bertemu rasulullah
Nabi Muhammad

Meneladani Keseharian Rasulullah (1) : Nabi dengan Tetangga Non Muslim

Meniru keseluruhan keseharian hidup Nabi sangatlah sulit, bahkan bisa dikatakan mustahil. Tetapi, paling tidak semua muslim melakukan upaya semaksimal mungkin untuk bisa. Pintu pembuka pertama untuk tahu dan mencontoh perilaku Nabi adalah mengetahui apa-apa yang menjadi kebiasaan beliau dari sumber-sumber informasi. Tak lain adalah dari hadist dan kisah-kisah para sahabat dan ulama salafusshaleh.

Salah satu perilaku Nabi yang terpuji dan ini menjadi bagian aturan dalam Islam adalah jalinan hubungan mesra penganut antar-agama. Praktek yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah adalah sikap beliau terhadap tetangan non muslim.

Hal ini dipotret dan dikisahkan oleh Dr. Yusuf al Qardhawi dalam Ghairu al Muslim fi al Mujtama’ al Islami. Tulisnya, Nabi mencontohkan toleransi antar umat beragama dalam pergaulan beliau dengan ahli kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Beliau mengunjungi, memuliakan dan berbuat baik kepada mereka, mengunjungi kalau ada yang sakit diantara mereka, mengambil (pemberian) dari memberi kepada mereka.

Masih dalam kitab yang sama, menukil riwayat Muhammad bin Hasan ulama madhab Hanafi, suatu kali di Makkah mengalami musim kemarau panjang yang menyebabkan paceklik, rakyat terancam kelaparan. Pada situasi yang demikian, Rasulullah memberikan bantuan harta kepada penduduk miskin dan fakir tanpa melihat latar belakang agama, semua mendapat bagian yang sama.

Praktik kehidupan seperti ini sejatinya telah dipesankan jauh sebelumnya oleh Nabi dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya”.

Banyak hadis yang bernada sama dengan hadis ini. Artinya, Nabi mengulang-ulang pesan hubungan baik dengan tetangga dengan penekan yang kuat.

Sebagai pelengkap, ada baiknya kita membaca Mukasyafah al Qulub. Dalam kitab ini, Imam Ghazali menuturkan tuntutan Rasulullah dalam hidup bertetangga. Nabi bersabda, “Tetangga itu ada tiga; tetangga yang memiliki satu hak, tetangga yang memiliki dua hak dan tetangga yang memiliki tiga hak. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga yang muslim sekaligus bersaudara, yaitu hak sesama muslim, hak saudara dan hak tetangga. Sementara tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga muslim, yakni hak sesama muslim dan hak teangga. Sedangkan tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga yang musyrik”. (HR. Tabrani).

Baca Juga:  Anjuran Memulai Takbiran Memasuki Bulan Dzulhijjah : Kenali Dua Jenis Takbir Hari Raya Idul Adha Ini

Dari hadis ini, Rasulullah berpesan kepada kita semua untuk selalu menghormati tetangga, baik yang sesama muslim maupun yang non muslim.

Inilah teladan Nabi yang harus dicontoh dalam hal hidup bertetangga. Harus saling menghormati, menghargai, saling mengasihi, saling memberi, dan menjaga kehormatan tetangga tanpa melihat latar belakang agama yang dipeluk.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

musik haram

Uki Eks Noah: “Musik Haram”, Benarkah?

Artis hijrah, Uki eks Noah dalam video youtubenya menyarankan supaya generasi muda menghindar sejauh-jauhnya dunia …

mengucapkan selamat

Perdebatan Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya kepada Penganut Agama Lain

Kisruh media terjadi setelah beredarnya video Menaq Yaqut Cholil Qoumas yang menyampaikan Selamat Hari Raya …