fatwa
fatwa

Memahami Fatwa (6): Haruskah Mufti Seorang Mujtahid?

Pada artikel sebelumnya telah diulas soal kriteria seorang mufti (baca kembali unsur-unsur fatwa dan kriteria seorang mufti). Salah satu kriteria yang menyangkut kemampuan mufti dalam memberikan fatwa adalah harus menguasai hukum-hukum syariat. Syarat ini meniscayakan seorang mufti harus paham ushul fikih, kaidah fikih, dan tujuan-tujuan pokok syariat (maqashidus syari’ah). Lalu sejauh mana pemahaman yang dibutuhkan oleh seorang mufti terkait syarat tersebut? Haruskah sampai pada derajat seorang mujtahid, ataukah satu level di bawahnya?

Ada dua pendapat dalam menyikapi hal ini. Sekelompok ulama yang juga merupakan pendapat mayoritas pengikut mazhab Syafi’i menyatakan bahwa mufti haruslah seorang mujtahid. Selain mujtahid tidak diperkenankan memberikan fatwa, karena hanya mujtahid yang mengetahui bagaimana metode pengembilan hukum dari sumber asalnya melalui proses yang benar.

Menurut golongan ini orang yang bertaklid (muqallid) tidak boleh mengeluarkan fatwa, dikarenakan belum memiliki pemahaman yang memadai tentang hukum Islam. Seorang muqallid yang berfatwa dikategorikan sebagai fatwa tanpa landasan ilmu yang kuat, sehingga termasuk perbuatan yang haram. (Syekh Jamaluddin al-Qasimiy, Al-Fatwa fi al-Islam, tt., hal. 12., Najmuddin Ahmad bin Hamdan al-Harraniy, Shifah al-Mufti wa al-Mustafti, Riyad: Dar al-Shumai’iy, Cet. I, 2015, hal. 153., Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 104).

Level/Tingkatan Mujtahid

Derajat keilmuan sesorang tentu tidak akan sama. Demikian pula berlaku dalam dunia mujtahid. Mujtahid mempunyai level-level yang berbeda. Secara global mujtahid dapat dikategorikan menjadi dua level, yaitu mujtahid independen (mustaqil) dan mujtahid non-independen (ghairu mustaqil). Mujtahid independen adalah ulama yang melakukan ijtihad dengan metode dan kaidah yang diciptakan sendiri, tidak mengekor terhadap ulama lain. Mereka menggali hukum dari sumber asalnya menggunakan metode dan kaidah-kaidah ushul yang dibuatnya sendiri. Termasuk dalam kategori pertama ini adalah para pakar hukum (fukaha) kalangan sahabat, tabiin, dan para imam mazhab yang empat, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Sedangkan mujtahid non-independen terbagi dalam empat kategori. Pertama, mujtahid mutlak atau disebut juga mujtahid muntasib, yaitu mujtahid yang berafiliasi dengan mujtahid independen. Mujtahid ini meminjam metodologi ijtihad yang digunakan oleh mujtahid independen. Artinya, mereka  menggunakan teori ushul fikih yang diciptakan oleh mujtahid independen, namun dalam produk fikih terkadang berbeda. Di antara mujtahid yang tergolong kelompok ini adalah Abu Yusuf, Muhammad, Zufar dari kalangan Hanafiyah. Ibnu al-Qasim, Asyhab dari kalangan Malikiyah, al-Buwaithi, al-Za’farani, al-Muzanni dari kalangan Syafiiyah. (Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islamiy, Jilid II, Beirut: Dar al-Fikr, Cet. I, 1986, hal. 1080).

Kedua, mujtahid muqayyad (terikat), yaitu mujtahid yang terikat dengan imam mazhabnya. Mujtahid ini berposisi independen dalam menguatkan ketetapan mazhabnya dengan argumentasi dan dalil, namun tidak melampaui teori dan kaidah yang digunakan imam mazhabnya. Mereka ini memiliki pengetahuan yang luas dalam fikih, ushul fikih, dalil-dalil hukum secara detail dalam kapasitas meneguhkan imam mazhabnya. Mereka memposisikan pernyataan dan ketetapan imam mazhabnya sebagai landasan rujukan dalam memproduksi hukum sebagaimana mujtahid independen memperlakukan nas syar’i. Jika dihadapakan pada suatu kasus hukum, mereka langsung merujuk pendapat fikih imam mazhabnya. Termasuk mujtahid macam ini adalah al-Sarakhsi dari kelompok Hanafiyah, Ibnu ‘Arabi dari golongan Malikiyah, al-Ghazali perwakilan Syafiiyah. (Abu ‘Amr Utsman bin Abdurrahman, Adab al-Mufti wa al-Mustafti, tt: Alam al-Kutub, Cet. I, 1986, hal. 93-95., Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 163).

Ketiga, mujtahid tarjih, yaitu mujtahid yang levelnya tidak sampai pada tingkatan mujtahid muqayyad. Mereka mempunyai skill ijtihad, mempunyai pengetahuan tentang dalil-dalil imam mazhabnya, tetapi kurang menguasai ilmu ushul fikih dan ilmu-ilmu pendukung istinbat hukum. Mereka memiliki kemampuan mentarjih pendapat imam mazhabnya dari pada pendapat lain, mentarjih antara pendapat imam mazhab dengan para murid-muridnya. Level ini yang diduduki oleh mayoritas ulama mutaakhkhirin sejak akhir abad ke-V hijriyah hingga sekarang.

Keempat, mujtahid fatwa, yaitu mereka yang menguasai maslah fikih imam mazhabnya, namun tidak menguasai dalil-dalil yang dijadikan landasan. Mereka sangat menguasai kitab-kitab fikih yang dikarang imam mazhabnya beserta kitab-kitab karya murid-murid imam mazhabnya. Kelompok ini semacam meriwayatkan dan menyampaikan pendapat imam mazhab yang tertuang dalam karya-karyanya dan karya murid-muridnya. (Abu ‘Amr Utsman bin Abdurrahman, Adab al-Mufti wa al-Mustafti, tt: Alam al-Kutub, Cet. I, 1986, hal. 98-100., Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 107-109).

Jika digabung secara keseluruhan maka level mujtahid ada lima. Satu macam mujtahid independen, sedangkan empat macam mujtahid non-independen. Lima macam level mujtahid inilah yang menguasai betul terhadap persoalan-persoalan fikih imam mazhab di luar kepala, berkemungkinan mengetahui masalah fikih yang belum dikuasai secara cepat dengan cara merujuk pada kitab-kitab fikih yang sudah terbiasa mereka pelajari. Mereka inilah yang layak untuk mengeluarkan fatwa. []

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

kebijakan pemimpin

Kaidah Fikih: Garis-garis Haluan Kebijakan Pemimpin

Kriteria yang paling mendasar dan sangat prinsip bagi seseorang yang akan memberikan keputusan untuk khalayak …

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

escortescort