Hari santri Nasional
Hari santri Nasional

Hari Santri dan Dekonstruksi Dikotomi Nasionalis-Relijius

Menyandingkan pesantren dan perjuangan negara seperti ingin melacak suatu narasi sejarah yang hilang dan terpotong dalam tuturan sejarah kemerdekaan bangsa. Sedikit sekali ulasan yang obyektif dan proporsional dalam menempatkan pesantren sebagai basis dan gerakan perjuangan. Padahal berdiri jauh sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, masyarakat pesantren merupakan unsur penting yang mewarnai dinamika historis bangsa ini baik dalam sosial, ekonomi, politik hingga masa-masa perjuangan.

Potret sejarah yang tidak terlalu jauh kurun zamannya semisal perjuangan 10 Nopember di Surabaya, keterlibatan kalangan pesantren kurang-untuk tidak mengatakan sama sekali tidak- mendapatkan ulasan yang memadai. Tanggal 22 Oktober sebelum peristiwa bersejarah di Surabaya yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional adalah hari di mana “resolusi jihad” dikumandangkan untuk melawan para penjajah.

Keengganan meletakkan masyarakat pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa menyebabkan suatu pola pikir yang selalu memposisikan secara dikotomik antara kelompok relijius dan nasionalis. Seolah menjadi nasionalis berarti tidak relijius dan menjadi relijius berarti tidak nasionalis.

Sejatinya dikotomi ini tidak muncul apabila sejak awal ada portet yang baik dan rekognisi perjuangan kalangan pesantren dalam sejarah bangsa ini. Pesantren merupakan jangkar yang dari dulu hingga saat ini konsisten menegakkan semangat kebangsaan.

Pesantren dalam konteks perjuangan menampilkan sebuah citra kelompok yang nasiolis relijius sekaligus. Tidak ada alasan apapun untuk meletakkan nasionalis dan relijius dalam posisi yang selalu diametral. Sejak lama pesantren telah menjadi basis perlawanan yang cukup efektif dalam menentang penjajahan.

Dengan melihat perjuangan santri dan umat Islam secara umum sesungguhnya di Indonesia tidak dikenal istilah perbedaan nasionalis-relijius. Yang mengatakan dirinya nasionalis sejatinya adalah masyarakat yang relijius. Dan yang relijius tetap memiliki nasionalisme yang sangat kuat.

Baca Juga:  Inilah Bahaya Menyebut Kafir terhadap Sesama Muslim

Kategori pembelahan nasionalis-relijius ini tidak relevan jika sejak awal negara ini memang mengafirmasi perjuangan kalangan santri. Dan tentu tidak ada kelompok yang baru datang yang tidak mengerti sejarah bangsa lalu lantang berteriak tegakkan khilafah di negeri ini.

Bangsa ini dibangun oleh beragam kelompok yang salah satunya yang penting diingat adalah kelompok santri dan umat Islam. Jika persepsi ini dibangun sejak awal dengan merekognisi sejarah perjuangan kalangan santri, intelektualitas dan kiprahnya dalam membangun bangsa, rasanya tidak aka nada kalangan yang bermimpi membangun negara agama, karena sejak awal negara ini dibangun oleh kalangan agawaman.

Selamat Hari Santri Nasional, semoga para santri selalu siaga jiwa dan raga menjaga negeri ini.

Bagikan Artikel ini:

About Ernawati

Avatar of Ernawati

Check Also

mencari ilmu

Kewajiban Mencari Ilmu Sepanjang Hayat

Islam adalah peradaban yang dibangun dengan ilmu dan amal. Banyak sekali ayat dan hadist yang …

jangan biasakan berbohong

Jangan Biasakan Berbohong dari Hal Kecil

Salah satu sikap yang tidak terpuji yang menjadi penyebab kerusakan adalah berbohong. Berbohong merupakan pangkal …