mukena
mukena

Mukena syariat Islam? Bukti Budaya Penyokong Kuat Syariat

Jika ada yang bertanya apakah mukena syariat Islam? Jika dijawab tidak, ia jelas digunakan oleh wanita muslim Indonesia ketika shalat dan menjadi bagian penting menutup aurat saat shalat. Sementara shalat adalah syariat Islam. Jika dikatakan iya bagian dari syariat, mukena hanya menjadi ciri khas di Indonesia setidaknya di negara satu rumpun di kawasan nusantara dan tidak dikenal di negara lain.

Saya tidak mau mengulas panjang tentang apa itu syariat, tetapi sebagian orang terkadang salah kaprah mengatakan ini baju syari atau tidak. Walaupun kreasi nusantara mukena sampai detik ini belum ada yang membid’ahkan. Berbeda dengan beduk di masjid yang kerap kali mendapatkan serangan. Kasian sekali bedug hanya berniat baik untuk mensyiarkan shalat.

Menarik sekali melihat fenomena mukena. Ia menjadi bagian dari syariat yang tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Ketika ada mukena orang langsung mempunyai asosiasi shalat. Sama halnya dengan tasbih, ketika tergeletak di lantai masjid ada asosiasi masyarakat untuk berdzikir. Tapi sayangnya tasbih pun mendapatkan serangan bidah. Kasian sekali tasbih yang berniat baik untuk mengingatkan manusia untuk selalu berdizkir atau setidaknya mengingatkannya sebagai alat berdzikir.

Secara luas, mukena memberikan pelajaran penting bahwa budaya atau tepatnya kreasi kultural bisa dimanfaatkan secara kuat sebagai penyokong aktifitas keagamaan. Ketika budaya telah menyatu dalam agama ia tidak mudah lekang oleh waktu. Agama masuk menjadi ruh dan nafas budaya.

Kreasi kultural dengan demikian menjadi sarana syiar agama yang penting untuk diperhatikan. Ia menjadi sarana yang ramah bagi masyarakat untuk mudah mengenal agama. Agama tidak menjadi gersang dan kaku, tetapi ia menjadi bagian dari gaya hidup dan nafas masyarakat.

Baca Juga:  Sayyidah Khadijah Al – Kubra (1) : Cinta Sejati Sang Nabi dan Tak Bisa Terganti

Nah intinya secara subtantif bahwa menutup aurat ketika shalat adalah syariatnya. Begitu pula bersih dari hadast dan najis adalah syariatnya. Mukena dikenakan secara khusus untuk shalat untuk menutili aurat plus sebagai bentuk terjauh dari najis karena aktktifitas yang lain. Karena shalat dibutuhkan pakaian khusus agar lebih khusu’.

Dengan adanya mukena ini saya menjadi kagum luar biasa bagaimana penyebar Islam mengenalkan syariat dengan balutan budaya yang tidak menghilangkan esensinya. Wow! Ini baru belajar mukena belum yang lainnya semisal bedug, tasbih, tahlilan dan sebagainya. Eh deretan ini bidah ya, berarti perlu bahasan khusus agar tidak numpang ke bahasan mukena.

Apa yang ingin saya tegaskan bahwa strategi dakwah dengan budaya merupakan pendekatan jenius yang bisa melanggengkan simbol dan makna agama sekaligus.

Mukena secara khusus menjadi pembeda baik secara simbolik dan subtantif tentang cara orang Indonesia melaksanakan shalat. Secara simbol yang menggunakan mukena berarti ia muslim nusnatara. Secara subtantif, shalat bagi orang nusantara harus dipersiapkan secara khusus dengan atribut sendiri dan tempat sendiri.

Tidak sembarangan bagi muslim di sini melakukan shalat. Harus ada mukena dan lokasi yang khusus berkomunikasi dengan Tuhan. Tidak mengherankan jika di kampung setiap orang mempunyai mushalla selain ada masjid kampung tempat jamaah. Secara budaya menunjukkan sesungguhnya muslim Indonesia mempunyai pemaknaan simbolik sekaligus subtantif dalam memahami Islam.

Apa rahasianya? Tentu kembali lagi budaya bukan musuh agama dan agama bukan musuh budaya. Budaya menjadi penyokong kuat bagi menjulangnya pohon syariat Islam.

Itulah bedanya dengan muslim kaget dan instan hari ini. Seolah terasa lebih islami dengan mengubah penampilan bahkan sapaan. Biasanya memanggil bapak dan ibu harus menggantinya dengan abi dan umi. Biar lebih mantap kepada yang lain menyapa dengan akhi dan ukhti. Tetapi mungkin hanya bahasa sapaan arab itu yang dikuasai selain bacaan shalat tentunya.

Baca Juga:  Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (1) : Raja yang Dikaruniai Kejayaan dan Kecerdasan

Tentunya tidak ada masalah dengan corak beragama seperti itu. Anggap saja bagian dari ijtihad menyiarkan Islam plus budaya Arabnya. Namun, menjadi bermasalah ketika ia merasa dengan tampilannya sebagai paling islami dan menyalahkan yang berbeda secara berislam.

Mereka yang telah memperkuat keislamannya dengan pendekatan budaya mendadak menjadi obyek sasaran serangan bidah. Mereka seolah menjadi alien budaya yang serasa asing tinggal di tengah masyarakat. Membentuk budaya baru yang ekslusif dengan dalih memperdalam agama.

Nah, rasanya tulisan ini sudah kemana-mana hingga harus saya luruskan kembali. Belajar dari mukena adalah pelajaran penting bagaimana berislam yang sangat adabptabel terhadap budaya. Berislam tidak lantas memberangus budaya, tetapi menjadikan budaya sebagai penyokong syiar islam. Emang bisa seperti itu?

Ya bisalah. Tirulah kecerdasan para penyebar Islam di Indonesia. Pendekatan yang mereka lakukan luar biasa. Dan terpenting kesabaran yang mereka lakukan dalam berdakwah sehingga Islam mendarah daging dalam mssyarakat indonesia. Islam tidak mendadak populer lalu hilang dari pentas ruang publik, karena Islam diinfiltrasi dalam budaya masyarakat.

Dakwah ya harus sabar begjtu rumusnya dalam alquran. Berdakwah sebagai bagian dari jihad penuh kesabaran. Bukan sedikit saja populer sudah terimingi endorsement produk dan komoditas politik. Oh ya..untuk kasus ini memang dakwah yang menuntut sabar juga menuntut keikhlasan.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

hidup masih susah

Sudah Rajin Ibadah Hidup Masih Susah, Tuhan Tidak Adil?

Banyak umat muslim yang merasa kehidupan yang dijalani terasa sangat sulit, padahal ia sudah bekerja …

mencintai negeri

Refleksi Peringatan Maulid Nabi : Mencintai Negeri bagian Meneladani Rasulullah

Peringatan Maulid Nabi sejatinya adalah mempelajari sirah, akhlak dan ekspresi cinta kepada Rasulullah. Semua ini …