islam nusantara
islam nusantara

Islam Nusantara di Tengah Normalisasi Sunni-Syiah

“Syiah di Saudi Arabia menuju kehidupan normal. Kita tidak ada masalah dengan Syiah. Kita hanya punya masalah dengan ideologi rezim Iran”, demikian pengakuan Putra Mahkota Saudi Arabia Muhammad bin Salman yang dimuat dalam surat kabar The Atlantic (2018). Ini sebuah peluang sekaligus tantangan bagi  “Islam Nusantara”.

Islam Nusantara yang terletak di kawasan melayu (Asia Tenggara) dan terpusat di Indonesia memperlihatkan karakter antropologis yang khas dan terus dikaji secara serius di dunia akademik hingga tahun 2022 saat ini. Bahasa Indonesia (melayu) yang memiliki hubungan dengan bahasa Sanskerta; bahasa suci umat Hindu dan Budha mewarnai keberagamaan masyarakat Indonesia yang tidak bernuansa Arab.

Selain itu, Perjalanan panjang dan periodik pribumisasi Islam telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia dengan karakter keislaman khas wali songo. Spirit keberagamaan yang berakar dari  Sahabat Ali bin Abi Thalib atau  Ahlul Bait sebagaimana cerminan tarekat, tersirat dalam bait Li Khomsatun yang mengekspresikan kecintaan kepada Ahlul Bait dan tawasul dalam maulid diba’ yang sangat populer juga jejak-jejak sejarah kebudayaan dan watak sejati Islam Nusantara yang menolak adanya hirarki dalam relasi agama merupakan warna moderasi Islam Nusantara.

Jika dikaji karekter moderasinya, penyebaran teologi Islam di Indonesia banyak diwarnai oleh tasawuf sunni dan falsafi dibanding perdebatan kalam (teologi). Fachry Ali (2020) menyebut fenomena Islam Nusantara sebagai ekspresi keberagamaan “tanpa tekanan teologi”. Terbukti perdebatan yang terjadi justru antara kelompok tasawuf sunni dan falsafi, sebelum munculnya aliran wahabi di abad 19 M.

Kemunculan Wahabi disamping memperkuat posisi Asy’ari di dunia pesantren, juga Syi’ah di dunia intelektual Islam Indonesia terhitung sejak meletusnya revolusi Iran 1979 M. Kalangan Asy’ari dan Syi’ah sama-sama menjunjung tinggi semangat nasionalisme menghadapi penyebaran dua ideologi ekstrimis Wahabi dan ideologi trans-nasional Khilafah. Namun demikian, Saudi Arabia yang menjadi pusat Wahabi bergeser di tangan Pangeran Muhammad bin Salman. Pada tahun 2021, surat kabar Al-Arabiya News, Otoritas Saudi Arabia telah menutup stasiun-stasiun televisi karena menampilkan tokoh agama yang  agresif terhadap Syi’ah, bahkan memberikan status kewarganegaraan kepada sejumlah tokoh Syiah seperti Peneliti Lebanon Mohamed al-Huseini.

Baca Juga:  Sejarah Agama-agama di Indonesia Pra-Islam

Namun di era digital saat ini, suara Syiah terutama di negara-negara Arab dan Barat justru semakin menggema. Di dunia ilmiah, Syiah menyuarakan prinsip “jihad intelektual” sebagaimana tercermin dari tokoh-tokohnya yang membuka kajian dan diskusi virtual secara terbuka, mengoptimalkan situs dakwah, membuat film sejarah seperti film “Sayidah Fatima Sang Wanita Syurga” dan diputar di negara-negara Barat hingga saat ini, meluncurkan pesawat bernama Fatima di Inggris, lomba jurnal tingkat internasional yang diadakan oleh lembaga riset Irak dan Iran dan seterusnya. Adapun di dunia filantropi seperti dilakukan oleh kelompok Syiah asal India yang memberikan bantuan renovasi  masjid dan makam Imam Husein di Kairo dan disambut baik oleh Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi beberapa bulan yang lalu.

