utang puasa
puasa

Usai Ramadan Masih Ada Utang Puasa, Jangan Tunda-tunda!

Bulan Ramadan memang telah usai. Bulan di mana seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa seharian penuh di mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, bagi sebagian muslim yang memiliki udzur puasa atau hutang puasa, mereka tentu wajib membayarnya dengan mengqadha puasa di bulan berikutnya.

Selama sebulan ada beberapa kondisi dan aktifitas yang menyebabkan kita tidak bisa berpuasa. Karena bepergian mudik, sakit, atau karena halangan syari lainnya. Tentu saja, Ramadan usai bukan berarti tidak ada kewajiban. Membayar atau mengqadha’ puasa adalah kewajiban.

Kewajiban dalam qadha puasa diperintahkan Allah dalam al-Quran. Allah berfirman, “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, (kemudian tidak puasa), maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain,” (QS. Al-Baqarah ayat 184).

Pertanyaannya, apakah penting menyegerakan mengqadha puasa, atau tidak apa jika menundanya? Lantas sampai kapan batas waktu qadha puasa tersebut?

Dalam Islam menekankan bahwa yang namanya hutang itu adalah darurat. Sama halnya dengan membayar hutang kepada manusia lainnya yang harus segera dibayarkan ketika kita sudah mampu untuk membayarnya. Hutang puasa Ramadan juga lebih baik segera dibayarkan sebelum Ramadan berikutnya tiba.

Rasulullah bersabda, “Penundaan (pembayaran hutang dari) seorang yang kaya adalah sebuah kelaliman, maka jika salah seorang dari kalian dipindahkan kepada seorang yang kaya maka ikutilah.” Jadi dalam mengqadha puasa Ramadan mestinya harus cepat dilakukan selagi tidak sedang dalam keadaan udzur untuk mengqadhanya.

Dalam riwayat Ibn Abbas, Ibn Umar dan Abu Hurairah bahwasanya mereka menghukumi orang yang memiliki hutang puasa kemudian tidak mengqadhanya sampai datang Ramadan berikutnya wajib memberi makan (fidyah) untuk puasa Ramadan yang pertama.

Terkecuali bagi mereka yang senantiasa bersafari seperti pelaut, orang sakit hingga Ramadan berikutnya tiba, orang yang menunda karena lupa, atau orang yang tidak tahu keharaman penundaan qadha.

Namun, jika seseorang hidup membaur dengan ulama, namun ia samar dalam urusan fidyah, maka ketidaktahuannya atas keharaman penundaan qadha bukan termasuk udzur. Karena ia seharusnya bisa menimba ilmu dengan seseorang yang mengetahui hukum dalam beragama. Karena itu alasan dalam ketidaktahuannya tak bisa diterima.

Apabila disebabkan karena kelalaian, tentu yang bersangkutan wajib mengqadha dan juga membayar fidyah sebesar satu mud untuk satu hari utang puasanya, atau setara dengan 543 gram menurut mahzab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran dengan 815,39 gram bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.

Dan jika apabila bagi mereka yang belum sempat membayar hutang puasa Ramadannya namun telah meninggal dunia, maka yang wajib untuk membayar hutang puasanya ialah ahli warisnya. Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata, “Ada seseorang pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia masih memiliki utang puasa sebulan. Apakah aku harus membayarkan qadha’ puasanya atas nama dirinya?” Beliau lantas bersabda, “Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?” “Iya”, jawabnya. Beliau lalu bersabda, “Utang Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. Bukhari, no. 1953 dan Muslim, no. 1148).”

Kita tidak akan pernah tahu ajal kapan tiba sementara diri masih mempunyai tanggungan hutang. Jika ada waktu tanggungan apapun baik hutang materi atau hutang ibadah sebaiknya harus disegerakan. Dalam kasus puasa, membayar hutang puasa Ramadan bisa juga dibarengkan dengan kebiasaan puasa sunnah senin dan kamis sehingga mendapat juga fadhilah puasa sunnah.

 

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

belajar membaca alquran pertolongan bagi mualaf bertujuan untuk menguatkan 210327203725 989 scaled

3 Ilmu yang Wajib Dipelajari dan Diajarkan

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun kesempurnaan manusia …

agama bisa menyembuhkan

Agama Bisa Menyembuhkan Penyakit?

Saya mendapatkan satu postingan yang sangat menarik tentang sebuah hasil riset. Sebuah riset menggunakan binatang …