bius
bius

Hilang Ingatan Sebab Dibius; Apakah Wajib Qadha’ Shalat

Di saat seperti ini, wabah Covid-19, banjir, gempa, longsor dan bencana alam yang lain melindas Indonesia tentu memakan banyak korban, ringan maupun parah. Kondisi tersebut mengakibatkan beberapa orang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Bagi korban bencana yang sakitnya ringan tentu hanya perawatan biasa. Namun yang parah harus mendapat perawatan medis yang serius. Bahkan sampai pada operasi.

Ketika dioperasi pada biasanya pasien harus dibius dulu. Tindakan ini dilakukan apabila perawatan sampai tingkat pembedahan. Akibat obat bius ini pasien akan kehilangan kesadaran sehingga tidak merasakan sakit saat dilakukan operasi. Dan, biasanya berlangsung cukup lama.

Disinilah muncul problem fikih. Kehilangan akal atau kesadaran saat dibius berakibat pasien tidak bisa mengerjakan kewajiban shalat sebagai kewajiban utama dalam agama yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dengan aturan yang telah ditetapkan oleh fikih.

Lalu pasien yang dibius apa wajib qadha’ (mengganti) shalat selama masa pembiusan tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya dimulai dari hadis Nabi dan teori ushul fikihnya supaya tidak ada anggapan bahwa para imam madhab tidak mendasarkan pendapatnya kepada sumber primer, yakni al Qur’an dan hadis.

Dari Usamah bin Syarik, ia berkata, Nabi bersabda, “Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun (tua)”. (HR. Abu Daud).

Berangkat dari hadis ini sebagai sumber primer hukum nomor dua setelah al Qur’an, ulama fikih melalui istinbat hukum yang mendalam memutuskan wajib hukumnya untuk berobat. Dan, sebagaimana disebut sebelumnya, salah satu yang direstui oleh syariat adalah boleh menggunakan obat yang menyebabkan hilangnya kesadaran karena hajat (kebutuhan).

Untuk hal ini dibuat kaidah yang sangat populer, yaitu “Al Wasail Hukmul Maqashid”, sarana hukumnya sama dengan tujuan yang akan dicapai”. Kaidah lain berbunyi “Ma la Yatimmu al Wajib illa bihi fahuwa Wajib”, bahwa sesuatu yang menjadi penyempurna yang wajib hukumnya wajib. Seperti wajibnya bersuci untuk shalat.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Tanggung Jawab Dipundak Pelaku

Dalam konteks pengobatan kaidah ini juga berlaku. Karena berobat itu wajib, maka mengkonsumsi obat hukumnya juga wajib. Seperti pada perawatan pasien yang harus dioperasi dan harus dibius. Bius dalam upaya penyembuhan meskipun berakibat hilangnya akal dibolehkan oleh syariat.

Oleh karena itu, Imam Nawawi dalam kitabnya Al Majmu’ Syarh al Muhaddzab membahas soal ini. Minum obat yang dapat menghilangkan akal karena kebutuhan (hajat) hukumnya boleh. Pembiusan masuk dalam konteks ini. Oleh karena itu, karena prosesnya dilegalkan oleh syariat, pasien yang mengalami kondisi ini tidak wajib qadha’ shalat setelah ia sembuh. Akan tetapi setelah sadar kewajiban shalat berlaku lagi. Bila karena sebab kondisi lemah dan semacamnya ia tidak mengerjakan shalat, maka shalatnya wajib diganti dilain waktu.

Berbeda jika seseorang minum atau mengkonsumsi obat tanpa hajat atau sebab minum sesuatu yang memabukkan seperti khamer dan obat terlarang yang menyebabkan hilangnya kesadaran, ia tetap wajib qadha’.

Hukum ini berangkat dari anjuran agama yang mewajibkan umat Islam berobat disaat sakit. Seperti bisa ditemukan dalam hadis Nabi di atas dan juga rumusan kaidah ushul fikih seperti telah dijelaskan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …