Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Margaret Aliyatul Maimunah

Fatayat NU Minta Pesantren Miliki Mekanisme Perlindungan Santri dari Berbagai Bentuk Kekerasan

Jakarta Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) mengutuk kekerasan yang terjadi di Pondok Pesantren Tartilul Quran (PPTQ) Al Hanifiyyah, Kediri. Akibat tindakan kekerasan senior, seorang santri bernama Bintang Balqis Maulana (14 tahun), santri asal Banyuwangi, meninggal dunia.

Untuk itulah, Fatayat NU meminta pesantren memiliki mekanisme perlindungan santri dari berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pesantren.

“Pimpinan pesantren bertanggung jawab atas terselenggaranya lingkungan pondok pesantren yang ramah anak dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait,” ujar Ketua Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (29/2/2024).

Margaret menyampaikan keprihatinan kekerasan di pesantren masih terjadi. Ia pun mengucapkan bela sungkawa kepada korban dan keluarganya.

“Fatayat Nahdlatul Ulama merasa prihatin dan menyampaikan belasungkawa kepada korban dan keluarganya. Insiden tersebut merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang mengutamakan kasih sayang dan perdamaian,” tutur Margaret.

Atas nama NU Fatayat NU, ia meminta aparat kepolisian untuk segera melakukan penyelidikan, mengusut tuntas kasus ini, serta menindak pelaku kekerasan secara tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Penegakan hukum harus dilakukan dengan memperhatikan perspektif korban serta memastikan bahwa keadilan ditegakkan dan pelaku diberikan hukuman yang setimpal,” ujar dia.

Fatayat juga mendesak apabila ditemukan bahwa kekerasan terjadi secara sistematis dan tidak dapat diselesaikan dengan langkah-langkah yang memadai, ia mendukung kebijakan peninjauan ulang atau pencabutan terhadap izin operasional pondok pesantren tersebut.

“Tindakan tersebut harus diambil sebagai langkah terakhir setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh dan berdasarkan pertimbangan yang matang demi melindungi hak dan keselamatan para santri,” kata Margaret.

Fatayat NU berharap agar kasus kekerasan terhadap santri di pesantren tersebut dapat diselesaikan dengan adil dan transparan serta menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk mencegah terulangnya kasus serupa terjadi di masa mendatang.

Sebelumnya, aparat Kepolisian Resor Kediri Kota, Jawa Timur, menangkap empat oknum santri salah satu pondok pesantren di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, terkait kasus teman mereka yang meninggal dunia diduga karena dianiaya.

Empat tersangka itu yakni MN (18) asal Sidoarjo, MA (18) asal Kabupaten Nganjuk, AF (16) asal Denpasar Bali, dan AK (17) asal Surabaya.

Sedangkan korban  merupakan adik kelas para pelaku. Korban berasal dari Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Kepolisian menyebut kasus itu dilakukan berulang-ulang. Diduga, terjadi kesalahpahaman di antara anak-anak tersebut sehingga menyebabkan kejadian penganiayaan berulang.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

malam nisfu sya'ban

Sya’ban: Bulan yang Dilupakan, Padahal Penentu Kualitas Ramadan

anpa banyak disadari, kita kembali berjumpa dengan bulan Sya’ban—bulan kedelapan dalam kalender Hijriah—yang menandai bahwa …

alissa wahid 1768960248350

Alissa Wahid : Petugas Haji Indonesia Salah Satu yang Terbaik

Jakarta – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid menilai petugas haji Indonesia selama ini dikenal …