bom bunuh diri
bom bunuh diri

Inilah Hadist yang Sering Disalahpahami untuk Nekat Aksi Bom Bunuh Diri

Beberapa anak muda yang baru mengenyam pengetahuan agama, tetapi memiliki militansi yang tinggi kerap dijadikan korban bagi doktrinasi tokoh dan kelompok teror. Mereka kerap dijadikan pengantin untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

Dani Dwi Permana pelaku bom bunuh diri di JW Marriott tahun 2009 silam adalah remaja masjid dan marbot di sebuah masjid di lingkungannya. Bahkan ia belum sempat mengambil ijazah SMA nya dan lebih memilih melakukan aksi bom bunuh diri dalam jaringan Noordin M Top.

Dani dalam rekaman video yang viral ia menampik perbuatannya adalah bunuh diri karena putus asa. Ia menyebut bunuh diri mengharap mati syahid sebagai mahar mendapatkan bidadari. Dan cara bom bunuh diri adalah cara yang paling ditakuti musuh.

Mereka menyakinkan anak-anak muda muslim yang baru mencari jati diri dan keyakinan diri bahwa meledakkan diri bukan bunuh diri, bukan mati konyol, bukan putus asa, tetapi cara membela Islam agar musuh menjadi takut. Mengorbankan diri bukan berarti bunuh diri karena ini jalan syahid.

Seringkali hadist yang diketengahkan untuk menjustifikasi perbuatan aski bom bunuh diri ini agar tidak dikatakan sebagai semata bunuh diri adalah sebuah hadist yang cukup populer dikutip. Berikut haditsnya :

Dari Sahabat Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.” (HR. Muslim).

Tindakan para sahabat yang untuk maju sendirian ke medan perang tanpa takut mati tidak masuk dalam kategori bunuh diri. Mereka adalah syahid yang berjuang membela Rasulullah dan membela Islam. Inilah yang menjadi dasar bahwa mendoktrin anak muda yang melakukan aksi bom bunuh diri bukan sebagai mati bunuh diri.

Al-Qasim bin Mukhaimarah, al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik dari kalangan ulama kita  (madzhab Malikiyah) berkata: “Tidak mengapa seseorang sendirian menghadapi pasukan musuh yang cukup banyak jika ia memiliki kekuatan dan niatnya ikhlas karena Allah semata. Jika ia tidak memiliki kekuatan maka termasuk bunuh diri.

Pertanyaannya, apakah bom bunuh diri yang mereka lakukan dalam kondisi perang? Apakah yang mereka sasar adalah musuh yang sedang berperang dan mengancam umat Islam? Kalaupun berperang apakah mereka berperang sedang mengetahui syarat-syarat perang tanpa menghancurkan fasilitas bangunan, gedung dan orang yang tidak bersalah, anak-anak, perempuan dan yang lainnya yang dilindungi sebagaimana dalam hadist Nabi?

Sesungguhnya tidak ada alasan yang tepat bagi bom bunuh diri seperti yang terjadi di Polsek Astna Anyar dengan membenarkan dengan hadist di atas. Sangat tidak tepat dan bukti memanipulasi ajaran untuk doktrin kesesatan. Tidak ada metode perang dengan bom bunuh diri di saat damai.

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Check Also

sarung dan baju koko

Sarung dan Baju Koko : Persilangan Budaya dalam Identitas Muslim Indonesia

Agama dan budaya serta tradisi memang tidak bisa dipisahkan. Orang yang bermaksud memurnikan agama dan …

KDRT

Jika Sering KDRT, Yakinlah itu Bukan Imammu yang Baik

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) beberapa kali mengemuka di ruang publik karena adanya aduan dari …

escortescort