gus mus
gus mus

Jejak Ulama Nusantara (1) : Gus Mus dan Tips Jitu Menipu Setan

Bagi masyarakat Indonesia, nama Gus Mus atau KH. Mustofa Bisri bukanlah sesusatu yang asing. Gus Mus dikenal sebagai seorang Kiai besar di Kabupaten Rembang. Hingga tulisan ini ditulis, Gus Mus merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudlitut Tholibin di Leteh, Rembang. Sahabat dekat Quraisy Syihab ini juga dikenal luas sebagai seorang sastrawan. Bahkan beberapa sajak karangannya sudah beredar di msyarakat dalam bentuk buku.

Beberapa sajak tulisan Gus Mus yang terkenal diantaranya seperti “Gus Jakfar”, “Perempuan Cantik di Multazam”, “Selamat Tahun Baru, Kawan”, “Apa Kabar, Lirboyo”Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?”, “Kereta”, Kalau Kau Sibuk, Kapan Kau Sempat”, “Di Basrah”, “Gandrung”, Negara Teka-teki”, dan lain-lain.  Selain aktif dalam menulis sajak, Gus Mus juga produktif dalam menuangkan gagasan-gagasannya tentang keagamaan. Seperti buku “Fiqih Keseharian Gus Mus”, “Saleh Ritual Saleh Sosial, “Sang Pemimpin”, “Membuka Pintu Langit, “Lukisan Kaligrafi”, “Koridor”, dan lain-lain.

Sepak terjang Gus Mus dalam bidang kesussastraan dimulai saat diminta untuk membacakan puisi dalam sebuah acara amal di pekalongan. Dalam acara tersebut, Gus Mus kemudian membacakan sebuah cerpen berjudul “Gus Jakfar”. “Gus Jakfar” adalah cerpen yang paling populer bagi publik luas. Istimewanya, cerpen tersebut merupakan cerpen debutan Gus Mus dan langsung menorehkan beragam penghargaan: terpilih cerpen terbaik Kompas 2004 dan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara. Cepen tersebut digerakkan oleh renungan spiritual melalui sosok seperti Gus Jakfar dan Kiai Tawakal. Kiai Tawakal dalam cerita itu menggebrak kesadaran Gus Jakfar. Bahwa pencapaian spiritual tidak dapat diukur dengan kesaktian atau kemampuan linuwih yang dimilki oleh Gus Jakfar.

Karena telah berhasil melahirkan banyak karya inilah yang kemudian memancing banyak orang untuk mengetahui resep pribadi Gus Mus. Usut punya usut, ternyata produktifitas Gus Mus dalam menghasilkan karya diinspirasi langsung oleh Sang Ayah, KH Bisri Musthofa. Sebagian dari kita pasti akan dibingungkan dengan dua nama yang hampir mirip dan hanya dibolak-baik saja, yakni antara Bisri Mustofa dan Musthofa Bisri. Nama pertama, Bisri Mustofa adalah sang ayah, sedangkan nama kedua adalah nama sang anak. Nah, nama kedua inilah yang saat ini sering kita panggil dengan sebutan Gus Mus.

Baca Juga:  Abu Lahab Sebagai Prototipe Islamofobia

Tips Menipu Setan

Dalam Buku “Koridor Renungan”, Gus Mus menjelaskan salah satu tips yang didapatnya dari median sang Ayah untuk mampu terus melahirkan banyak karya. Tips tersebut, disampaikan Gus Mus dalam sebuah kisah yang melibatkan dua tokoh besar Nahdhatul Ulama’, yakni Ayah Gusmus, KH. Bisri Musthofa dan KH Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta,

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika, KH. Bisri Mustofa dan KH. Ali Maksum terlibat perbincangan ringan. Dimana saat itu KH. Ali Maksum mengutarakan perihal kegelisahannya karena seringkali gagal saat menulis kitab.  “Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampean. Bahkan mungkin saya lebih alim, tapi mengapa sampean bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan. Baru separo atau sepertiga, sudah macet tidak bisa melanjutkan,” kelakar KH. Ali Maksum.

Dengan gaya khasnya, KH. Bisri Mustofa menjawab:

“Lha, soalnya sampean menulis lillahi ta’ala (karena Allah ta’ala), sih!”

Sontak KH. Ali Maksum pun kaget dengan jawaban KH. Bisri Mustofa.

“Lho , Kiai menulis kok tidak lillahi ta’ala; lalu dengan niat apa?”

“Kalau saya, menulis dengan niat nyambut gawe. Etos saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalau pun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya, bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu. Kalau belum apa-apa sampean sudah niat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu sampean dan pekerjaan sampean tak akan selesai. Lha, nanti kalau tulisan sudah jadi dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ilmi (untuk menyebarkan ilmu) atau apa. Setan perlu kita tipu.”

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Arif Rohman Hakim

Avatar
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta