Athena – Pemerintah Yunani menutup sebuah aula yang dijadikan masjid darurat di Piraues, kota pinggiran yang berjarak 12 kilometer dari Athena. Penutupan itu dilakukan karena masjid darurat itu dinilai tidak memiliki izin operasi. Keputusan itu sangat disayangkan komunitas Muslim di negara tersebut.

Kementerian Urusan Pendidikan dan Agama Yunani memberi waktu 15 hari kepada pengelola masjid agar mengosongkan aula dinamakan sebagai ‘Al Andalus’ dan telah beroperasi sejak 1989 itu.

“Kami sedih menerima perintah penutupan untuk salah satu tempat beribadah tertua di ibu kota tanpa ada kesempatan untuk bernegosiasi dengan kementerian,” kata Asosiasi Muslim Yunani dalam siaran persnya seperti dikutip dari aa.com.tr, Rabu (24/6/2020).

Sebenarnya, keberadaan muslim di kota itu selama ini diterima oleh masyarakat setempat dan terus berkembang. Namun pemerintah Yunani justru belum bisa menerima. Apalagi Yunani masih sering berseteru dengan Turki, terutama terkait Hagia Sophia, yang akan dikembalikan menjadi masjid oleh Presiden Erdogan.

“Kami menganggap penutupan tak terduga ini sebagai tindakan simbolis atas nama pemerintah yang ingin menekan kegiatan keagamaan karena tidak berasal dari agama yang dominan.”

Saat ini, Yunani memiliki populasi Muslim yang cukup besar. Seperempat juta orang di antaranya berada di Athena.

Minoritas Muslim Turki di Yunani mengeluh bahwa pelaksanaan agama mereka dibatasi, termasuk hak untuk memilih mufti mereka sendiri dan administrator wakaf Muslim yang saleh (wakaf), yang dilakukan atau dipilih oleh negara

Juni lalu, setelah bertahun-tahun tertunda, sebuah masjid baru dibuka di Athena tetapi sampai saat ini masih belum memiliki imam, sehingga belum terbuka untuk beribadah. Hal itulah menjadikan Athena sebagai satu-satunya ibu kota di Eropa tanpa mempunyai masjid yang resmi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.