Caci Maki
Caci Maki

Dicaci-maki, Balas Caci-maki; Benarkah Itu yang Diajarkan Nabi?

Beberapa hari belakangan ini publik Indonesia dibuat tak tenang oleh pernyataan saling serang antara seorang publik figur dan ustadz. Awalnya sekedar melempar ‘sindiran’ di media sosial, namun semakin hari berubah menjadi saling ‘caci-maki’. Secara proporsional, kedua belah pihak memang sama-sama salah karena telah membuat gaduh jagat maya.

Dalam uraian ini, penulis tidak akan mengulas/menanggapi secara spesifik ‘perseteruan’ yang kadung pecah itu. Namun, tulisan ini akan mengambil perspektif Islam, yakni dalam jalan dakwah, khususnya nilai-nilai dan prinsip dakwah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Kajian seperti ini penting dilakukan mengingat belakangan ini, banyak fenomena seorang yang dilabeli ustadz, da’i dan berpenampilan layaknya seorang ulama yang paling mengerti tentang Islam dan paling paham dengan sunnah Nabi.

Dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 153, Allah berfirman: “Berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

Firman di atas, menurut Quraish Shihab, merupakan salah satu bukti bahwa Allah sendiri yang telah mendidik dan membentuk kepribadian Rasulullah. Selain itu, ayat ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan akhlak seperti lemah-lembut dan pemaaf, bukan ‘temperamental’.

Dan nilai-nilai itu harus dijunjung tinggi oleh umat Islam, apalagi bagi orang yang lekat dalam dirinya label ustadz, habib dan lainnya. Sebab, jika para habib atau da’i berkeras hati, tentu umat dan manusia pada umumnya tidak akan menarik simpati sehingga mereka akan lari dari ajaran Islam (lihat Ummu Ikhsan dan Ikhsan al-Atsari, Ensiklopedia Akhlak Salaf, 2013, hlm. 263).

Imam al-Ghazali mendefinisikan sikap lemah lembut dengan terkalahkannya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. Lebih lanjut, al-Ghazali menandaskan bahwa tumbuhnya sikap lemah lembut dalam diri manusia dapat dimulakan dengan melatih diri menahan amarah. (dalam H. M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, 2000, hlm. 17).

Baca Juga:  Cinta Tanah Air Bukan Ashabiyah

Lemah lembut adalah akhlak Islam dan yang dipraktekkan oleh Rasulullah Saw dalam menegakkan agama Allah. Lemah lembut adalah menahan diri untuk tidak membalas dendam atas perlakukan buruk orang lain yang menyakitkan hati dengan balasan yang sama. Dengan demikian, jika kita, terutama seorang da’i mendapatkan perlakukan tidak mengenakkan dan dapat cacian, maka bukan lantas ia terus melakukan ‘serangan balik’.

Allah Swt dalam suatu hadis qudsi, Nabi Musa bertanya kepada Allah: “Ya rabb! Siapakah diantara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu? Allah berfirman: ‘ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.”

Nabi Muhammad menanamkan di hati umat Islam sikap untuk senantiasa memaafkan, sekalipun terhadap orang-orang yang telah berlaku kasar. Maka, jangan sampai hal ini dirusak dengan cara terus menanggapi dan membalas caci-maki. Maafkan dan doakan orang yang mencaci-maki itu supaya mendapatkan hidayah dan ampunan dari Allah.

Orang-orang yang memiliki sifat pemaaf dan lemah lembut dinilai sebagai teladan kesalehan yang utama dalam Islam dan termasuk kelompok yang berbuat kebaikan dan yang mendakwahkan Islam dengan sebenar-benarnya dan yang akan memperoleh cinta dan ridha Allah Swt. Dan inilah yang diajarkan Nabi!

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir