tamu
tamu

Apa Makna Tamu adalah Raja? Inilah 5 Etika Rasulullah dalam Menyambut Tamu

Seseorang yang mengaku muslim belum tentu mampu menterjemahkan ajaran Islam dengan baik. Sebaliknya, bisa jadi meskipun non muslim, disadari atau tidak, mampu menterjemahkan nilai-nilai ajaran Islam dengan baik.

Hal ini bisa terjadi karena muslim tersebut tidak tahu atau tidak mau. Sebab itu, terus belajar dan membiasakan mempraktikkan apa yang telah diketahui adalah keharusan.

Termasuk dalam hal menyambut tamu, Islam mengajarkannya dengan begitu baik. Seseorang yang datang bersilaturahmi harus disambut secara harmonis, dengan senyum manis dan disuguhkan makanan dan minuman yang baik pula.

Kita mengenal istilah tamu adalah raja, tapi belum tentu mengerti makna dan praktiknya. Belum tentu bisa mengejawantahkan sabda Nabi riwayat Imam Bukhari “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.

Bagaimana cara dan etika menyambut tamu dalam hadis ini?

Ada hadis lain yang menjelaskan bagaimana praktek memuliakan tamu. Karena sebagaimana tertera dalam ilmu ushul fikih, salah satu fungsi hadis adalah menjelaskan makna ayat al Qur’an dan hadis  yang maknanya belum sharih (jelas).

Berkaitan dengan penjelasan hadis di atas, Dari Ibnu Abbas, ketika utusan Abi Qais datang kepada Nabi, beliau bersabda, “Selamat datang para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal”. (HR. Bukhari).

Etika 1

Dengan demikian hal pertama yang harus dilakukan ketika kedatangan tamu adalah mengucapkan “selamat datang”. Dengan mengucapakan ini, suasan akrab dan harmonis telah terjalin sejak tamu baru menginjakkan kaki di rumah kita.

Etika 2

Setelah dipersilahkan untuk masuk kemudian disuguhi makanan dan minuman terbaik semampu empu rumah.

Allah berfirman: “Dan Ibrahim datang kepada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk, kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka sambil berkata, “Tidakkah kalian makan”. (QS. Al Dzariyat: 26-27).

Baca Juga:  Belajar pada Keagungan Nabi Ibrahim AS

Pada ayat ini Allah mencontohkan bagaiman Nabi Ibrahim menyambut keluarganya yang datang bertamu dengan menyuguhkan makanan dan mendekatkan makanan tersebut kepada para tamunya.

Etika 3

Hal berikutnya yang perlu juga diperhatikan adalah tidak mengangkat hidangan sebelum para tamu selesai makan dengan sempurna.

Etika 4

Etika berikutnya adalah mendahulukan yang lebih tua dari yang lebih muda.

Nabi bersabda, “Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah termasuk golongan kami”. (HR. Bukhari).

Setelah itu, tamu diajak ngobrol dengan pembicaraan yang ringan supaya merasa senang. Tidak boleh tidur sebelum mereka tidur, kecuali kalau tamu menyuruh kita tidur lebih dulu.

Namun demikian, ada catatan khusus yang diberikan oleh Nabi untuk orang yang sedang bertamu. Yakni, batas menjamu tamu adalah tiga hari tiga malam, dan ia dimuliakan hanya pada hari dan malam pertama dan tamu tidak boleh tinggal terlalu lama apabila mengetahui tuan rumah tidak memiliki kemampuan untuk menjamunya.

Etika 5

Dan, apabila tamu hendak pamit pulang baiknya diantar sampai ke pintu rumah. Akhirnya, praktik seperti ini akan menjalin ukhuwah islamiah dan ukhuwah basyariah secara sempurna.

Demikian etika menyambut tamu yang diajarkan oleh Rasulullah. Islam menghargai proses interaksi dan terjalinnya hubungan yang baik antar manusia. Salah satu wujud tersebut adalah bagaimana seorang yang beriman mampu mewujudkan keimanannya dengan cara mengahrgai seorang yang bertamu.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

Toa masjid

Apakah Perintah Mengeraskan Suara Adzan Harus Memakai TOA?

Sejak pertama kali ditemukannya teknologi mutakhir dengan Branding TOA, hingga saat ini ia menjadi branding …

bertemu rasulullah

Nabi Muhammad : Sosok yang Bersahaja, Namun Luar Biasa, Refleksi Bulan Maulid

Peringatan Maulid Nabi selalu menjadi momentum mengingatkan umat Islam akan hari kelahiran sosok Sayyidul Wujud, …