aliran sesat di kawarang
aliran sesat di kawarang

Aliran Sesat Muncul di Karawang, Bagaimana Langkah Terbaik Menghadapi Aliran Sesat?

Masyakarat Karawang dihebohkan dengan pengakuan Seorang pria serta sepasang wanita yang mengaku Imam Mahdi dan Ratu Adil Republik Kutatandingin. Ternyata Pria yang mengaku Imam Mahdi tersebut merupakan warga asli Kampung Cibeureum, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Karawang, Sujana. Diketahui, kata Sujana, pria yang mengaku Imam Mahdi dalam video viral tersebut berinisial RSD dan merupakan warga asli Kabupaten Purwakarta. Lalu, sebagai seorang Muslim, bagaimanakah sikap terbaik yang bisa kita lakukan dalam menghadapi berbagai macam ajakan yang tidak kita ketahui apakah ajaran itu benar atau menyimpang?

Langkah Menghadapi Aliran Sesat

Ada beberapa langkah yang bisa ambil dalam menghadapi berbagai macam ajakan supaya bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah, yaitu:

Pertama, Memberi Kesempatan Kepada Akal Untuk Memahami

Jika datang sebuah ajakan, janganlah tergesa-gesa menerima atau menolaknya, meskipun ajakan itu dibarengi dengan sikap memaksa, menyudutkan dan memaparkan pandangannya dengan bertaburan dalil-dalil. Berilah kesempatan dan waktu kepada akal untuk memikirkan kebenarannya. Jangan sampai kita menerima sesuatu sementara akal kita tidak memahaminya dengan baik, sehingga akhirnya kita hanya ikut-ikutan belaka. Allah SWT telah memberikan peringatan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Q.S. Al Isra: 36).

Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah jangan mengikuti apa yang tidak kamu ketahui dan tidak penting bagimu. Manusia bisa menetapkan suatu hukum jika ia memiliki pengetahuan mengenai hal itu, sehingga ia menetapkan hukum berdasarkan pengetahuannya.

Kedua, Memberi Kesempatan Kepada Hati Untuk Merasakan

Hati juga menjadi salah satu alat yang bisa memberikan pertimbangan kepada kita. Jika datang sebuah ajakan, sudah semestinya kita berikan kesempatan kepada hati untuk merenungkan dan merasakannya. Jangan kita mengabaikan perasaan kita dan dengan tiba-tiba menolak atau menerima ajakan tersebut. Rasulullah menjelaskan bahwa hati mampu memberikan pertimbangan kepada kita tentang hal yang baik dan hal yang buruk.

Suatu saat, seorang shahabat Nabi bernama Wabishah Bin Ma’bad radhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: “Apakah kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: Benar”. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (H.R. Ahmad)

Ketiga, Menumbuahkan Kesadaran

Sesungguhnya semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Kita tidak bisa berlepas diri dengan segala apa yang kita perbuat dengan alasan sudah ada yang menanggung dosa-dosa kita. Dosa tidak dapat dititipkan atau ditanggung orang lain. Maka rugilah seseorang yang hanya ikut-ikutan, padahal orang yang diikutinya akan berlepas diri dan tidak mau menanggung dosa orang tersebut di akhirat. Firman Allah ta’ala: “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. An-Najm: 38-39)

Keempat, Bertanya Kepada Orang yang Ahli

Obat bagi orang yang tidak tahu adalah bertanya kepada yang lebih tahu. Oleh karena itu, apabila datang suatu ajakan dan kita tidak terlalu memahami duduk persoalannya, maka kita harus mencari orang yang kita anggap ahli dalam bidang tersebut dan bertanya kepadanya. Bahkan jika perlu, kita juga bisa mencari nara sumber lain sebagai pembanding, agar kita betul-betul mengerti dan memahaminya dengan baik. Allah subhanahu wataala berfirman: “… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (Q.S.An Nahl: 43).

Seseorang dikatakan sebagai ahli apabila memiliki dua sifat: pertama, orang tersebut mempunyai kapasitas yang memadai dibidangnya, dan kedua, orang tersebut mempunyai keshalihan yang terpancar dari akhlak dan perilakunya. Kepada mereka itulah kita bertanya. Jika bertanya kepada sembarang orang, bisa jadi kita semakin tersesat dan tidak menemukan kebenaran. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari).

Kelima, Mengikuti Kebenaran yang Mayoritas

Di zaman ini, insya Allah masih banyak orang shalih yang hidup di sekeliling kita. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran. Jika ada suatu ajakan tertentu kepada kita, ikutilah pendapat mayoritas orang shalih seperti mereka. Hati-hati dengan pendapat dan dalil aneh yang dikeluarkan oleh segelintir orang dalam beragama. Insya Allah, orang shalih yang banyak itu akan menunjukkan kita kepada kebenaran. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah mengingatkan: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as-sawaadul-a’zham yaitu al haq dan ahlul haq” (HR. Ibnu Majah).

Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan as-sawaadul-a’zham dalam hadits tersebut adalah jama’ah kaum Muslimin, dan termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Maka ikutilah mereka jika melihat perselisihan atau perbedaan pendapat dalam agama.

Dari penjelasan diatas dapat dipetik sebuah hikmah bahwa terdapat beberapa langkah untuk menghadapi berbagai macam ajakan supaya bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah, yaitu: pertama, memberi kesempatan kepada akal untuk memahami, kedua, memberi kesempatan kepada hati untuk merasakan, ketiga, menumbuahkan kesadaran, keempat, bertanya kepada orang yang ahli, kelima, mengikuti kebenaran yang mayoritas. Marilah kita berupaya mewujudkan sikap tersebut dalam diri kita. Dan dengan demikian, semoga kita dilindungi dari segala macam ajakan yang menyesatkan, serta menuntun kita menuju jalan-Nya yang benar.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

manfaat membaca al-quran

Potret Sejarah Masuknya Qira’at Hafs di Indonesia

Tulisan ini mengkaji tentang qira’at riwayat hafs. Pada mulanya Nabi saw mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada …

self management

4 Solusi untuk Menghilangkan Kesedihan dalam Islam

Sedih merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satu pun manusia bisa lepas dari kesedihan, termasuk …

escortescort