setan di Medsos

Tiga Syarat yang Harus Dipenuhi Da’i Millenial

Dakwah merupakan aktivitas yang mulia. Bahkan tidak hanya sekedar mulia, melainkan juga merupakan aktivitas yang sangat mendesak untuk terus digelorakan di dalam zaman modern atau era millenial ini.

Kemajuan di bidang teknologi dan informasi yang sangat pesat sebagaimana yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan ini ternyata juga berdampak pada aktivitas dakwah. Dakwah menjadi serba cepat dan mudah, tidak melulu bergantung pada tenpat atau situasi. Kanal-kanal media sosial yang mudah menjangkau umat menjadi lahan baru aktivis dakwah untuk menyebarkan agama Islam.

Bersamaan dengan itu, ustadz-ustadz pun banyak bermunculan. Bahkan hanya bermodal followers banyak, ia bisa dengan mudah mendapatkan simpati dari masyarakat luas dan pelan-pelan mereka akan mendapatkan predikat sebagai seorang dai atau ustadz.

Tentu fenomena semacam ini patut disambut dengan baik karena syi’ar Islam dapat tercapai. Namun, juga bisa menjadi petaka karena banyak ustadz yang tidak memiliki kapasitas mumpuni. Padahal, dakwah adalah aktivitas mulia karena tujuan utamanya adalah mengajak masyarakat dan mencerahkan masyarakat.

Berkaitan dengan dunia modern atau era millenial, Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menegaskan bahwa manusia modern sangat memerlukan kejayaan jiwa, kepercayaan dan pegangan batin. Ketiga aspek ini akan selalu membersamai manusia. Jika aspek tersebut nihil, maka pengetahuan modern yang mereka kuasai hanyalah akan menghancurkan hidup, bukan membawa kebaikan. Aspek materi akan terus dikejar sekalipun harus mengorbankan jutaan manusia. Oleh sebab itu, lanjut Hamka, kepentingan dakwah agama dalam zaman modern, lebih berlipat ganda daripada dalam zaman-zaman yang lampau.

Ada fenomena yang menyelimuti umat di zaman modern ini. Salah satunya adalah mereka tidak dapat membedakan mana yang baik dan sesuai dengan tuntutan agama, dan mana yang tidak baik dan bertentangan dengan ajaran agama. Mereka seringkali terjabak dalam kondisi terpesona oleh materi dunia, sehingga pendirian dan pandangan hidup mereka terima dari Nabi dan menjadi tuntunan ayat suci, mereka lepaskan dan abaikan begitu saja. Pada titik tertentu, mereka hidup terkatung-katung, kehilangan pedoman dan haluan.

Baca Juga:  Mengurai Ajaran Tasawuf Wali Sanga

Berangkat dari fakta di atas, aktivitas dakwah semakin menemukan relevansinya. Artinya, para da’i sudah seharusnya terjun dalam bidang tersebut, membersamai dan menuntun para manusia modern agar hidup dengan mengamalkan petunjuk dari Alquran dan hadis demi meraih kehidupan yang penuh makna dan bernilai manfaat untuk orang lain.

Berkaitan dengan aktivitas dakwah, Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar telah menguraikan panjang dan detail berkaitan dengan syarat-syarat yang penting untuk diketahui dan harus menjadi pengisi jiwa bagi setiap Muslim yang berminat dan berkhidmat dalam lapangan dakwah.

Setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi seorang da’i supaya dakwah yang diemban dapat maksimal dan benar-benar mampu menjawab tantangan zaman.

Pertama, hendaklah seorang pemberi dakwah mempunyai pengetahuan yang mumpuni dan menguasai sepenuhnya ke mana manusia itu hendak dibawa dan diarahkan dalam dakwahnya. Dakwah adalah penerangan, pencerahan dan pengarahan. Dalam konteks ini, seorang da’i tidak akan bisa mencapai tujuan dakwah jika ia tidak mengetahui dan menguasai kandungan Alquran dan hadis. Bahkan tidak cukup hanya dengan itu, setiap da’i juga dituntut menguasasi sejarah hidup Nabi dan kisah perjuangan para sahabat Nabi.

