Dulu bau kabar negara memusuhi Islam itu begitu menyengat dihembuskan. Pemerintah anti Islam, pemerintah mendzalimi ulama, pemerintah pro komunis, pemerintah memusuhi tokoh Islam dan isu lainnya. Kira-kira bau menyengat kabar itu begitu tidak mengenakkan. Jika orang awam mencium kabar ini tentu langsung menarik emosi dengan semangat #BelaUlama.
Isu-isu itu muncul di momentum politik. Tidak lain hanya untuk menggiring opini bahwa dirinya paling dekat dengan ulama dan dengan umat Islam. Sekali lagi, lihat cara mainnnya, mengeksploitasi isu penuh emosi umat Islam untuk kepentingan politik. Semua bau-bau tidak sedap dimunculkan di ruang publik. Dari bau isu yang tidak sedap hingga yang paling busuk sekalipun.
Jika hari ini masih menjual isu negara tidak menghargai ulama atau pemerintah memusuhi ulama dalam kampanye politik tentu itu sudah sebusuk-busuknya kampanye politik. Atau jika ada ormas atau kumpulan orang yang terus menggiring opini bahwa negara ini sedang mendzalimi umat Islam, yakinlah itu merupakan bagian dari propaganda untuk memecah belah umat atau membangun public distruct.
Jika negara ini dianggap memusuhi Islam dan tokoh muslim, kenapa negara ini memberikan karpet merah yang luar biasa dalam bentuk penghargaan terhadap para ulama. Hari ini, pada momentum Hari Pahlawan, kembali negara memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada 6 putra terbaik bangsa. Dua di antaranya adalah ulama; Kiai Haji Abdul Chalim, dari Jawa Barat dan Kiai Haji Ahmad Hanafiah dari Lampung.
Tahun 2022 yang lalu ada juga ulama yang mendapat gelar penghargaan pahlawan nasional, KH Ahmad Sanusi. Di tahun-tahun sebelumnya ada nama ulama karismatik dari Jember KH Ahmad Sidiq, dari Situbono ada Kiai tersohor KH As’ad Syamsul Arifin hingga dari Lombok ada TGKH Zainuddin Abdul Majid.
Deretan Ulama yang Diberikan Penghargaan Pahlawan Nasional
Beberapa ulama yang telah diberikan penghargaan sebagai pahlawan nasional di antaranya :
- KH Hasyim Asyari, sosok pendiri NU ditetapkan sebagai Pahlawan nasional pada tahun 1964. Ulama kelahiran 10 April 1875 pernah mengeluarkan Resolusi Jihad saat mempertahankan kemerdekaan pada 22 Oktober 1945. Pesantrennya di Tebuireng Jombang adalah basis pendidikan Islam yang mendidik karakter santri yang berwawasan agama dan kebangsaan.
- KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah. Lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1968. Meski perjuangannya dalam membangun bangsa tidak terbantahkan, beliau baru mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1961 berdasarkan SK Presiden No.657 pada tahun 1961.
- Mohammad Natsir, adalah seorang ulama yang gigih memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia menduduki banyak jabatan di kabinet Indonesia hingga perdana Menteri. Tokoh ulama kelahiran Sumatera Barat ini adalah tokoh Ormas Persis yang memiliki gagasan intelektual yang sering mengadu gagasan dengan Soekarno. Natsir diakui dunia internasional dalam keterlibatannya di sejumlah organisasi Islam.
- KH Abdul Wahid Hasyim, putra dari KH Hasyim Asyari ini merupakan anggota BPUPKI dan PPKI yang sangat berjasa bagi negara ini.
- Buya Hamka, seorang ulama, Pahlawan Nasional dan gerilyawan saat masa revolusi. Beliau ulama yang disegani dan aktif di Muhammadiyah sampai akhir hayat.
- KH Zainul Arifin adalah tokoh NU dari Sumatera Utara. Pernah menjabat sebagai perdana Menteri pada periode 1953-1955. Ia berjasa dalam membentuk pasukan semi militer Hizbullah dalam perjuangan kemerdekaan.
- KH Fachrodin, ulama dan Pahlawan Nasional. Beliau dianugerahi Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no.16 tahun 1964.
