laki laki dan perempuan
laki laki dan perempuan

Benarkah Islam Melarang Laki-laki dan Perempuan Berbaur?

Penulis terkejut mendengar penuturan seorang ibu yang aktif di salah satu organisasi keagamaan. Suatu ketika seseorang berkata bahwa aktifitasnya aktif di organisasi keagamaan tersebut sama saja menumpuk dosa untuk suaminya, sebab suami telah mengizinkan istrinya melakukan aktifitas yang terlarang secara syari’at. Pun dirinya telah berbuat kemaksiatan.

Ihwal celoteh orang itu, ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan dalam suatu majlis) adalah larangan agama. Lagi pula, lanjut orang tadi, perempuan apabila keluar rumah apalagi sampai berkumpul dengan laki-laki bukan mahramnya rentan terjadi fitnah.

Benarkah demikian? Apakah ikhtilath haram secara mutlak?

Tentu tidak bijaksana apabila memahami suatu hukum secara parsial dan reduktif. Memahami hukum (fikih) harus syamil dan sempurna supaya tidak terjadi “penyempitan” ajaran. Hal itu bisa menghilangkan pondasi utama syari’at Islam sebagai agama yang membawa kemudahan bagi manusia dan sama sekali tidak untuk memberatkan manusia.

Dalam Mu’jam Lughah al Fuqaha dan Mausu’ah al Fiqhiyyah, ikhtilath berasal dari kata khulthah bermakna berkumpul atau bercampurnya sesuatu pada sesuatu yang lain, baik keduanya dapat dibedakan atau tidak.

Ikhtilath kemudian menjadi istilah dalam fikih untuk arti bercampur baurnya beberapa laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki hubungan kemahraman dalam satu tempat. Sementara, kalau hanya satu orang perempuan dan satu orang laki-laki disebut khalwat. Hal ini seperti termaktub dalam Qadhaya al Mar’ah al Mu’ashirah.

Di kehidupan modern saat ini, ikhtilath sangat sulit untuk dihindari. Di pasar, jalan raya, tempat umum, kantor, sekolah, gedung pertemuan, gedung olah raga dan tempat-tempat umum yang lain, sulit untuk membagi dua setiap tempat tersebut. Satu bagian khusus laki-laki dan satu bagian untuk perempuan. Sama sulitnya membagi bumi menjadi dua belahan, satu belahan untuk perempuan dan selebihnya untuk perempuan.

Tentang ikhtilath ini ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan boleh ada pula yang berpendapat sebaliknya. Perbedaan ini berangkat dari pemahaman dalil yang berhubungan dengan ikhtilath.

Dalam al Qur’an, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (QS. Al Ahzab: 53).

Menurut ulama-ulama tafsir otoritatif, ayat ini berlaku umum, tidak khusus terhadap istri-istri Nabi saja. Laki-laki, ketika memiliki suatu keperluan terhadap perempuan yang bukan mahramnya wajib berbicara dari balik tabir. Artinya, tidak boleh berhadapan dan saling melihat secara fisik.

Dalam kitab Jami’ al Hadits diriwayatkan, suatu ketika Nabi menyuruh perempuan-perempuan untuk tidak berada di jalan laki-laki sepulang dari masjid. Nabi menyuruh mereka pulang dari masjid setelah jamaah laki-laki tidak ada. Maksud Nabi, supaya tidak campur baur antara laki-laki dan perempuan di jalan.

Dua dalil di atas sebagai hujjah pendapat yang melarang ikhtilath. Alasannya, seperti termaktub dalam Is’ad al Rafiq dan Syarah Zad al Mustaqni’, karena ikhtilath dapat memantik syahwat sekaligus berpotensi menimbulkan fitnah dan dapat menimbulkan keinginan untuk menjamah lebih jauh.

Sementara, menurut pendapat ulama yang membolehkan ikhtilath karena ada beberapa hadits Nabi yang menerangkan beberapa aktifitas perempuan dalam ruang publik. Seperti dijelaskan dalam Mu’jam Kabir li al Thabrani, banyak kalangan perempuan yang ikut serta dalam suatu peperangan, baik sebagai tenaga medis ataupun juru masak, bahkan ada yang ikut terjun langsung ke medan perang.

Dengan demikian, ada dalil yang melarang ikhtilath dan ada dalil yang membolehkan. Ketika ada dua dalil yang bertentangan seperti di atas, para ulama kemudian mengkompromikannya. Sehingga ada kesimpulan hukum dalam beberapa kondisi ikhtilath diperbolehkan. Bahwa, dalil yang melarang ikhtilath diarahkan pada ikhtilath yang mengakibatkan khalwat. Adapun dalil yang menunjukkan bolehnya ikhtilath diarahkan kepada ikhtilath yang tidak mengakibatkan khalwat.

Para ulama kemudian menetapkan beberapa syarat untuk ikhtilath yang diperbolehkan. Sebagaimana dicantumkan dalam kitab Qadhaya al Mar’ah al Mu’ashirah dan Mausu’ah al Fiqhiyyah.

Pertama, tidak terjadi persentuhan yang diharamkan yang dilakukan secara sengaja. Kedua, masing-masing menjaga pandangan sesuai dengan tuntutan agama. Ketiga, masing-masing mengenakan pakaian yang tidak mengundang syahwat. Keempat, masing-masing menjaga harga diri dan martabat. Kelima, sesuai dengan hajat atau kebutuhan yang tidak bertentangan dengan syari’at. Seperti, pengajian, bermua’malah, berbincang-bincang tentang persoalan sosial dan politik demi kemaslahatan rakyat.

Kesimpulannya, tidak semua ikhtilath itu dilarang. Selama ikhtilath memiliki nuansa kemaslahatan untuk agama dan kemanusiaan maka diperbolehkan dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

gempa masa nabi

Gempa Masa Nabi dan Umar bin Khattab, Apakah karena Tidak Menerapkan Sistem Khilafah?

“NKRI diadzab dengan bencana (gempa) karena anti khilafah”, “khilafah adalah solusi segala problem umat dan …

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …