islam rahmatan lil alamin
islam rahmatan lil alamin

Jika Islam Rahmatan lil Alamin, Betulkah Jilbab Wajib bagi Non-Muslim?

Jilbab adalah media untuk menutup aurat pria ataupun wanita yang ditengarai secara pasti bisa menimbulkan kekacauan dalam berfikir hingga berprilaku. Oleh karena itu Islam mewajibkan umatnya untuk menutupi aurat (berjilbab). Jika jilbab adalah syari’at Islam, dan Islam itu adalah rahmatan lil alamin (anugerah bagi semesta), betulkah jilbab juga wajib pada orang non-Muslim dengan pandangan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin..

Ibnu ‘Athiyah memaparkan dua versi soal rahmatan lil alamin. Pertama, bahwa rahmatan yang dimaksud semata diperuntukkan untuk orang orang yang beriman saja, sementara orang orang yang tidak beriman tidak akan mendapatkan rahmat dari Nabi Muhammad. Kedua, bahwa Rahmatan tersebut sangatlah universal. Artinya bukan hanya muslim, non muslimpun berada dalam cakupan rahmatan lil alamin. (Al-Muharrar al-Wajiz Fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, 4/126).

Sayyid Thanthawi nampaknya lebih cenderung kepada pendapat pertama, ia mengatakan bahwa rahmatan lil alamin adalah bentuk anugerah tertinggi untuk orang orang yang beriman, karena hanya mereka yang mampu merasakan betapa Islam adalah jalan (agama) yang lurus. Tafsir al-Wasith, 2/326

Bahkan dalam pandangan Ibn al-Qayyim al-Jawziy, justru pendapat yang kedua yang paling benar. Artinya rahmatan lil alamin dibiarkan dengan universalitasnya. Bahwa Islam dan syari’atnya untuk semua manusia dengan segala dimensi kepercayaannya, karena Islam datang untuk menunjukkan ke jalan yang benar.  Tafsir al-Qur’an al-Karim, 1/381

Namun, arti Islam sebagai rahmat yang bisa berlaku universal terhadap semua umat bukan sebagai mewajibkan syariat Islam kepada non-muslim. Islam sebagai rahmat adalah sebagai solusi dan anugerah. Artinya menjadi muslim juga harus mampu memberikan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta.

Sementara itu kewajiban dalam Islam adalah tidak boleh ditafsirkan sebagai kewajiban atau pembebanan (takflif) terhadap umat lain. Syariat Islam sebagai rahmat adalah dimensi dampak yang dirasakan, bukan pada aspek syariat Islam yang harus dijalankan pula oleh non-muslim sebagaimana kasus jilbab.

Baca Juga:  Ketika Masjid Nabawi Dilanda Kebakaran

Pembebanan kewajiban dalam Islam mempunyai syarat seperti berakal, baligh, sehat, dan muslim. Sebagaimana Shalat dan puasa itu wajib dilakukan oleh umat Islam, tetapi apakah itu juga kewajiban bagi non-muslim? Tentu tidak. Syariat Islam sebagai aturan akan menjadi rahmat bagi umat Islam. Namun, dampak syariat tentang shalat dan puasa adalah rahmat bagi semesta tidak terkecuali hanya umat Islam saja.

Karena itulah, menurut Syaikh Masyhur Hasan konteks memahami Islam rahmatan lil alamin bukan pembebanan syariat Islam kepada seluruh alam semesta. melainkan pembebanan untuk menemukan jalan kebenaran hakiki, yaitu Islam. Jika Islam rahmatan lil alamin dipahami sebagai pembebanan syariat Islam kepada seluruh alam semesta, maka Islam akan menjadi pemaksa terhadap seluruh alam semesta bukan sebagai rahmat. Al-Kalimat al-Nirat Fi Syarh al-waraqat, 2/32

Islam sebagai rahmat adalah ketika syariat Islam mempunyai dampak sebagai anugerah dan kedamaian bagi umatnya. Dan sekali lagi, rahmat Islam sangat ditentukan oleh perilaku umat Islam dalam menyampaikan Islam yang rahmat.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …