Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid

Ini Ciri Penyebaran Radikalisme di Kampus Atas Nama Agama Menurut Direktur Pencegahan BNPT

Bogor – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, memberikan pembekalan pada mahasiswa baru Universitas Pakuan, Bogor, dalam acara Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) dengan tema “Gerakan Anti Radikalisme”. Kegiatan itu digelar secara daring pada Rabu (15/9/2021). Pada kesempatan itu, Ahmad Nurwakhid mengungkapkan ciri-ciri penyebaran radikalisme di kampus dengan mengatasnamakan agama.

“Saya mau langsung menggambarkan realitas di kampus, supaya adik-adik bisa mewaspadai dan mengenali ciri-cirinya. Dari dulu hingga sekarang yang menyebarkan paham radikal itu adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Walaupun itu sudah dibubarkan organisasinya tetapi secara paham masih menyebar sampai sekarang, dan ini yang harus di waspadai,” kata Nurwakhid.

Ia meminta otoritas kampus harus bisa memahami dan mengenali ciri-ciri penyebaran radikalisme di kampung. Pertama, kelompok tersebut rata-rata bersikap tertutup dan tidak mau terbuka dengan pandangan lain, terutama bagi kalangan mereka yang beda keyakinan. Konteksnya adalah agamanya sama tetapi paham yang dianut berbeda.

Kedua, kelompok atau orang tersebut mudah mengkafirkan orang lain. Ketiga, kelompok atau orang tersebut suka menarasikan dalam menegakan hukum agama. Keempat mereka suka menempatkan barat sebagai ideologis-politis sebagai ancaman terhadap kesatuan umat,

Kelima mereka berusaha untuk mengajak keanggotaannya melaksanakan kajian diskusi secara tertutup, bahkan harus melakukan pembaiatan.

“Keenam sebagian dari kelompok tersebut bersuaha untuk mengambil dengan cara non-kekerasan, dan sebagian lain mengambil dengan cara kekerasan,” ucapnya.

Selain itu, Nurwakhid juga memaparkan strategi kelompok radikal yang ingin menghancurkan Indonesia melalui dunia maya.

“Pertama mereka berusaha untuk mengaburkan, menghilangkan bahkan menyesatkan sejarah bangsa ini. Kedua, mereka berusaha menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Dan yang ketiga kelompok itu berusaha mengadu domba diantara anak bangsa dengan pandangan intoleransi dan isu SARA,” ujar Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid

Baca Juga:  Kecam Bom Gereja Katedral Makassar, Muhammadiyah: Aksi Itu Bentuk Adu Domba

Untuk itu Ia mengimbau generasi muda untuk selalu berupaya terbebas dari ancaman tindak terorisme. Hal tersebut tentunya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan secara militan dalam menangkal sebaran hoaks dan propaganda.

“Tentunya dengan serta merta aktif dalam menyebar konten persatuan dan toleransi terutama di dunia maya dengan cara yang baik dan tidak melanggar hukum, apapun bentuknya. Kalau negara kita yang beragam dan pemerintahan yang sah ini adalah suatu takdir Tuhan, kuasa Ilahi,” ujar alumni Akpol tahun 1989 ini.

Cara lainnya, lanjutnya, generasi muda harus me-unfollow ustaz atau tokoh yang intoleran dan radikal baik dilingkungan sosial atau di media sosial. Kemudian generasi muda mem-follow ustaz atau tokoh yang moderat, bertoleransi tinggi dan cinta perdamaian serta cinta terhadap NKRI dan ideologi bangsa Pancasila, baik di lingkungan sosial atau media sosial.

“Bangsa ini sudah mempunyai UU penanggulangan teror yakni UU No.5 tahun 2018. Tetapi bangsa kita belum ada peraturan mengenai pelarangan terhadap ideologi yang menentang Pancasila, termasuk dengan konsensus nasional. Ideologi yang dilarang selama ini yakni komunisme, marxisme, dan leninisme. Larangannya ada di Tap MPRS No.25 Thn 1966, turunannya ada di UU no.27 thn 1999,” paparnya.

Sejak diberlakukan UU Nomor 5 Tahun 2018, kata Nurwakhid, aparat keamanan sudah mencegah atau berhasil menangkap sebanyak lebih dari 1.300 orang baik individu maupun dari jaringan kelompok yang akan melakukan aksi teror. Tetapi tidak semua di publish ke masyarakat.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …