ilustrasi sekolah
ilustrasi sekolah

Begini Kata Keluarga SMP Jaksel yang Disebut Ditegur agar Pakai Jilbab

Jakarta – Kasus pemaksaan mengenakan atribut agama di sekolah negeri kembali mencuat setelah sebelumnya terjadi di SMAN 1 Banguntapan, Yogyakarta. Kali ini terjadi di DKI Jakarta, kasus pemaksaan ditemukan oleh anggota DPRD DKI Fraksi PDIP Ima Mahdiah. Sebuah SMP di Jakarta (Jaksel) menegur siswinya yang tidak mengenakan jilbab di sekolah.

Sebuah SMP di Jakarta Selatan (Jaksel) dilaporkan menegur salah satu siswinya untuk mengenakan jilbab. Pihak keluarga memberikan keterangan soal kejadian tersebut.
Siswi yang diduga dipaksa memakai jilbab diketahui berinisial R. Wali murid sekaligus kakak R, DN (24), menceritakan awal mula adiknya ditegur guru di sekolahnya untuk memakai jilbab. DN menyebut adiknya itu tiba-tiba meminta dibelikan jilbab lebih dari satu.

“Adik saya ini belum pakai kerudung jika di sekolah dan saya mengetahui permasalahan ini ketika adik saya yang meminta dibelikan kerudung lebih dari satu. Saya bertanya ‘Kenapa banyak banget? Kan dipakai hanya hari Jumat saja’,” kata DN saat dikonfirmasi, seperti dikutip dari laman detik.com Rabu (3/8/2022).

DN mengatakan adiknya ditegur oleh dua guru agar memakai jilbab. Dia sendiri belum mengetahui secara rinci kapan teguran itu disampaikan kepada adiknya.

“Adik saya bilang sudah ada dua guru yang menegur mengenai kerudung. Teguran seperti, ‘R kamu kan muslim pakai kerudung ya’. Guru yang lain bahkan menegur di depan kelas sehingga teman temannya melihat dan mendengar teguran yang diberikan kepada adik saya,” cerita DN.

Menurut DN, perbuatan itu membuat adiknya merasa tertekan dan tidak nyaman bersekolah. Tak sampai di situ, guru sekolah R kembali menegur terkait persoalan penggunaan jilbab.

“Teguran dari guru-guru tersebut yang membuat adik saya tertekan dan menjadi tidak nyaman untuk sekolah,” ujar DN.

Baca Juga:  Sekolah di Prancis Larang Wanita Kenakan Jilbab, Komisi HAM PBB: Langgar Hak Sipil Internasional

“Bahkan, suatu hari ada chat WA adik saya kepada saya ‘Kakak udah ngomong ke sekolah aku soal kerudung’ dan ‘Kak aku takut ditegur lagi sama gurunya’, jika sudah ada statement seperti ini kan berati adik saya sudah merasa tertekan,” sambungnya.

Atas hal tersebut, DN sangat menyayangkan pihak sekolah yang memaksa adiknya berjilbab. DN mengungkapkan Dinas Pendidikan sudah memonitor kejadian itu dan melakukan evaluasi.

“Kasihan anak yang niatnya mau sekolah malah tidak merasa nyaman dan aman hanya karena teguran seperti ini. Memang masalah ini sudah ditindaklanjuti oleh Dinas Pendidikan dan akan menjadi evaluasi bagi mereka,” papar DN.

Kasus tersebut disebut DN sudah selesai. Dia berharap kejadian serupa tidak terulang.

“Saya juga sudah dihubungi dinas pendidikan juga sekolah dan kasus ini sudah saya anggap selesai. Namun saya harapkan kasus yang menimpa adik saya ini tidak terulang kepada adik saya lagi dan anak-anak lainnya di luar sana yang mengalami hal serupa,” tukasnya.

