Berhati-hatilah berdebat dengan orang bodoh, jika tidak ingin jatuh dalam kebodohan. Mereka hanya mempunyai sebutir pengetahuan tetapi sejuta emosi dan ambisi.


Berdebat (mujadalah) bukanlah sesuatu yang dilarang apalagi bertujuan untuk mencari dan menggali kebenaran. Tentu saja berdebat harus dengan argumentasi bukan basa-basi, apalagi caci maki. Berdebat harus dengan dalil bukan asal berbeda dengan selera berarti berhak dicerca.

Selain dalil hal terpenting dalam debat adalah perkataan yang baik. Dalam al-Qur’an etika dakwah dan berdebat telah begitu gamblang dijelaskan. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS: An-Nahl : 125). Ayat ini menurut Ibnu Asyura merupakan ayat yang menghimpun metode diskusi yang luas biasa, dari argumentasi, pesan hikmah hingga cara komunikasi yang efektif.

Persoalannya, bagaimana jika yang dihadapi adalah orang yang tidak berilmu. Hanya mengandalkan pemikiran sempit dan fanatis tanpa mau membuka diri terhadap pandangan orang lain. Biasanya hanya melempar amarah dan cercaan yang menggebu-gebu seolah kebenaran bisa dicari dengan keburukan. Seoalah kebenaran yang mulia bisa didapat dengan kata-kata nista.

Allah telah memberikan satu pedoman dalam Qur’an : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil” (QS. Al-A’raf: 199).

Berpaling itu lebih baik untuk tidak menjadikan dirimu menjadi hina dan bodoh. Memilih diam dalam perdebatan dengan orang tidak berilmu itu lebih baik karena akan terselamat dari amarah. Orang bodoh akan selalu menutupi diri dari pengetahuan dan kebenaran dan hanya ingin muncul dengan kemenangan.

Rasulullah telah memberikan pesan yang sangat berharga: “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” [HR. Abu Dawud).

Sikap inilah sebenarnya yang diambil oleh Imam Syafi’i ketika berdebat dengan orang yang tidak berilmu. Perkataan yang sangat masyhur dari Imam Syafii adalah aku mampu berhujjah dengan 10 orang yang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan orang jahil, karena orang jahil itu tidak pernah paham landasan ilmu. Karenanya menurut Imam Syafi’i :

ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

Artinya : “Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi” [“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i]

Menurut Imam Syafi’i mengalah dengan orang jahil itu lebih baik dari pada kita terjerumus dalam kebodohan. Diam adalah pilihan terbaik dari pada berbantah-bantahan tanpa dasar ilmu atau mengajukan dasar ilmu yang tidak mungkin mereka pahami. Berdebat dalam kondisi seperti itu tidak akan berkesudahan.

Karena itulah, jangan pernah melayani perdebatan dengan orang-orang bodoh yang justru menyebabkan kita jatuh dalam kebodohan dan kehinaan. Mereka selalu menutupi diri dari ilmu dan kebenaran dengan bertahan pada selera dan dengan sedikit yang mereka tahu.