Aliran Sunni dan Syi’ah telah teruji oleh waktu untuk bertahan dan saling beradu argumen. Dari kalangan Sunni, Imam Al-Ghazali dikenal mensejajarkan akal dan wahyu. Dari kalangan Syiah, Imam Ja’far as-Shadiq dikenal menggabungkan akal dan spiritualitas (intuisi) sehingga ekspresi beragama jauh dari tekanan teologi sebagaimana ciri khas Islam Nusantara. Al-Ghazali sebagai teolog Asy’ari mengingatkan pengikutnya agar berhati-hati jangan sampai berdebat (berdiskusi) dengan ulama Syiah-Ismailiyah dan memberi fatwa agar menghadapi mereka cukup dengan tindakan nyata tanpa suara. Hal ini terbukti dengan literatur Asyari yang tidak menampilkan perdebatan Sunni-Syi’ah tetapi Sunni-Mu’tazialh. Namun demikian, al-Ghazali tetap bisa berdialog dengan Syiah melalui tasawuf sebagaimana karakter Islam Nusantara yang cenderung sufistik bukan teologis.

Normalisasi Sunni dan Syiah bisa diupayakan dengan dukungan penguasa sebagaimana sebuah aliran yang bertahan karena faktor luar seperti dukungan penguasa kepada madzhab fikih. Misalnya fenomena Madzhab Hanafi di Turki era Dinasti Usmani, madzhab Maliki di Sudan era Dinasti Sennar dan madzhab Sya’fi’i di Mesir era Dinasti Ayubiyah atau dukungan pembiayaan seperti madzhab Hambali di Saudi Arabia atau di negara-negara yang dibantu oleh Saudi Arabia. Begitupun eksistensi aliran teologi seperti Syi’ah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Perang konspirasi “Wahabi-Rafidlah” yang digenelarisir menjadi perang konspirasi “Sunni-Syi’ah” merupakan propaganda Agen Intelijen Asing setelah terbentuknya Wahabi untuk meruntuhkan persatuan umat Islam sebagaimana pengalaman di Irak, Suriah dan Yaman. Hingga saat ini, Asy’ari dan Syi’ah berjuang bersama malawan stigma buruk kelompok Wahabi. Iran yang menjadi pusat rujukan ajaran kaum syi’ah bukan politik tetap dianggap musuh bersama meskipun Syiah bukan ideologi trans-nasional.

Baca Juga:  Pribumisasi Idul Fitri dalam Islam Nusantara

Asumsi bahwa Sunni adalah lawan Syi’i sudah tidak relevan demikian pula Sunni adalah lawan Mu’tazili karena masing-masing bisa saling melengkapi dan berkontribusi bagi peradaban Islam. Para pengikut Aswaja yang bertahan di titik tengah dengan corak sufistiknya dan sama-sama bermadzhab Sufi adalah Sunni/Asy’ari dan Syi’i. Dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) disebutkan bahwa keduanya pernah disatukan oleh KH. Wahab Chasbullah yang dibantu Syekh Ghanaim al-Mishri  di Mekkah pada tahun 1926 untuk menentang agenda Wahabisme di Saudi.

Dalam kaitan moderasi, Ulama al-Azhar Mesir Syekh Thaha Hubayshi mengategorikan umat Islam menjadi tiga yaitu tipologi; tektualis, rasionalis dan intuitif. Tipologi pertama diawali oleh Imam Ahmad bin Hambal dan dilanjutkan oleh pengikutnya hingga era kontemporer saat ini. Tipologi kedua, diawali oleh mu’tazilah dan berkembang hingga neo-mu’tazilah saat ini. Adapun tipologi ketiga adalah kelompok zuhud atau sufi yang selalu memandang manusia memiliki keistimewaan di belakang indera dan penalarannya, misalnya keberuntungan dan keberkahannya. Tipologi Islam Nusantara lebih dekat dengan tipologi yang ketiga yaitu Sufi.

Sami Qasim Amin dalam bukunya Al-Wahabiyah (2006) mengutip catatan Mr. Hempher seorang agen intelijen Inggris abad ke-18 yang mengaku mendirikan Wahabi sebagai bagian dari konspirasi untuk merusak Islam. Jika polarisasi Syiah dan Wahabi akibat persaingan geo-politik antara Iran dan Saudi Arabia bisa diselesaikan maka normalisasi Sunni dan Syiah bisa segera diatasi.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

silaturrahmi

Silaturahmi Membangun Masa Depan Dunia dan Akhirat

Silaturahmi memiliki arti menyambung hubungan “rahim” atau tali persaudaraan kandung. Persaudaraan kandung bisa dekat bisa …

antrian haji

Tawaran Solusi Antrian Haji Kyai Masdar Masuki Dunia Arab

Keberanian karena kedalaman ilmu nampak dalam diri KH. Masdar Farid Mas’udi; sosok yang dipercaya menjadi …