Anggota DPRD DKI Terima Laporan
Sebelumnya, anggota DPRD DKI dari Fraksi PDIP Ima Mahdiah mendapat laporan adanya SD di Jakbar dan SMP di Jaksel yang memaksa siswi memakai jilbab. Ima mengatakan pihak sekolah menyampaikan aturan wajib berjilbab hanya secara lisan.

Ima menerima laporan SMP negeri di Jaksel memaksa siswi menggunakan jilbab. Ima menyebut ada intimidasi terhadap murid.

“Kalau sekolah yang lain itu kan berdasarkan mereka chat WA ke saya, tapi mereka masih minta dilindungi, jangan sampai nanti ada anaknya jadi di-bully atau apa. Yang pasti sekolah nggak berani instruksi secara tertulis, tetapi di sini murid-murid diintimidasi,” kata Ima.

“Contoh, kebetulan tim saya cerita adiknya dipaksa pakai kerudung, padahal dia nggak mau pakai kerudung dan sudah beli seragam yang biasa akhirnya dipaksa. Jadinya beli seragam lagi gitu. kalau yang dia punya uang, kalau dia nggak punya uang, satu sisi saya tanya, ini diperintahkannya secara apa? Secara lisan,” lanjutnya.

Baca Juga:  Pengadilan Tinggi Karnataka Putuskan Jilbab tak Wajib, Ulama India Ambil Sikap

Penjelasan Disdik DKI
Wakil Kepala Disdik DKI Jakarta Purwosusilo awalnya menjelaskan pihaknya telah melakukan pengecekan ke sekolah usai mendengar kabar siswi SD negeri di Jakbar dipaksa mengenakan jilbab. Hasilnya, kata dia, tidak ada pemaksaan yang dilakukan pihak sekolah maupun guru kepada siswi untuk memakai jilbab.

Dia juga menjelaskan soal laporan pemaksaan penggunaan jilbab terhadap siswi di SMP negeri di Jaksel. Purwosusilo mengatakan pihaknya telah menemui keluarga dari siswi SMP tersebut untuk berkomunikasi.

Hasilnya, kata dia, tidak ditemukan adanya pemaksaan terhadap siswi SMP negeri untuk memakai jilbab. Purwosusilo mengatakan pihak sekolah juga tidak pernah memaksa siswi memakai jilbab.

“Kakak anak itu juga menyadari ‘Sebetulnya tidak begitu, Pak’. Jadi kalau yang di SMP itu tidak ada sekolah memaksa (siswi pakai jilbab), tidak ada. Jadi, di sekolah tidak ada menyampaikan memaksa menggunakan jilbab kepada muslimah pun, apalagi yang muslim, tidak disinggung sama sekali,” ujarnya.

Dia pun mengingatkan para guru agar hati-hati saat memberi nasihat kepada murid. Dia juga berharap orang tua murid mengkonfirmasi ke sekolah apabila mendapat kabar dari anak.

“Itu sudah clear, sudah tidak ada masalah. Justru kalau paling pokok adalah semua komponen, termasuk juga, kami di dinas, di sudin, itu justru mengingatkan kalau ada seperti ini, kita sudah melakukan pembinaan, intinya harus hati-hati. Guru itu menyampaikan kepada peserta didik harus hati-hati, apalagi anak SD,” ujar Purwosusilo.

“Orang tua juga tidak boleh menerima secara bulat, tapi juga harus konfirmasi ke sekolah. Guru juga ditanya ngomong apa adanya di-crosscheck dengan ini, tidak ada (paksaan),” imbuhnya.

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

kisah nabi adam

Begini Kisah Wafatnya Nabi Adam dan Permintaan Terakhirnya

Jakarta – Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam …

Paham radikalisme pernah menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan Salah satunya di Desa Mekarwangi Cibalong Yuk lihat keseharian warga Cibalong Pradita Utamadetikcom

Thogutkan Pancasila, Masuk Surga Cukup Bayar Rp 25 Ribu

Garut – Penyebaran paham radikal sudah seperti virus Covid- 19, menyebar dan menyusup ke berbagai …