bertamu
bertamu

Bolehkah Menyuguhkan Makanan/Minuman kepada Tamu yang Tidak Berpuasa ?

Salah satu perintah yang dianjurkan dalam Islam yaitu menghormati tamunya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya menghormati tamunya” (HR. Bukhari dan lainnya)

Dalam menghormati tamu dapat dilakukan dengan menyuguhkan makan atau minum. Dalam kitab Irsyad al Sari dijelaskan:

(وَتَقْرِي الضَّيْفَ) تَهِيْىءُ لَهُ طَعَامَهُ وَنُزُلَهُ

Artinya: “Maksud dari menjamu tamu adalah memberikan tamu dengan makanan dan tempat istirahat”

Ini merupakan akhlak umat Islam yang dicontohkan oleh Nabi, para sahabat, ulama, dan orang-orang shalih.

Di sisi lain, Islam yang tidak membatasi pergaulan antar umat manusia akan menjadi persoalan dalam agama manakala tamu non muslim datang bertamu ke rumah muslim di siang Ramadlan. Apakah masih perlu memperhatikan anjuran menghormati tamu dengan suguhan makanan dan minuman sebagaimana di atas ?

Dalam madzhab Syafi’i tentang memberikan makanan atau minuman kepada orang non muslim yang bertamu di siang hari bulan Ramadlan ada dua pendapat. Pertama, mengatakan tidak boleh. Haram bagi umat Islam memberikan minuman kepada orang kafir di siang hari bulan Ramadlan. Karena di siang hari bulan Ramadlan, seharusnya tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan memberikan makanan dan minuman berarti membantu dalam perbuatan maksiat. Pendapat ini diprakarsai oleh Imam Al Ramli. Dalam Hasyiah al Ramli, dijelaskan:

لَا تَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ إِعَانَةٌ لِكَافِرٍ عَلَى مَا لَا يَحِلُّ عِنْدَنَا كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ بِضِيَافَةٍ أَوْ غَيْرِهَا

Artinya: “Tidak boleh bagi umat Islam membantu orang kafir dalam hal yang tidak halal bagi kita, seperti makan dan minum di siang hari bulan Ramadlan, karena sebagai tamu atau lainnya”

Di dalam kitab Fath al Allam dijelaskan secara tegas keharaman hal tersebut bahkan menyuruh menyuguhkannya.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Satu Obyek, Beda Status

يَحْرُمُ إِعَانَةُ الْكَافِرِ فِي رَمَضَانَ عَلَى مَا لَا يَحِلُّ عِنْدَنَا… وَمِنْ ذَلِكَ إِعْطَاءُهُ اَلْقَهْوَةَ وَالْأَمْرُ بِهِ

Artinya: “Haram membantu orang kafir di bulan Ramadlan dalam hal yang tidak halal bagi kita… termasuk memberikan kopi kepadanya dan menyuruh orang lain memberikannya”

Kedua, yaitu pendapatnya Ibn Hajar al Haitami, ia mengatakan boleh menyuguhkan makanan atau minuman kepada orang kafir karena ia tidak terkena taklif kewajiban berpuasa.

Dari sini, dapat diketahui letak perbedaan pendapat dari kedua ulama di atas, yaitu apakah orang kafir terkena taklif ibadah atau tidak. Menurut pendapat yang pertama, orang kafir terkena taklif ibadah, karena dia berkewajiban masuk Islam. Sehingga seluruh ibadah umat Islam pada dasarnya juga menjadi kewajiban non Islam. Sebab itu, orang-orang non Islam juga harus tidak makan dan tidak minum. Sementara menurut pendapat yang kedua, non muslim tidak terkena taklif apapun dalam Islam. Sehingga mereka tidak terkena beban kewajiban berpuasa, termasuk beban berpuasa.

Dari kedua pendapat ini dapat kita pahami tiga hal:

1.    Orang-orang yang secara syariat diperbolehkan tidak berpuasa, seperti orang sakit, bepergian, anak kecil dan sebagainya, maka menyuguhkan makanan atau minuman hukumnya boleh.

2.    Orang yang tidak berpuasa karena malas, hukumnya haram menyuguhkan makanan atau minuman. Karena yang demikian jelas-jelas membantu perbuatan maksiat.

Wallahua’lam

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

kitab samawi

Tidak Hanya Al-Quran, Seluruh Kitab Samawi Diturunkan di Bulan Ramadan

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Allah swt menurunkan kitab-kitab suci ini untuk menjadi pedoman hidup …

halal darah

Hati-Hati Teriak Halal Darahnya, Ingat Allah Menjaga Darah Manusia !

Pengeroyokan terhadap Ade Armando dalam aksi demontrasi kemaren 11 April 2022 menjadi perbincangan publik. Lebih-lebih …