hijrah milenial
hijrah milenial

Hijrah Millenial (1) : Menyoal Ekspresi Keberislaman di Era Digital

Masa muda sangat dekat dengan masa transisi, mengekspresikan diri, dan mencari eksistensi. Tiga hal tersebut akan melahirkan nilai yang diwariskan oleh para pemuda untuk generasi setelahnya. Dalam hal prinsipal atau bersosial, nilai-nilai tersebut terkontrol oleh agama yang bersifat meberikan aturan sekaligus arahan. Dari masa ke masa, agama tentunya telah mengalami perkembangan yang didominasi oleh industi dan teknologi. Dalam hal tersebut, media tentu memiliki banyak peran.

Di era milenial ini, muncul fenomena hijrah yang menjadi topik perbincangan di berbagai media. Gerakan atau komunitas hijrah tersebut banyak mendapat antusias dari pemuda milenial. Hal tersebut nampak saat komunitas-komunitas tersebut mengadakan suatu event dan diikuti oleh banyak pemuda. Berbekal teknologi, banyak di antara komunitas tersebut yang mengenalkan atau membranding dirinya melalui instagram, youtube, podcast, atau bahkan tik tok yang merupakan media yang tidak bisa lepas dari dunia anak muda dan selalu diikuti perkembangannya. 

Fenomena ini juga semakin marak lantaran banyak pula dari kalangan artis atau publik figur yang juga ikut ‘hijrah’. Pro dan kontra tentunya bermunculan seiring dengan derasnya arus komunitas hijrah. Banyak yang setuju, namun tidak sedikit pula yang menolak.

Istilah hijrah sebenarnya sudah dikenal semenjak peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah di sini merupakan perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Umat Islam yang sebelumnya terganggu dengan tradisi jahiliyah, akhirnya mampu menjalankan ajaran agama dengan sempurna ketika sudah berhijrah.

Fenomena hijrah yang berkembang saat ini juga dikaitkan dengan perubahan pada diri seseorang untuk menjadi lebih baik lagi. Salah satunya adalah, ketika seorang perempuan muslim menyatakan diri untuk berhijab, ia atau bahkan orang di lingkungannya menyebut dirinya telah ‘hijrah’. Mereka beranggapan bahwa yang dilakukan perempuan tersebut adalah berubah menuju jalan yang lebih baik. Istilah ini juga sering kali dipakai oleh kalangan muda, ketika ada perempuan yang memutuskan untuk berhijab, berarti ia telah ber’hijrah’.

Baca Juga:  Mengapa Terdapat Pengulangan Kata Dalam Al-Qur’an? Ini Alasannya!

Inilah yang perlu menjadi koreksi, tidak semua perubahan menuju hal yang lebih baik dapat didefinisikan dengan hijrah. Pemuda harusnya dapat memfilter, mana kiranya yang patut dinamankan dengan hijrah. Menutup aurot, khususnya berhijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah semenjak ia akil baligh. Perintah tersebut tertuang dalam QS. al-Ahzab ayat 59:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat tersebut, perintah berjilbab untu kaum perempuan merupakan kewajiban. Jadi, ketika ada perempuan yang sudah baligh namun belum mengenakan jilbab atau belum menutup aurot dengan sempurna, lalu ia memantapkan hati untuk berjilbab maka yang demikian itu bukanlah hijrah, melainkan taubat. Karena yang dilakukan merupakan perintah yang memang harus dijalankan. Jadi, ia tidak disebut dengan ‘berhijrah’ akan tetapi disebut dengan ‘bertaubat’.

Tren hijrah yang meningkat dikalangan masyarakat juga dapat dilihat dengan bergesernya tren fashion saat ini. Melihat perempuan berjilbab panjang dan lebar sudah bukan lagi pemandangan yang langka. Mengenakan jilbab besar atau bahkan beserta niqab bukan karna proses memahami nilai syariat keagamaan, akan tetapi penggunaan jilbab panjang tersebut merupakan kebutuhan style fashion.

Masih banyak lagi istilah-istilah yang tidak sesuai jika didefinisikan dengan hijrah namun orang menyebutnya dengan hijrah. Ini terjadi lantaran minimnya pengetahuan tentang urusan keagamaan, atau karena sekedar mengikuti tren yamg sedang berkembang. Pemuda yang merupakan kunci masa depan bangsa, harus bijak dalam menghadapi fenomena ini.
perubahan menuju hal yang lebih baik harus selalu dilakukan oleh tiap-tiap pemuda. Namun, jangan asal mengikuti tren tanpa tahu kebenaran dari fenomena yang sedang berkembang. Karena jika hanya mengikuti tren yang sedang berkembang, maka hal tersebut akan hilang dengan perlahan digantikan oleh tren yang lebih modern.

Baca Juga:  Benarkah Sistem Pemerintahan Indonesia Sesuai Syari’at Islam? (Bagian 2)

Oleh sebab itu, fenomena hijrah ini harus ada yang mengawal agar tetap dilakukan secara istikomah namun tidak bertentangan dengan ajaran yang sebenarnya. Seluruh komponen yang ada harus bersatu dan  bersama-sama mewujudkan generasi emas. Terlebih para pemuda yang menjadi juru kunci bangsa. Mereka harus mampu menongkatkan pemahaman masalah keagamaan namun tidak kolot dan staknan. Harus ada inovasi yang dikembangkan agar semakin banyak pe,muda yang tertarik dengan Islam apalagi hijrah namun dengan pemahaman yang sesuai.,

Bagikan Artikel ini:

About M. Arif Rohman Hakim

Avatar of M. Arif Rohman Hakim
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Check Also

shalat tarawih di rumah

Hanya Mengandalkan Surat Al-Ikhlas Saat Tarawih, Jangan Insecure, Inilah Keutamaannya!

Insecure, tentu saja hal ini kerap kali menghantui setiap individu. Insecure atau merasa diri lebih …

gus mus

Jejak Ulama’ Nusantara (2) : Seruan Memanusiakan Manusia Menurut Gus Mus

Dalam tulisan pertama tentang “Jejak Ulama Nusantara (1) : Gus Mus dan Tips Jitu Menipu …