Berdakwah dengan Ilmu Dangkal Pasti Intoleran

Berawal dari hadist itu yang berbunyi:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Hadist ini memberikan motivasi seseorang tentang pentingnya berdakwah. Walaupun hanya satu ayat saja, umat Islam termotivasi untuk mempunyai tanggungjawab dalam menyampaikan ajaran Islam.

Namun, kalimat motivasi di atas bukan lantas memiliki pengertian bahwa setiap orang boleh menyampaikan dakwah meskipun dengan kemampuan yang dangkal. Jika hal ini yang terjadi, semangat dakwah tinggi, tetapi kemampuan tidak memumpuni. Hasilnya bisa jadi menyesatkan atau bisa jadi justru memperburuk citra Islam itu sendiri.

Kejadian beberapa waktu yang lalu yang menjadi viral seorang oknum Rohis SMA Negeri di Sragen yang mengirim ancaman ke seorang siswi untuk mengenakan jilbab. Mungkin dalam pandangannya itu adalah tugas keagamaan yang harus dilakukan. Ia menyampaikan apa yang dia pahami sekalipun satu ayat.

Semangat dakwah anak-anak muda sekarang memang banyak tidak diikuti dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi. Ia hanya mampu menangkap kewajiban dakwah, amar makruf nahi munkar, tetapi tidak bisa menangkap kewajiban untuk memperdalam ilmu agama.

Mungkin saja dia memahami tentang kewajiban seorang perempuan untuk menutup aurat, tetapi dia lupa bahwa Nabi saja hanya sekedar memberi peringatan, bukan pemaksa. “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (QS Al Ghasyiyah 21-22).

Namun, bisa jadi anak muda ini merasa hanya memberi peringatan bukan mengancam. Tetapi apakah ia menyadari prinsip berdakwah? Surat An-Nahl ayat 125 merupakan prinsip kematangan seseorang dalam berdakwah. Dakwah bukan sekedar menyampaikan ajaran tetapi ada metode dan prinsip yang harus dijadikan pedoman.

Dalam ayat tersebut disebutkan tiga metode dakwah; pertama al-hikmah, al-mau’idhah a-hasanah dan al-jidal al-ahsan. Al-Hikmah lazimnya diartikan sebagai kebijakan dan kearifan. Al-hikmah merupakan cara dengan mengajak orang lain berefleksi tentang nilai dan manafaat. Jika yang dianjurkan adalah berjilbab sebaiknya sampaikan hikmah tentang jilbab.

Baca Juga:  Cerdaslah Mengenali Tanda-tanda Kiamat

Kedua, al-mau’idhah a-hasanah adalah sebuah cara untuk memberikan nasehat dengan pilihan kata yang baik dan menarik. Bukan dengan ancaman apalagi kekerasan. Masih ingat ketika Nabi Musa diperintah Allah menghadap raja dzalim Fir’aun. Nabi Musa diperintahkan untuk memberikan nasehat dengan kata-kata baik. Artinya, jika menghadapi pemimpin kejam itu harus berkata-kata baik apalagi mau menyadarkan sesama?

Ketiga, al-jidal al-ahsan adalah berargumentasi dengan baik dan tepat. Jika kondisi menuntut untuk berdebat dan mengadu argumen, maka pilihlah kata-kata yang baik.

Ingat dakwah adalah persoalan komunikasi. Islam telah memberikan pedoman penting dalam berdakwah. Kematangan ilmu akan menentukan kualitas dakwah. Sementara mereka yang hanya terbakar semangat dakwah tetapi dengan kemampuan yang dangkal justru hanya akan membuat masyarakat menyangkal.

Sebenarnya kita takut dengan fenomena anak-anak muda yang terbakar semangat dakwah, tetapi tanpa keilmuan yang matang. Kita takut pada kondisi yang telah diprediksikan Nabi, “Kelak di akhir zaman, akan muncul kaum yang belum matang usia, suka berangan-angan, suka mengucapkan sabda Rasulullah. Iman mereka hanya sebatas pada kerongkongan, tidak meresap dalam hati. Mereka keluar dari agama Islam secepat anak panah dilepas dari busurnya.”.

Na’udzubillah

Bagikan Artikel

About redaksi

Avatar