Serat Centhini
Serat Centhini

Dikisahkan dalam Serat Centhini yang ditulis era Karajaan Surakarta, Pakubuwana V, bahwa suatu ketika sang pengembara, Jayengresmi dan dua pengawalnya tanpa sengaja berjumpa dengan Kiai Wargapati, seorang lurah di daerah Bogor. Dalam pertemuan itu, Jayengresmi merasa terkagum dengan kegagahan dan ketampanan wajah Kiai Wargapati. Padahal usianya sudah sembilan puluh dua tahun. Lalu Jayengresmi memberanikan diri untuk bertanya tentang resep yang diamalkannya.

Kiai Wargapati berkata bahwa tidak ada resep ataupun syarat apapun yang dilakukan, kecuali hanya melakukan puji dina, yaitu melakukan puasa harian dan memanjatkan doa-doa khusus. Kata sang Kiai, ia tanpa henti melakukan aktifitas tersebut, terus mengalir seperti jalannya air.

Kemudian sang Kiai itu menjelaskan terkait doa harian dan puasa yang harus diamalkan setiap hari, tapi berbeda-beda caranya. Pertama, puasa hari Jum’at seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pada saat puasa hari Jum’at, sang kiai tidak makan nasi. Adapun siang dan malamnya, ia mengucapkan lafadz “Ya Qawiyyu” sebanyak 103 kali.

Adapun yang kedua, puasa pada hari sabtu, seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Usman bin Affan. Saat melakukan puasa hari sabtu ini, ia tidak tidur di siang hari maupun malam sambil membaca “Ya Fattah Ya Razzaq” sebanyak 103 kali. Menurutnya, dengan melakukan amalan demikian akan ditakuti oleh semua makhluk. Ketiga, puasa hari ahad. Seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab, dengan mambaca kalimat “Ya Hayyu Ya Qayyum” sebanyak 103 kali. Dengan demikian akan diberikan keselamatan.

Keempat, puasa hari Senin seperti yang dilakukan Nabi Isa, malam harinya tidak makan daging sembari mengucapkan kalimat “Ya Rahman Ya Rahim” sebanyak 103 kali. Siapa saja yang melakukan ini akan dikabulkan semua hajatnya. Kelima, puasa hari Selasa seperti yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar. Pada malam harinya mengucapkana kalimat “Subhanal Malikil Quddus” sebanyak 103 kali.

Keenam, puasa hari Rabu seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Ibrahim. Pada puasa ini tidak makan garam dan malam harinya membaca “Subhanal Malikil Khobir” sebanyak 103 kali pula. Puasa ketujuh, seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Ali, dan pada malam harinya membaca “Ya Khobiru Ya Muta’alli” sebanyak 103 kali. Menurut Kiai Wargapati amalan tersebut jika dilakukan secara baik dan benar, maka akan diberikan kekuatan dan diridlai dengan keselamatan dunia akhirat.

Dalam kisah tentang kesejatian diri ini, juga dilengkapi dengan cerita hikmah mengenai zaman huru hara sebagai pelengkap. Gambaran tentang zaman huru hara itu justru ditanyakan oleh Kiai Wargapati kepada Jayengresmi sebagai putra dari seorang ulama, yang tentu dengan banyak referensi bisa memberikan jawaban terkait dengan zaman akhir itu.

Lalu Jayengresmi mengutip salah satu Hadits Nabi yang mengatakan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad akan ada suatu masa yang tidak menentu. Itulah zaman huru hara, dan tanda akan datangnya hari kiamat. Kemudian Jayengresmi juga memberikan uraian tentang tanda hari kiamat dengan mengutip sabda Nabi bahwa nanti di zaman itu ada banyak ulama, pakaiannya menunjukkan dia benar-benar seperti ulama. Tutur katanya seperti orang bijak. Tetapi kerjaannya hanya berlagak. Kerjaannya hanya pandai bicara saja tapi tidak mau beribadah. Mereka bahkan mengaku punya derajat tinggi tetapi kelakuannya membangkang dari ajaran Rasulullah dengan berbicara lantang.