Kedua, mengetahui keadaan umat yang akan menjadi objek dakwah. Aspek ini penting diperhatian oleh setiap da’i. Karena keadaan audience atau jamaah di setiap wilayah tentu berbeda-beda. Perbedaan itu bisa lahir dari segi pendidikan, lingkungan, iklim dan lain sebagainya sehingga kondisi ini tentu saja otomatis memerlukan perlakuan khusus.

Berkaitan dengan syarat kedua ini, murid Muhammad Abduh, yakni Rasyid Ridha mengemukakan sebuah contoh, yaitu sebuah sejarah pada saat Nabi Muhammad wafat, para sahabat berselisih begitu tajam mengenai siapa yang pantas menggantikan posisi Nabi bagi kaum Muslimin saat itu. Setelah diskusi alot selama dua hari, ketemulah solusinya, yakni sahabat Abu Bakar yang menggantikan Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam.

Baca Juga:  Ternyata Iblis Sempat Ingin Bertaubat, Tapi Terhalang Sifat ini

Di masa kepemimpinan Abu Bakar, keadaan kala itu sungguh tidak stabil. Hal ini ditandai dengan munculnya pemberontakan di mana-mana, bahkan kondisi semakin runyam karena beberapa daerah melepaskan diri dari kepemimpinan Abu Bakar dan banyak pula yang mengaku sebagai Nabi (Nabi palsu). Melihat situasi demikian, Abu Bakar segera mengambil sikap.

Beliau dengan berani dan tegas memadamkan para pemberontak. Pengetahuan Abu Bakar tentang ethnografi kabilah-kabilah yang membangkan dan melakukan perlawanan menjadi bekal utama kesuksesan Abu Bakar dalam meredam kecamuk dan pemberontakan di masa kepemimpinannya.

Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ada aspek lain yang harus dikuasai oleh setiap da’i, yakni jeli dalam melihat dan menyikapi keadaaan masyarakat atau umatnya.

Ketiga, ilmu akhlak. Secara sederhanya, ilmu ini diartikan sebagai ilmu yang mengupas perbedaan yang baik dan yang tercela. Nabi Muhammad adalah pribadi yang shaleh dan modal ini yang menjadi salah satu kunci kesuksesan dakwah beliau.

Ilmu akhlak di sini lebih menitikberatkan sebuah perangai atau keteladanan yang baik. Dengan demikian, seorang da’i sudah seyogianya fasih secara lisan dan terpuji secara perbuatan. Contoh teladan yang baik dari seorang pendakwah merupakan hal yang utama.

Ada sebuah kritik tajam yang dialamatkan kepada para da’i di zaman ini, yakni mereka gemar mengedukasi masyarakat melalui ceramah keagamaannya tentang hidup yang sederhanya, tetapi mereka di ruang privat menumpuk harta, hidup glamor dan sejenisnya. Tentu yang demikian bukanlah contoh yang baik.

Kyai Zainuddin MZ atau yang akrab disebut sebagai kyai sejuta umat pernah menegaskan bahwa: “Banyak orang memberikan contoh, tapi sedikit orang yang memberikan contoh. Memberi contoh itu mudah, tapi menjadi contoh itu sangat sulit.” Menjadi contoh merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh dai millenials. Jika tidak, maka umat ‘akan’ membully dan kemudian mereka pelan-pelan akan meninggalkan kajian-kajian keagamaan.

Baca Juga:  Manakah Lebih Penting, Menghafal Al-Quran atau Mempelajari Ilmunya?

Demikianlah tiga syarat yang harus dipenuhi setiap Muslim yang hendak menempuh jalan sebagai seorang da’i di era millenial seperti saat ini. Sesungguhnya ada banyak syarat yang harus dipenuhi seorang da’i dalam jalan dakwahnya, namun tiga hal di atas kiranya adalah hal-hal dasar yang harus dipenuhi sebelum ke syarat yang lainnya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir