fatwa
fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa mufti haruslah seorang mujtahid, mufti tidak lain dan tidak bukan adalah mujtahid itu sendiri. Satu person dengan fungsi yang berbeda. Namun, sekelompok pakar yang lain mempunyai pandangan yang berbeda. Menurut kelompok ini, mufti tidak harus dari kalangan mereka yang bergelar mujtahid dengan tetap memperhatikan kriteria dan prasyarat yang harus dipenuhi. Apalagi di lingkungan dan situasi yang sulit mendapati ulama level mujtahid.

Idealnya seorang mufti memang harus berpangkat mujtahid. Lalu mungkinkah saat ini gelar mujtahid dapat diraih? Apa saja sebenarnya prasyarat menjadi mujtahid? Artikel ini akan mengupas tuntas syarat-syarat seorang mujtahid serta kemungkinan didapatinya ulama bergelar mujtahid di zaman sekarang ini dengan dukungan kecanggihan teknologi dan berbagai fasilitas yang memadai.

Syarat-syarat Mujtahid

Dalam menetapkan kriteria mujtahid para ilmuwan Islam memberikan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Secara global syarat-syarat mujtahid meliputi: (a) menguasai gramatika bahasa Arab; (b) menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an; (c) menguasai ilmu-ilmu Hadis; (d) mengetahui objek ijma’ dan perbedaan di kalangan pakar fikih; (e) mengetahui metode qiyas; (f) menguasai ilmu ushul fikih; dan (g) memahami tujuan pokok syariat (maqashid al-syari’ah).

Setidaknya tujuh kriteria di atas menjadi prasyarat mencapai gelar mujtahid, meskipun dalam detailnya ulama berbeda-beda dalam memberikan rincian syarat tersebut. Misalnya, Muhammad Abu Zahrah, pakar hukum Islam bermazhab Hanafi dan profesor Universitas Kairo ini merinci ada enam dengan tidak memasukkan poin ilmu ushul fikih sebagai salah satu syarat. Karena dengan mengetahui ijma’, qiyas, tujuan pokok syariat sekaligus telah mencakup pembahasan ilmu ushul fikih meskipun belum menyeluruh.

Baca Juga:  Ulama Aceh Keluarkan Fatwa Larang Umat Islam Pasang Simbol Islam di Peci Sampai Mobil

Sementara Wahbah Zuhaili, seorang profesor hukum Islam dan filsafat hukum Suriah merinci menjadi delapan dengan menempatkan pengetahuan tentang persoalan nasikh-mansukh (teks yang menghapus dan yang dihapus) sebagai poin tersendiri, meskipun include dalam pembahasan ilmu Al-Qur’an dan ilmu Hadis. Di samping perbedaan dalam memerinci, dalam hal urutan juga tidak ada hierarki yang baku. Selanjutnya, masing-masing poin syarat di atas akan diulas bersama sebagian kriteria batas minimal yang harus terpenuhi.

Pertama, menguasai bahasa Arab. Pakar ushul fikih bersepakat bahwa menguasai bahasa Arab merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang mujtahid. Al-Qur’an dan hadis yang menjadi sumber primer dalam memproduksi hukum Islam menggunakan bahsa Arab. Merupakan hal yang mustahil mau memproduksi hukum dari sumber yang berbahasa Arab tanpa menguasai bahasa yang digunakan sumber tersebut. Bukan tanpa alasan syarat ini diletakkan di nomor wahid, sebab hal ini menjadi sarana dan pintu masuk dalam memulai kerja-kerja ijtihad.

Dimaksud menguasai bahasa Arab meliputi ilmu gramatika (nahwu-sharraf), ilmu balaghah (bayan, ma’ani, badi’), struktur dan makna kebahasaan, semisal kalimat umum (‘amm), kalimat khusus (khash), kalimat global (mujmal), kalimat terperinci (mubayyan) dan lain-lain.

Menurut ulama jumhur yang dikehendaki dari persayaratan ini bukanlah penguasaan terhadap gramatika bahasa Arab hingga mencapai level Imam Khalil, Imam Sibawaih, pakar nahwu yang sangat populer kualitas keilmuannya. Juga, tidak harus menguasai seluruh kosa kata Arab, yang terpenting mampu memahami adat kebiasaan, budaya, dan penggunaan komunikasi orang Arab, sehingga mampu membedakan maksud dan makna sebuah kalimat. Dengan bekal ini dimungkinkan mampu memahami Al-Qur’an dan Hadis serta memproduksi hukum syariat. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 142-144., Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Beirut: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, tt., hal. 380., Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islamiy, Jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, Cet. I, 1986, hal. 1047-1048).

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Dahan Pohon yang Tetap Kokoh Tanpa Akar

Kedua, menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an terutama yang terkait dengan ayat nasikh-mansukh. Ilmu-ilmu Al-Qur’an sangatlah luas, oleh karena itu ulama memberikan batasan minimal, yaitu menguasai ayat-ayat yang mengandung hukum (ayatul ahkam) yang berjumlah sekitar 500 ayat. Namun, untuk mengetahui makna dan petunjuk ayat-ayat tersebut mengharuskan untuk memahami kandungan ayat Al-Qur’an secara global. Al-Qur’an merupakan kesatuan utuh yang saling terkait satu sama lain. Imam al-Asnawi mengatakan, “Untuk mengetahui perbedaan ayat hukum dengan ayat yang lain harus mengetahui seluruh isi Al-Qur’an secara global”.

Akan tetapi, menurut sebagian ulama tidak disyaratkan harus tahfidz, hafal seluruh ayat Al-Qur’an, yang terpenting mengetahui letak-letak surat dan ayat yang dibutuhkan. Artinya, ketika membutuhkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tertentu dapat mencari dan menemukan letak surat dan ayatnya. Lebih-lebih dengan kecanggihan teknologi saat ini yang mampu melakukan searching dengan cepat. Tentu hafal itu lebih baik, namun tidak menjadi persyaratan. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 132., Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Beirut: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, tt., hal. 382., Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islamiy, Jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, Cet. I, 1986, hal. 1046). [](bersambung…)

Wallahu a’lam bisshawab.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …