gus mus
gus mus

Jejak Ulama’ Nusantara (2) : Seruan Memanusiakan Manusia Menurut Gus Mus

Dalam tulisan pertama tentang “Jejak Ulama Nusantara (1) : Gus Mus dan Tips Jitu Menipu Setan”, penulis sudah cukup banyak menuliskan keistimewaan Gus Mus dibanding ulama lainnya. Keistimewaan yang penulis maksud disini adalah Gus Mus dilahirkan dalam sebuah tradisi intelektual agama yang sangat kental. Memiliki darah intelektual dari sang ayah, secara genetika telah membentuk Gus Mus juga menjadi seorang penulis.

Lebih hebatnya lagi, karya-karya yang Gus Mus hasilkan tidak hanya perihal wawasan keislaman belaka, namun juga berbagai karya lainnya. Termasuk didalamnya seni melukis dan bersajak.  Satu hal lagi yang membuat Gus Mus terasa istimewa dibanding dengan ulama lainnya, Gus Mus dikenal sebagai ulama santun yang gemar menyuarakan gerakan memanusiakan manusia. Gerakan ini, acapkali Gus Mus sampaikan dalam beberapa kesempatan, termasuk saat menjadi sebuah bintang tamu di acara Mata Najwa.

Ajakan untuk memanusiakan manusia ini Gus Mus sampaikan saat diminta oleh Najwa Shihab untuk memberikan sebuah pesan penutup kepada penonton Mata Najwa. “Tetaplah menjadi manusia. Mengertilah manusia. Manusiakanlah manusia, sebab Tuhan sangat memuliakan manusia.”

Kiai kondang kelahiran Leteh, Rembang, ini kemudian menjelaskan bahwa Manusia makhluk sempurna, bisa merasakan, berfikir, dan memilih mana yang baik dan buruk. Cara mensyukurinya yaitu dengan menjadi dan menjaga kemanusiaan kita. Umat Islam di Indonesia hendaknya mensyukuri anugerah lain dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena diberi jalan takdir sebagai seorang Muslim. Islam yang muncul di Tanah Jazirah Arab, serta telah hadir ribuan tahun lamanya, mampu berkembang dan tumbuh subur di Indonesia.

Lebih lanjut, mertua dari Ulil Abshor Abdala ini kemudian menceritakan pengalamannya saat masih menjadi anggota dewan. Cerita ini diawali dari tekad dan keinginan Gus Mus untuk menjadi seorang politikus yang berbeda dari politikus-politikus lainnya. Tekad ini didasari dari keinginan kuat Gus Mus untuk meluruskan kembali citra ulama-umara. Maka politik Islami dalam pandangan Gus Mus sudah seyogyanya mesti identik dengan upaya-upayanya dalam memanusiakan manusia, sebagaimana Tuhan pun memuliakan manusia.

Baca Juga:  Ini 6 Amalan Gus Mus, Terhindar Dari Virus Corona

Tidak berhenti sampai disini saja, keseriusan Gus Mus untuk menyebarkan gerakan memanusiakan manusia juga Gus Mus sampaikan lewat beberapa karya tulis. Salah satu diantaranya adalah sebuah cerpen berjudul “Gus jakfar”. Dalam Cerpen ini, diceritakan Gus Jakfar merupakan putra Kiai Shaleh, pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin.

Selain dikenal sebagai seorang anak Kiai, Gus Jakfar dikenal memiliki sebuah ilmu linuih yang mampu membaca garis hidup orang lain yang dilihatnya. Hal ini dibuktikan dengan semua ucapan Gus Jakfar benar-benar terjadi. Seperti sebuah pengalaman yang dialami Sumini yang diramal oleh Gus Jakfar akan menikah hanya dengan melihat keningnya yang bersinar. Hal serupa juga dialami oleh Kang Kandar yang diramal akan meninggal oleh Gus Jakfar karena melihat hidungnya yang bengkok. Dan benar, esok harinya Kang Kandar meninggal dunia.

Akan tetapi, perubahan besar terjadi dalam diri Gus Jakfar setelah berguru kepada Kiai Tawakal. Perubahan ini dimulai dari rasa ingin tahu Gus Jakfar melihat sebuah tulisan “Ahli Neraka” di kening Kiai Tawakal.  Padahal Kiai Tawakal merupakan ulama yang disegani dan dikenal memiliki keilmuan agama yang berada di atas rata-rata. Kiai Shaleh juga memiliki banyak santri dan pondok pesantren yang berbentuk bilik-bilik bambu.

Akhirnya Gus Jakfar mendapatkan penjelasan atas tulisan “Ahli Neraka” di kening Tawakal. Jawaban ini didapatkan Gus Jakfar saat mengikuti rutinitas lelono brotho yang dilakukan oleh Kiai Tawakal di suatu malam. Jawaban tersebut diperkuat saat Gus Jakfar melihat Kiai Tawakal asyik tertawa bersama beberapa orang di sebuah warung. Warung tersebut dijaga oleh dua orang wanita paruh baya yang sering tersenyum genit sambil menyajikan minuman kepada pelanggan.

Baca Juga:  Keteguhan Asma’ dalam Kehidupan yang Penuh Derita

Kiai Tawakal kemudian menyuruh masuk Gus Jakfar ke dalam warung dan mengenalkannya ke beberapa orang yang ada di warung tersebut. Singkat cerita, Kiai Tawakal kemudian mengajak pulang Gus Jakfar. Dalam perjalanan pulang itulah, Gus Jakfar kembali menemukan sesuatu yang luarbiasa dari Kiai Tawakal. Dengan kedua matanya, Gus Jakfar melihat Kiai Tawakal mampu berjalan di atas air,

Dalam perjalanan pulang itu pula, Kiai Tawakal menjelaskan kepada Gus Jakfar bahwa cobaan yang paling berat adalah sebuah anugerah atas kekuatan linuwih. Dimana tingkat ujiannya tidak kalah berat dari sebuah musibah. Kiai Tawakal pula menjelaskan bahwa tidak seharusnya Gus jakfar menilai orang lain hanya dengan melihat sekilas tanda di keningnya. Sebab yang berhak menilai seseorang adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ajakan untuk memanusiakan manusia itu juga ditekankan dalam salah satu penggalan puisi Gus Mus yang berjudul “Puisi Islam”. Lirik tersebut terdapat di akhir puisi tersebut. “…..Tuhan, Islamkah aku?”. Penggalan sajak ini seakan memberikan penegasan tentang perlunya untuk memanusiakan manusia tanpa menilai dan menghukuminya lebih buruk dari pribadi kita masing-masing. Semoga kita terhindar dari perilaku riya’ dan senantiasa teguh dalam upaya untuk memanusiakan manusia. Wallahu A’lamu bi Al-Shawab.

Bagikan Artikel ini:

About M. Arif Rohman Hakim

Avatar of M. Arif Rohman Hakim
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Check Also

shalat tarawih di rumah

Hanya Mengandalkan Surat Al-Ikhlas Saat Tarawih, Jangan Insecure, Inilah Keutamaannya!

Insecure, tentu saja hal ini kerap kali menghantui setiap individu. Insecure atau merasa diri lebih …

gus mus

Jejak Ulama Nusantara (1) : Gus Mus dan Tips Jitu Menipu Setan

Bagi masyarakat Indonesia, nama Gus Mus atau KH. Mustofa Bisri bukanlah sesusatu yang asing. Gus …