Konsultasi Syariah : Bolehkah Membayar Utang Puasa Ramadan Sekaligus Berbarengan Puasa Sunnah?

0
1004
mengqadha' puasa

Assalamu’alaikum Wr Wb

Saya sampai hari ini masih punya utang puasa Ramadan tahun lalu, mumpung belum Ramadan tiba saya mau mengqadha’nya. Tapi, saya ingin mengqada’ di hari senin dan kamis agar juga mendapatkan pahala puasa sunnah. Bolehkah menggabung qadha’ puasa wajib dengan puasa sunnah? Lalu, kira-kira mana yang perlu didahulukan puasa sunnah atau mengqada puasa? Mohon jawabannya ustadz.

Nisa-Bekasi


Walaikum salam Wr Wb

Terima kasih atas pertanyannya, semoga saudari Nisa selalu dalam rahmat dan lindungan Allah.

Mengqadha’ atau membayar utang puasa hukumnya wajib. Sebaiknya dan seharusnya segera dibayar sebelum Ramadan tiba karena bakal ada konsekuensi hukum baru jika sudah melewati Ramadan berikutnya. Lalu bagaimana menggabung niat puasa dengan niat puasa sunnah. Bolehkah?

Menggabung niat, dalam istilah hukum Islam dikenal dengan tasyrik. Menurut Syaikh Abdullah Ibn Sa’id Muhammad ‘Ubbadi al-Lahjiy tasyrik itu bermacam macam. Pertama, menggabung niat ibadah dengan yang bukan ibadah. Untuk tasyrik semacam ini bisa membatalkan ibadahnya, tetapi juga bisa tidak.

Contoh yang membatalkan ibadah ialah seperti niat menyembelih binatang kurban niatnya karena Allah dan juga karena sebagai tumbal sesajen. Maka ibadah kurbannya batal.

Sementara contoh yang tidak membatalkan ibadah seperti niat berwudhu’ di musim panas selain niat berwudhu’ juga berniat mendapatkan kesegaran badan. Maka wudhu’nya tetap dianggap sah. Seperti juga berniat puasa dan juga berniat diet. Maka puasanya tetap sah.

Kedua, menggabung niat ibadah wajib dengan ibadah sunnah. Dalam hal ini bisa menjadi beberapa kasus dan konsekuensi hukum yang berbeda-beda.

Pertama, tasyrik yang menyebabkan ibadah wajib dan ibadah sunnahnya sama-sama sah. Seperti seseorang yang berniat shalat dhuhur dan juga berniat shalat sunnah tahiyyatal masjid.

Hal yang sama berlaku dalam puasa sunnah dan puasa qadha’. Fatwa al-Barizi yang dikutip oleh al-Bikri diperkuat oleh fatwa Muhammad Yasin al-Padani, bahwa menggabung niat qadha’ puasa dengan niat puasa sunnah sama sama sah.

Kedua, tasyrik yang hanya ibadah wajibnya saja yang sah, sementara ibadah sunnahnya tidak sah. Seperti seserang yang berniat hajji wajib dan berniat haji sunnah, maka hajinya dianggap haji wajib.

Ketiga, tasyrik ibadah sunnahnya yang sah, sementara ibadah wajibnya tidak sah. Contoh, seseorang memberikan uang sebesar Rp. 500.000 yang diniatkan untuk zakat wajib dan shadaqah sunnah. Maka pemberian itu dianggap shadaqah.

Keempat, tasyrik yang bisa mengakibatkan ibadah wajib dan sunnahnya sama-sama tidak sah. Seperti, seseorang berniat shalat dhuhur dan berniat shalat sunnah qabliyyah atau ba’diyyah, maka keduanya batal (Idhah al-Qawaid al-Fiqhiyyah,13-14. ‘I’anah al-Thalibin, 2/252. Al-fawaid al-janiyyah, 1/153).

Lalu, kembali pada pertanyaan saudari, bolehkah mengqadha’ puasa Ramadan berbarengan dengan puasa sunnah? Jawabannya, boleh. Bahkan keduanya sah dan tentu sama-sama berpahala.

Mana yang mesti didahulukan puasa sunnah atau mengqada puasa? Yang harus diprioritaskan adalah niat qadha’ puasa. Artinya pertama kali berniat qadha’ puasa lalu berniat lagi niat puasa sunnah.  Sesuai kaidah fiqhiyyah :

الفرض اولى من النفل

Kewajiban itu lebih utama dari pada kesunnahan (Idhah al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Muhammad ‘Ubbadi al-Lahjiy, 68)

NIAT PUASA QADHA’

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالٰى

nawaitu showma ghadin ‘an qadha’i showmi romadhana lillahi ta’ala

Artinya : saya berniat berpuasa esok hari untuk mengqadha’ puasa ramadhan karena semata mata allah.

Semoga jawaban dari kami bisa memberikan manfaat bagi saudari Nisa. Dan terpenting segerakan untuk membayar utang puasa. Semoga Allah menerima amal dan ibadah kita. Amin

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo