

Jelas kalau begitu bahwa maqashidus syariah ada ruh ajaran Islam yang ada sedari dulu dan diapakai oleh Nabi dalam banyak kasus ketika memutuskan suatu hukum. Walaupun beliau tidak bilang kalau keputusannya berlandas pihak padanya.

Maqashidus syariah baru disebut secara khusus oleh Imam Turmudzi  pada abad ketiga Hijriah. Beliau menulis Al Shalatu wa Maqashiduha, Al Haj wa Asraruhu, Al ‘Illah, ‘Ilal al Syari’ah dan ‘Ilal ‘Ubudiyah. Abu Mansur al Maturidi juga menulis Al Ma’khad al Syara’ yang berisi teori-teori maqashidus syariah.

Selain itu juga, dipertengahan abad ketiga Hijriah Abu Bakar al Qaffal al Syasyi menulis kitab Ushul al Fiqih al Mahasin al Syari’ah. Abu Bakar al Abhari juga menulis Masalah al Jawab wa al Dalail wa al ‘Illah. Disusul kemudian oleh Al Baqillani yang menulis Al Taqrib wa al Irsyad fi Tartib Thuruq al Ijtihad.

Walaupun semua karya tulis di atas hanya menyinggung maqashidus syariah dalam ban-bab tertentu, tetapi telah membuktikan adanya parameter hukum yang berorientasi pada maslahat sebagai upaya memahami hukum secara sempurna diantara perbedaan-perbedaan pendapat yang ada.

Baca Juga:  Carilah Yang ‘Benar’ Sampai Ke Negeri Cina (Bagian II)

Baru setelahnya, tepatnya di penghujung abad kelima Hijriah maqashidus syariah dibahas utuh dalam satu kitab tersendiri. Diantaranya adalah kitab Al Burhan al Waraqat, Al Ghiyatsi dan Mughitsul Khalq yang ditulis oleh Imam al Juwaini. Dalam karyanya al Burhan beliau menulis pembagian dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat.

Murid Imam al Juwaini, Abu Hamid al Ghazali melanjutkan kajian maqashidus syariah dengan menulis Al Mustashfa, sebuah karya yang menjelaskan bahwa maslahat itu bisa diraih dengan memperhatikan maqashidus syariah. Beliaulah yang mempopulerkan istilah dharuriah al khamsah; memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Ada juga Imam al Razi dengan karyanya Mafatih al Ghaib, Al Ayat al Bayyinat, al Mahshul dan Asas al Taqdis. Kemudian Saifuddin al Amidi yang menulis Al Ihkam fi Ushul al Ahkam dan Ghayatu al Maram. Beliau lebih rinci membahas urutan-urutan dharuriah al khamsah dengan skala prioritas. Disusul kemudian oleh Imam al Hajib yang menulis Nafais al Ushul, Syarh al Mahshul, Al Furuq, Al Ihkam fi Tamyiz al Fatawa ‘an al Ahkam wa Tasharruf al Qadhi wa al Imam.

Salah seorang murid al Amidi, Izzuddin bin Abdissalam membuat lompatan besar dengan menulis Qawa’id al Ahkam fi Mashalih fi Mashalih al Anam yang membahas panjang lebar maqashidus syariah. Kitab ini yang nantinya dibuat rujukan oleh Imam Syatibi tentang maqashid.

Murid Izzuddin bin Abdissalam, Al Qarafi kemudian menulis kaidah tentang maqashid dan wasail dalam karyanya al Furuq dan al Nafais. Menurutnya, semua hukum pasti ada maslahatnya, jika suatu hukum dipandang tidak maslahatnya berarti belum ditemukan. Bukan tidak ada. Ungkapan ini senada dengan pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan jika seseorang mengingkari maslahat berarti telah mengingkari syariat. Ibnu Taimiyah menuangkan penjelasannya tentang maqashidus syariah dalam karyanya Masalatu al Hiyal dan Ta’lil al Ahkam. Bahkan menurut al Thufi maslahat harus dikedepankan dari nushush al syari’ah sendiri.

Baca Juga:  Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (1) : Mengenal Tauhid Ala Salafi Wahabi

Sampai kemudian pada Imam al Syatibi yang mengurai lengkap maqashidus syariah berdasar pada karya-karya ulama sebelumnya dalam sebuah karyanya yang fenomenal berjudul al Muwafaqat fi Ushul al Ahkam. Begitu lengkapnya bahasan Syatibi dalam kitabnya ini sehingga bila tidak memahami sejarah dan beberapa literatur yang ada, pasti mengira bahwa Syatibi adalah pencetus konsep maqashidus syariah.

Inilah sekilas sejarah perkembangan konsep maqashidus syariah dari masa ke masa yang digagas oleh beberapa ulama beserta karyanya yang penting untuk diketahui. Catatan pentingnya adalah bahwa maqashidus syariah sebagai ruh syariat menjadi sangat penting diketahui supaya bisa mengerti tentang perbedaan yang terjadi dikalangan para ulama. Moderasi beragama mulainya dari sini.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …