210723132112 185

Wamenag: Dakwah itu Membina, Bukan Menghina, Mengajar, Bukan Menghajar

JAKARTA – Menyampaiakn risalah agama haruslah dengan penuh kesantunan, maka dakwah yang telah diajarkan oleh Rasulullah adalah sebaik-baik cara menjalankan dakwah. Ketika umat Muslim masih menjadi minoritas hingga menjadi mayoritas Rasulullah dalam berdakwah tidak pernah memaksa, tidak pernah menghina, tidak pernah menjelekkan dan tidak pernah memukul.

Cara dakwah Rasulullah justru dengan mauidzhatul hasanah dengan lisan dan akhlak yang baik, karena Rasulullah telah menegaskan, beliau diutus untuk memperbaiki akhlak, oleh karenanya menyampaikan dakwah juga semestinya meniru Rasulullah.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan kepada para dai jika Dakwah Islamiyah harus dilakukan secara sistematis, metodologis, persuasif dan tidak secara sporadis. Dakwah juga harus menjadi sarana menguatkan persaudaraan seagama dan sebangsa.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan Prasaran dalam Webinar Kebangsaan dan Pelepasan Dai DPP Wahdah Islamiyah, Sabtu (9/10). Mengutip Buya Hamka, Wamenag mengingatkan para dai akan prinsip dasar dalam berdakwah.

“Saya ingin mengutip petuah ulama besar Prof Dr Hamka, salah seorang maestro dakwah dan ulama intelektual muslim yang tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia, di mana pemikiran dan langkah dakwahnya konsisten dalam bingkai kecintaan terhadap Islam dan kecintaan pada tanah air Indonesia. Beliau menuturkan bahwa dakwah itu membina bukan menghina,” kata Wamenag dalam keterangan yang dikutip dari laman Republika.co.id, Ahad (10/10).

Masih mengutip Buya Hamka, ia mengatakan, dakwah itu mendidik bukan membidik, mengobati bukan melukai, mengukuhkan bukan meruntuhkan, saling menguatkan bukan saling melemahkan, mengajak bukan mengejek, serta menyejukkan bukan memojokkan.

Ia juga menyebut dakwah itu mengajar bukan menghajar, dakwah itu saling belajar bukan bertengkar, serta dakwah itu menasihati bukan mencaci maki. Di tengah era disrupsi informasi, Wamenag juga mengajak juru dakwah untuk terampil menggunakan media sosial.

Baca Juga:  Kemenag Gulirkan Program Da’i Bersertifikat, DMI: Untuk Apa?

Menurutnya, masyarakat masa kini berada di era digital, di mana kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan beragama. Untuk itu, para dai dituntut terampil menggunakan sosial media dan memanfaatkannya untuk kemajuan dan keluasan jangkauan dakwah.

“Keberhasilan dakwah dalam menggarami masyarakat dengan pesan-pesan kebenaran dan kebaikan tentu tidak hanya ditentukan oleh penguasaan aspek teknis, tetapi juga aspek substansi dan aspek etik dan akhlak dai itu sendiri,” lanjutnya.

Peranan dan kontribusi para dai dan omas-ormas Islam yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan  ekonomi disebut akan menentukan gambaran wajah Indonesia masa depan.

Terkahir, Wamenag juga berpesan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah merupakan modal sosial yang tidak ternilai dalam menata kemajuan umat dan bangsa ke arah yang lebih baik.

Umat Islam harus mampu mengisi kelemahan yang satu dengan kekuatan yang lain. Menguatkan ukhuwah merupakan suatu keniscayaan dan sekaligus kebutuhan.

“Dengan modal Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah itulah, kita wujudkan Indonesia Jaya dengan Islam Wasathiyah,” ucap dia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …