imam ghazali
imam ghazali

Imam Ghazali: Salah Niat, Ilmu Menjadi Penyakit

Dalam karyanya Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali mengingatkan para pencari ilmu supaya tidak salah niat. Sebab, niat menjadi patokan utama kemanfaatan ilmu. Apabila niatnya benar ilmu yang diperoleh akan membawa kedamaian dalam hidupnya. Sebaliknya, niat yang salah akan menjerumuskan pemiliknya pada situasi yang runyam. Bahkan, kesalahan menata niat dalam mencari ilmu bisa menjadi penyebab seseorang secara sadar atau tidak telah menghancurkan agama dan dirinya.

Imam Ghazali menjelaskan, siapa yang mencari ilmu dengan maksud berkompetisi, berbangga diri, untuk mengungguli teman-temannya, untuk mecari perhatian orang lain, dan untuk tujuan harta, sejatinya ia telah berusaha merusak agama dan juga dirinya. Ia telah menjual akhirat sebagai tempat kembali yang abadi dengan dunia yang sementara. Ini seperti orang berdagang yang mengalami kerugian besar.

Konsekuensinya, guru yang mengajarkan ilmu kepada orang tersebut juga ikut andil dalam kemaksiatan. Seperti dikatakan Nabi, “Siapa yang membantu seseorang untuk melakukan maksiat, ia telah berpartner dengan orang tersebut dalam kemaksiatan”. Artinya, guru juga ikut berinvestasi terhadap dosa keburukan dan kemaksiatan muridnya.

Ilustrasinya, guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya yang memiliki tujuan-tujuan seperti telah disebutkan, sama seperti orang yang menjual pedang kepada begal. Begal hanya akan menggunakan pedang untuk membunuh seseorang dan merampas hartanya. Menjual pedang kepada begal sama saja membantu seseorang untuk membunuh orang lain.

Lalu, bagaimana niat yang benar dalam mencari ilmu?

Kata Imam Ghazali, niat mencari ilmu harus murni dan ikhlas karena Allah serta dalam rangka untuk mendapatkan hidayah dari Allah. Mencari ilmu bukan semata proses transformasi keilmuan dari guru ke murid dan begitu seterusnya. Kalau niatnya sudah benar seperti ini, maka orang tersebut berjalan di atas restu Allah. Kepadanya, malaikat dan ikan-ikan di lautan mendoakan kebaikan.

Baca Juga:  Amalan di Bulan Sya’ban: Persiapan Memasuki Ramadhan

Namun perlu diingat, apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali ini sama sekali tidak menafikan pentingnya semangat, kreativitas dan ketekunan dalan belajar. Beliau hanya mengingatkan langkah awal yang terbaik dan wajib dimiliki oleh pencari ilmu atau pelajar. Apabila niat sudah tertata dengan baik, hal berikutnya adalah semangat dan keinginan tinggi supaya sukses dalam mencari ilmu. Menjadi orang pintar dan menguasai ilmu secara mendalam dan sempurna.

Bagaimanapun, kebodohan dicela oleh agama karena memiliki potensi merusak pemahaman tentang agama yang semestinya. Alarm pengingat dari Imam Ghazali bukan melarang seseorang untuk pintar, namun semata supaya ilmunya tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi semata.

Melihat realitas yang ada, apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali adalah kenyataan. Karena salah niat dalam menuntut ilmu, tidak sedikit tokoh agama yang memposisikan diri sebagai manusia super. Dengan ilmu agamanya ia menjadi egois. Seolah-olah dengan kepintarannya dirinya bisa menyelesaikan segala problem dan bersikukuh melakukan pembelaan terhadap penafsirannya sendiri dengan mengenyampingkan kebenaran-kebenaran di luar dirinya. Ia menjadi kaku, tertutup dan intoleran.

Akibatnya, bahwa ia telah merusak agama dan dirinya, seperti disampaikan oleh Imam Ghazali adalah nyata. Agama kemudian hanya dijadikan kedok sebagai alat justifikasi untuk membenarkan tindakan-tindakan yang menyimpang jauh dari pilar-pilar kemanusiaan. Agama dijadikan alat untuk meraih tujuan dunia. Seperti terorisme atas nama agama.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

sistem demokrasi

Siapa Bilang Sistem Demokrasi tidak Islami?

Syura (musyawarah) sangat penting dalam relasi antar manusia. Dalam segala hal, musyawarah sangat dibutuhkan untuk …

akhlak al-quran

Mempraktekkan Akhlak Al-Quran

Akhlak yang mulia adalah sebaik-baiknya sesuatu. Semulia-mulianya manusia adalah sebaik-baik akhlaknya. Sebagaimana misi kenabian utama …