Mukena adalah busana khas nusantara dan negara melayu seperti Indonesia, Malasyia dan Filipina yang digunakan wanita muslim untuk beribadah saat Shalat. Ketika muslimah ingin melakukan shalat tidak akan lengkap jika tidak menggunakan mukena. Padahal sejatinya kewajiban dalam shalat adalah menutupi aurat. Tentu saja tidak harus dengan mukena.

Di negara-negara lain seperti Arab Saudi dan negara timur tengah lainnya tidak ada pakaian khusus bagi perempuan ketika melaksanakan shalat. Karena sehari-hari mereka sudah menutupi auratnya. Lalu, di Indonesia kenapa ada mukena?

Zaman dahulu, para wanita Indonesia menutupi badannya hanya dengan satu lembar kain jarik (kain batik) yang dililitkan ke badannya, namun penutup kain tersebut masi memperlihatkan bagian dada atas hingga kepala. Konon, mukena merupakan hasil adaptasi dan cara Wali Songo untuk mengajari muslimah ketika shalat.

Salah satu materi yang didakwahkan para Wali Songo yakni tentang tata cara berpakaian bagi wanita muslim. Hal itulah yang kemudian menimbulkan berbagai macam gagasan. Para Wali Songo kemudian berkompromi dengan wanita Indonesia guna mendiskusikan cara berpakaian ketika beribadah kepada Allah.

Para wali menjelaskan ketika melakukan sholat busana yang mustinya dikenakan adalah pakaian yang hanya memperlihatkan bagian telapak tangan dan wajah saja. Selain itu juga tidak boleh memperlihatkan lekukan tubuh. Pakaian ini tentu saja berbeda dengan pakaian sehari-hari masyarakat pada waktu itu.

Di sini mukena bisa dilihat sebagai strategi para Wali yang mengajarkan muslimah untuk menutup aurat secara bertahap. Para Wali tidak langsung mewajibkan mereka untuk menutupi seluruh badan ketika aktifitas sehari-hari. Hal utama yang diajarkan adalah bahwa shalat harus menutupi aurat.

Itulah alasan pertama kali mukena dirancang dengan maksud agar menyesuaikan cara berbusana Islam ketika bertemu Allah. Kewajiban menutupi aurat bagi wanita muslim dimulai dengan cara menutup aurat sendiri ketika muslimah sedang melakukan ibadah shalat.

Jilbab dan Kekayaan Islam di Nusantara

Penggunaan mukena tersebar di penjuru Indonesia, Malaysia serta kawasan Asia Tenggara. Sehingga dapat dikatakan bahwa mukena merupakan budaya Islam Melayu. Di negara lain seperti Arab Saudi ataupun di Negara bagian barat biasanya hanya mengenakan busana panjang dan mengenakan kerudung untuk menutupi kepalanya.

Sebenarnya penggunaan mukena hanyalah sebatas tradisi di Negara ini. Dalam al-Quran dan Hadits juga tidak di jelaskan tentang kewajiban penggunaan mukena, namun hanya menjelaskan tentang kewajiban muslimah dalam menunaikan shalat dengan menutu seluruh aurat terkecuali bagian wajah dan telapak tangan.

Terdapat sebuah hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

Artinya: “Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab.” (HR. Ahmad 25167, Abu Daud 641, Ibnu Khuzaimah no. 775 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Seharusnya bagi wanita muslimah yang sudah menggunakan pakaian menutup aurat, tentu tidak lagi memerlukan mukena untuk sholat. Namun, karena sudah menjadi kebiasaan maka seringkali para muslimah tetap menggunakan mukena padahal pakaiannya sudah cukup syar’i untuk sholat.

Ekspresi mukena dengan demikian dipahami sebagai bagian dari cara umat Islam di Nusantara mengenal dan melaksanakan Islam dengan cara yang khas. Pada prakteknya, berislam adalah meneguhkan dan mengamalkan ajaran dengan konsisten tanpa harus menghilang lokalitas. Mukena sebuah ekspresi dan kreatifitas masyarakat nusantara dan melayu dalam mengadaptasi Islam yang unik dan berbeda dengan negara lainnya, terutama Timur Tengah.