Semenjak sepuluh tahun terakhir ini, muncul sekolah-sekolah Islam yang menjadikan menghafal Al-Qur’an sebagai salah satu pelajaran unggulan sekolah. Model sekolah semacam ini pada mulanya merebak di perkotaan dan menarik minat masyarakat urban untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut dengan tujuan agar anak-anaknya kelak bisa faham ilmu agama sekaligus bisa hafal Al-Qur’an.

Di satu sisi ini bonus demografi masyarakat Indonesia yang nantinya akan mengunduh generasi bangsa yang memiliki integritas kesalihan terhadap kitab suci Al-Qur’an yang tinggi. Meskipun sebenarnya, Howard Federspil dalam penelitiannya menyebut, semenjak tahun 70 an kajian Al-Qur’an sangat berkembang pesat, di antaranya ditandai dengan banyak model pembelajaran Al-Qur’an seperti tilawah dan menghafal.

Pada kurun sepuluh tahunan terakhir ini, program sekolah menghafal Al-Qur’an semula diawali oleh para alumni Jama’ah Tarbiyyah yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Terlepas dari sisi historis ini, sekali lagi, banyaknya para penghafal Al-Qur’an di Indonesia merupakan bonus terbesar yang pahalanya juga sangat besar. Dalam salah satu hadits Nabi dikatakan, “Sebaik baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Bahkan tempat yang ditinggali oleh para penghafal Al-Qur’an dan yang mempelajarinya juga mendapatkan jaminan dari Allah. Sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut:

ومَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم، إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة، وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة، وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ، وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده

“Jika ada rumah atau tempat yang digunakan untuk membaca kitab Allah (Al-Qur’an) dan mempelajarinya, maka tempat itu akan diberikan ketenangan, diliputi rahmat Allah, dan dijaga oleh para malaikat, serta mereka yang ikut serta melakukannya akan disebut oleh Allah bersama orang-orang terkasih di sisi-Nya,” (HR. Muslim)

Namun bagaimana dengan kesalihan umatnya? Jangan sampai perilaku yang seharusnya berkiblat pada Al-Qur’an yang menghafalnya jadi tren seperti sekarang ini, justru tidak diamalkan atau bahkan cenderung membuat onar di tengah ketentraman masyarakat. Jika merujuk pada penelitian Greg Fealy dan Sally White, di era bersamaan justru umat Islam Indonesia mengalami perubahan. Dari yang ramah, toleran, menjadi intoleran, radikal, dan menjadi sumbu kekerasan atas nama agama.

Fenomena ini juga merupakan hasil dari reislamisasi yang dipengaruhi mayoritas oleh ustadz dan para dai populer yang integritas ilmu agamanya belum mumpuni. Sehingga menyebabkan masyarakat yang sedang semangat beragama ini mudah tersulut amarah dan eksplosif. Padahal Islam yang dulunya dikenal moderat, ramah, khas Indonesia, jauh dari ini.

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Hemat penulis, tren menghafal Al-Qur’an yang diterapkan sebagai pelajaran unggulan sekolah itu baik. Di sisi lain, seandainya tidak benar-benar hafal pun, paling tidak anak anak didik gemar membaca Al-Qur’an. Tidak merasa malu membawa kitab sucinya menjadi teman dimana-mana.

Tetapi yang lebih penting dari itu adalah memperbaiki akhlak untuk tidak jumawa, pongah dan tidak gampang menyalahkan orang lain. Agar tidak termasuk seperti yang diprediksikan oleh Rasulullah bahwa suatu saat nanti ada umat Islam yang kemana mana gemar membawa Al-Qur’an tetapi semangat Islamnya sangat kencang seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Sehingga ketika mendengar Islam dihina seketika mengacungkan pedangnya. Nauzu billah min zalik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.