Irjen Pol purn Ir Hamli ME
Irjen Pol purn Ir Hamli ME

Ideologi Agama Muncul Dari Kelompok Yang Mengaku Beragama, Tapi Tidak Nasionalis

Jakarta – Aksi terorisme di Indonesia selama ini lebih banyak dilakukan oleh orang atau kelompok karena pengaruh ideologi agama. Ideologi agama sendiri muncul dari kelompok-kelompok yang mengakui beragama, namun tidak ingin bernasionalisme.

“Untuk itu, saya mengimbau peserta kegiatan Purnapaskibraka dari tahun 1945 hingga 2020 yang akan ditetapkan sebagai Duta Pancasila dapat mewaspadai keberadaan kelompok yang menganut paham ideologi agama secara ekstrem, bahkan menggunakan cara kekerasan,” kata Wakil Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Irjen Pol (Purn) Hamli saat menjadi pemateri dalam kegiatan “Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Purnapaskibraka Sebelum Tahun 2021” secara daring, Senin (25/10/2021), dikutip dari Antara.

Hamli mengimbau secara lebih khusus kepada para Purnapaskibraka yang baru memasuki kehidupan perguruan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa kelompok yang mengaku beragama tetapi tidak bernasionalisme memang kerap menanamkan pengaruh di sana.

“Kelompok itulah yang dikategorikan sebagai kaum radikalisme. Kaum radikal akan menyuburkan sikap intoleran, anti-Pancasila, anti-NKRI, dan berujung menyebabkan disintegrasi bangsa,” tukasnya.

Setelahnya, ideologi agama yang mereka anut secara ekstrem akan disertai pula dengan beragam perbuatan yang menggunakan ancaman kekerasan hingga mengarah pada terorisme.

“Kalau ada orang yang mengatakan nasionalisme itu tidak benar, nasionalisme tidak berhadap-hadapan dengan agama, ini sudah bisa dimasukkan kategori radikal,” ucap Hamli.

Hamli mengungkapkan bahwa sekitar 45,5 persen pelaku terorisme di Indonesia termotivasi karena pengaruh ideologi agama yang ekstrem. Itu merupakan hasil penelitian terhadap pelaku teror yang dilakukan pada tahun 2021 dan sampai sekarang dinilai masih relevan.

“Dari hasil penelitian, motif mereka melakukan aksi terorisme yang diambil dari sampel sebanyak 100 lebih pelaku teror pada tahun 2012 dan masih relevan sampai sekarang memang tidak tunggal. Namun, yang dominan adalah ideologi agama sebanyak 45,5 persen,” kata mantan Direktur Pencegahan BNPT ini.

Baca Juga:  Islamofobia di Negara Barat Telah Dimanifestasikan Dengan Kekerasan dan Terorisme

Selain 45,5 persen motif berupa ideologi agama, ada beberapa motif lain yang mendorong seseorang melakukan aksi teror di antaranya adalah 20 persen pengaruh solidaritas komunal, 12,7 persen memiliki mentalitas massa, 10,9 persen ingin membalas dendam, 9,1 persen situasional, dan 1,8 persen separatisme.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

dr Fauzia Gustarina Cempaka Timur S IP M Si

Celah Intoleransi Dalam Beragama Diincar Kelompok Radikal Untuk Sebarkan Virus Radikalisme

Jakarta – Kelompok radikal selalu berupaya memanfaatkan berbagai cara untuk menyebarkan virus radikalisme. Salah satunya …

RDP Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dengan Komisi VIII DPR RI

Dai Harus Miliki Strategi Metode Dakwah yang Menitikberatkan Wawasan Keberagamaan dan Kebangsaan

Jakarta – Sertifikasi penceramah atau dai dilakukan demi meningkatkan pemahaman moderasi beragama kepada kalangan dai …