KH Ahmad Muwafiq
Gus Muwafiq

Gus Muwafiq: Saat Pandemi, Perintah Tuhan Bisa Dikalahkan Kebijakan Negara

Jakarta – Pandemi memukul semua semua sendi-sendi kehidupan, pola hidupa berubah secara drastis bahkan sampai persoalan ritualitas menjadi terpengaruh, jamaah di masjid harus berjarak demi kesehatan bahkan dianjurkan dalam beberapa momentum untuk memasifkan salat berjamaah dirumah bersama keluarga. Terbaru ibadah haji yang di tunda dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat.

Bukankah ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi yang mampu? Namun dengan situasi pandemi yang tidak semua orang bisa bepergian maka menjadi keharusan untuk mendahulukan keselamatan masyarakat. Peran pemerintah kemudian menjadi sangat sentral dalam menentukan langkah atau kebijakan untuk menjaga masyarakat agar tidak tertular virus. Disinilah kemudian kata KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) keputusan sebuah negara mengalahkan perintah Tuhan.

KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menyatakan, untuk menjaga dan menjamin kelangsungan hajat hidup orang banyak, dimanapun negara menjadi pemegang kebijakan tunggal. Hal ini termasuk dalam menangani pandemi Covid-19 yang memicu munculnya beragam narasi di masyarakat.

“Terlepas setuju atau tidak, ya dimanapun negara lah yang mengambil kebijakan. Bahkan perintah Tuhan pun bisa kalah dengan kebijakan negara terkait penanganan Covid-19 ini,” kata ulama Nadlatul Ulama yang mukim di Bantul itu kepada seperti dilansir dari laman detik.com, Minggu (1/82021).

Alumnus UIN Kalijaga, Yogyakarta itu mencontohkan keputusan Kerajaan Arab Saudi. Demi melindungi kesehatan dan keselamatan umat membatasi pelaksanaan ibadah haji pada tahun lalu dan tahun ini. Padahal haji merupakan perintah Allah sebagai rukun Islam kelima. Begitu juga dengan pelaksanaan ibadah di agama-agama lain menjadi dibatasi selama pandemi ini.

Khusus di Indonesia kemudian muncul berbagai narasi terkait keputusan semacam itu. Tentu sebagai sebuah negara demokrasi, narasi yang muncul harus disikapi dengan wajar. Hanya saja dalam batas tertentu, negara tetap tidak boleh membiarkan menjadi sebuah kelaziman.

Baca Juga:  Nathalie Holscher Mualaf Setelah Mimpi Dibisiki Dua Kalimat Syahadat

“Karena obat covid di dunia belum ada, salah satu ikhtiar yang dilakukan Indonesia kan antara lain lewat PPKM seperti sekarang ini. Mengingat kultur masyarakat Indonesia adalah komunal, untuk menjaga jarak atau social distancing tentu tak mudah. Apalagi dikenal ungkapan makan tidak makan yang penting kumpul. Di situlah negara harus hadir untuk menegakkannya,” papar Gus Muwafiq yang pernah menjadi Asisten pribadi Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada bagian lain, dia menyindir sikap sebagian masyarakat yang pernah seolah begitu guyub menggalang donasi dengan massif untuk masyarakat di Palestina nun jauh di sana. Jargon yang digunakan adalah persaudaraan sesama muslim. Anehnya, selama pandemi seperti sekarang ketika banyak kaum muslim di tanah air sendiri kesusahan aksi massif penggalangan dana seperti itu tak terdengar.

Gus Muwafiq juga menyentil sikap musisi yang menyebut seni dan musik mendekati perbuatan maksiat dan haram. Lantas, apa beda hijrah dan tobat? Haruskah orang yang sudah puluhan tahun masuk Islam tetap disebut muallaf? Simak paparan selengkapnya di program Blak-blakan.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Kepala BNPT di UIN Serang

Perguruan Tinggi Islam Berperan Penting Sebarkan Moderasi Beragama Kepada Mahasiswa

Serang – Perguruan Tinggi Islam berperan penting dalam menyebarkan moderasi beragama kepada para mahasiswa. Hal …

menko polhukam mahfud md memberikan keterangan kepada wartawan terkait

Buka Kongres IPNU dan IPPNU, Menko Mahfud MD: Minta Jaga Wasthiyah Islam

JAKARTA – Islam wasathiyah (moderat) menjadi salah satu jalan untuk menjaga kebersamaan setiap elemen bangsa, …