WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.45 1
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.45 1

Bolehkah Qadha’ Shalat Tarawih?

“Barang siapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadhan hanya karena imam dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (HR. Muslim).

Hukum shalat tarawih adalah sunnah. Bagi laki-laki maupun perempuan. Walaupun sunnah, sebagaimana hadis di atas, memiliki keutamaan luar biasa, menjadi penebus dosa. Rasulullah sendiri sangat serius melakukan shalat sunnah yang hanya dilakukan di bulan Ramadhan ini.

Namun, karena sebab tertentu tidak jarang seseorang tidak bisa melaksanakan shalat tarawih. Seperti karena sakit, sedang melakukan perjalanan, tertidur dan sebab lain.

Pertanyaannya, bolehkah shalat tarawih diqadha’?

Dalam kitab Mughni al Muhtaj karya Syaikh Khatib al Syarbini dijelaskan, bila shalat sunnah yang terikat waktu tidak sempat dikerjakan, baik yang disunnahkan dikerjakan secara berjamaah seperti shalat sunnah dua hari raya atau tidak seperti shalat Dhuha, menurut pendapat yang adzhar sunnah diganti (qadha’).

Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa tertidur dari shalat atau lupa darinya, maka shalatlah ketika ia ingat”.

Dasar kedua adalah hadis riwayat Abu Daud dengan sanad shahih ketika Nabi mengqadha’ dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh ketika beliau tertidur di jurang dan shalat subuh saat matahari terbit. Dengan demikian, shalat tarawih sebagai shalat sunnah yang terikat waktu boleh diqadha’. Bahkan menurut Imam Ibnul Muqri boleh diqadha’ baik tertinggal karena melakukan perjalanan atau diam di rumah.

Keterangan senada ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad al Ramli dalam Nihayatu al Muhtaj. Jika shalat sunnah yang dibatasi waktu tidak sempat dikerjakan, seperti shalat hari raya, shalat dhuha, dan shalat sunnah rawatib, sunnah mengqadha’nya kapan saja. Dasarnya adalah hadis yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga:  Shalat bagi Orang yang Tidak Mampu Berdiri

Dasar lainnya, Nabi mengqadha’ shalat ba’diyyah Dhuhur setelah shalat Ashar ketika beliau sebelumnya sibuk menerima utusan. Ketentuan ini berlaku umum. Baik karena melakukan perjalanan maupun hanya diam di rumah. Seperti penjelasan Imam Ibnul Muqri.

Namun menurut sebagian ulama, tidak sunnah diqadha’ karena menyamakannya dengan shalat sunnah yang tidak terikat waktu.

Sedangkan untuk shalat sunnah yang terjadi karena suatu sebab, seperti shalat gerhana, shalat istisqa dan tahiyyatul masjid tidak sunnah diqadha’.

Dengan demikian, maka shalat sunnah tarawih karena merupakan shalat sunnah yang terikat atau dibatasi oleh waktu sunnah diqadha’. Sedangkan waktunya bebas kapan saja. Seperti dikatakan oleh Syaikh Ali Syibramalisi dalam Hasyiyah ‘ala Nihayatu al Muhtaj.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

khutbah jumat singkat

Khutbah Jumat Singkat Tanda Khatib Paham Agama

Kebiasaan membaca khutbah Jum’at dengan durasi waktu yang lama banyak dijumpai di masjid-masjid, terutama di …

idhah al bab

Fikih Nusantara (30): Kitab Idhah Al Bab Karya Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani

Pattani, Thailand Selatan sekarang, tidak hanya tanahnya yang subur, negeri yang berbatasan dengan Malaysia ini …