Guru agama harus cakap digital
Guru agama harus cakap digital

Dunia Makin Canggih, Guru dan Penyuluh Agama Wajib Cakap Digital

Jakarta – Guru dan penyuluh agama harus memiliki kecakapan digital. Itu penting di tengah kemajuan teknologi informasi yang membuat kehidupan serba digital. Apalagi, dunia maya banyak disalahgunakan kelompok radikal untuk menyebarkan paham kekerasannya dengan mengatasnamakan agama.

“Tidak kalah penting, mereka mestinya juga mau memanfaatkan media sosial guna mendukung proses pembelajaran kreatif dan menarik,” kata anggota Ikatan Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi, Persatuan Guru Republik Indonesia sekaligus Humas PGRI, Fajar Tri Laksono, dalam siaran pers, Sabtu (31/7/2022).

Imbauan ini dia sampaikan pada webinar “Pemanfaatan Media Sosial bagi Penyuluh Agama”, program literasi digital Kementerian Komunikasi dan Informatika, untuk komunitas di Bali dan Nusa Tenggara.Pandemi virus corona yang terjadi dua tahun belakangan ini membawa berkah dan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Menurutnya, keberadaan media sosial dan kecanggihan dunia digital, membuat sistem pendidikan beralih dari tatap muka menjadi dalam jaringan (online).Perubahan ini menuntut sekolah, guru dan siswa menguasai kecakapan digital.

“(Pandemi virus) corona telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Penguasaan kecakapan digital oleh pemangku kepentingan pendidikan (guru, murid, sekolah) adalah sebuah keniscayaan,” kata Fajar.

Menurut Fajar, kecakapan digital wajib dimiliki guru dan penyuluh agama. Secara ideal, mereka seharusnya memiliki kemampuan mendesain pembelajaran kreatif, mengelola model dan variasi belajar, membuat media pembelajaran menarik dan mampu mengelola sumber belajar.

Selain itu, siswa juga perlu memiliki kecakapan digital, seperti mampu menggunakan perangkat TI, mengenal perangkat lunak atau aplikasi pendukung, terampil menggunakan mesin pencari (search engine), mengenal aplikasi percakapan dan bisa memilih serta memilah informasi.

Sementara itu, pendiri Yayasan Komunitas Open Source, Arief, Rama Syarif, menyinggung masih banyak pengguna platform digital yang bertindak tidak etis, salah satunya dengan ikut serta menyebarkan hoaks.

Etika digital lainnya yaitu tidak menggunakan peranti lunak bajakan, ini merupakan salah satu bentuk perilaku jujur.

Webinar “Pemanfaatan Media Sosial bagi Penyuluh Agama” adalah bagian dari kampanye “Makin Cakap Digital 2022” yang digaungkan oleh Kementerian Kominfo dan Siberkreasi, melalui program Gerakan Nasional Literasi Digital.Kampanye ini dijadwalkan berlangsung sampai awal Desember, diharapkan mampu memberikan panduan kepada masyarakat dalam melakukan aktivitas digital.Kegiatan literasi digital seperti ini diadakan di 514 kabupaten di 34 provinsi.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Ratusan eks anggota NII Garut kembali baca dua kalimat syahadat dan ikrar setia kembali ke NKRI

Tobat, Ratusan Eks NII Garut Baca Syahadat Lagi dan Ikrar Setia Kepada NKRI

Garut – Ratusan eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) di Garut, Jawa Barat, melakukan pertobatan …

penceramah radikal

Jangan Heran Sudah Diprediksi Nabi, Sering Bikin Gaduh dengan Fatwa tanpa Ilmu

Terkadang kita susah membedakan antara ulama yang fasih ilmu fikih dengan hanya penceramah. Banyak pula …

escortescort