- KH Zainal Musthafa, mendapatkan gelar pahlawan nasional pada tahun 1972. Tokoh NU ini adalah penggagas pemberontakan Singaparna, Tasikmalaya. Bersama santrinya, tokoh ini dikenal sangat getol melawan penjajah belanda.
- KH Idham Chalid, pernah menduduki sebagai Ketua Umum PBNU periode 1956-1984, adalah tokoh NU dari Kalimantan Selatan. Ia diberikan gelar Pahlawan Nasional pada November 2011. Pernah menjabat sebagai Perdana Menteri di Kabinet Ali Sastroamidjojo. Sebelum aktif di politik, Kiai Idham adalah sosok pejuang kemerdekaan. Bahkan ia pernah diabadikan dalam pecahan uang kertas Rp, 5 ribu pada 2016.
- Ki Bagus Hadikusumo, pernah tercatat sebagai Ketua Umum PB Muhamamdiyah yang mengantikan Mas Masur. Ia merupakan tokoh kunci tercapainya kesepakatan besar penyelamatan negara pada kompromi penghapusan 7 Kata Piagam Jakarta. Ia juga dikenal sebagai perumus redaksi sila pertama P
- KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU bersama Kiayi Hasyim, penggagas Majelis Islam A’la Indonesia dan pendiri kelompok diskusi Tashwirul Afkar pada masa perjuangan.
- KH Mas Mansoer adalah ulama sekaligus negarawan. Beliau merupakan anggota Badan Pengurus Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
- Ki Bagus Hadikoesoemo, anggota BPUPKI dan Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
- KH Syam’un, adalah ulama yang berkarir di bidang militer. Ia pernah menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA) hingga berpangkat mayor dan mendapatkan pangkat kolonel pada format Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal di wilayah banten.
- KH Masykur, adalah tokoh NU yang juga menjadi anggota BPUPKI dalam perumusan Pancasila. Ia juga tercatat sebagai Menteri Agama pada 1947-1949 dan 1953-1955. Tercatat beliau pernah memimpin barisan Sabilillah pada pertempuran 10 November 1945. Ia bahkan tercatat sebagai pendiri PETA yang menjadikan menjadi unsur lascar rakyat dan TNI.
- AR Baswedan, tokoh peranakan Arab yang memiliki peran penting dalam sejarah bangs aini. Ia menjadi anggota BPUPKI sekaligus inisiator Kongres Peranakan Arab pada tahun 1943.
- Siti Walidah, pendiri gerakan perempuan Aisyiyah. Beliau dinobatkan Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 1971 sesuai Keputusan Presiden Nomor 42/TK.
- H Andi Mappanyuki, adalah raja Bone sekaligus pendiri NU Sulawesi Selatan. Ia berperan dalam melawan penjajahan Belanda dan Jepang pada periode 1945-1949.
- H Andi Djemma, sosok pendiri NU lainnya dari Sulawesi Selatan yang juga berperan dalam perjuangan merebut kembali kemerdekaan dari Belanda.
- Abdul Kahar Muzakir, adalah ulama dan intelektual Muhammadiyah yang aktif menggalang dukungan dunia luar untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia juga tercatat sebagai Rektor pertama Universitas Islam Indonesia
- H Usmar Ismail, adalah tokoh NU dari Suku Minang yang mendapatkan gelar Pahlawan nasional pada tahun 2021. Ketua I PBNU periode 1964-1970 ini juga dikenal sasatrawan, wartawan, sutradara, bahkan dikenal bapak Film Indonesia.
Daftar ini hanya sebagian dari ulama-ulama dan tokoh muslim yang telah diberikan penghargaan Pahlawan Nasional dari negara. Tentu ini membuktikan pengakuan negara terhadap kiprah tokoh-tokoh Islam khususnya kalangan ulama tidak hanya dalam aspek perjuangan fisik, tetapi juga ide, gagasan, dan kiprahnya bagi bangsa ini.
Kembali pada pertanyaan betulkah negara sedang memusuhi Islam atau memusuhi ulama tentu ini hanya isu murahan yang akan muncul dan dimunculkan bagi yang punya kepentingan politik menjelang Pemilu. Buktinya, negara dan pemerintah sungguh memberikan apresiasi yang luar biasa kepada tokoh-tokoh Islam yang berperan bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah