Imam Syafii
Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah satu madzhab Sunni, juga pencetus ilmu ushul fikih dan penolong hadist. Jejak rekamnya menunjukkan bahwa Imam Syafi’i adalah manusia istimewa serta diistimewakan, bahkan dipuji-puji oleh banyak tokoh pada masanya. Misalnya, Imam Abu Bakar Ibnu Khuzaimah mengatakan; “Tidaklah diketahui apakah ada Sunnah Nabi yang belum dicantumkan oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya”. Pujian semacam ini bisa jadi berdasarkan kenyataan faktual atau masih anggapan pribadi yang butuh penelitian dan pembuktian. Kemungkinan ini juga bukan berarti sedikitpun mempengaruhi samudera keilmuan Imam Syafi’i.

Setelah lahir di Gaza, Palestina, Imam Syafi’i yang masih di usia menyusui dididik di Mekah untuk belajar al-Qur’an, nahwu (bahasa), sastra dan fikih. Imam Syafi’i berpesan: “Siapa saja yang mendalami nahwu maka dia akan diberikan petunjuk untuk memahami semua ilmu pengetahuan”. Ini menegaskan kedudukan ilmu bahasa sebagai kunci. Setelah itu, Imam Syafi’i mendalami ilmunya di Madinah dibawah asuhan Imam Malik. Karena kejeniusan dan kealimannya, Imam Syafi’i  diizinkan menjadi Mufti di usia 20 tahun. Pendalaman terus dilakukan hingga ke Irak dan Mesir, disamping menawarkan pendapat-pendapat fikihnya. Lantas, apakah maksud dari julukan Imam Syafi’i sebagai Penolong Sunnah (Hadis) ?.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Imam Syafi’i berkata; “Saya menghabiskan uang 60 Dinar untuk mendapatkan kitab-kitab karangan Muhammad bin al-Hasan, kemudian saya tadabburi (menela’ah secara kritis) kitab-kitab tersebut dan saya tulis hadis di setiap masalah dalam kitab sebagai bentuk koreksi (bantahan)”. Meskipun cerdas dan kritis, Imam Syafi’i tetap menjunjung tinggi adab sebagaimana prinsip dalam puisi yang beliau utarakan:

 

وَلَا العَقْلُ إِلَّا مَعَ الأَدَبِ وَلَا العِلْمُ إِلَّا مَعَ التُّقَى

 

Artinya, “Ilmu tidak dianggap kecuali dengan takwa. Akal (kepintaran) tidak dianggap kecuali dengan adab”.

 

Dalam kitab Manaqib as-Syafi’i yang ditulis oleh al-Baihaqi, Imam Syafi’i berkata: Saya pernah ditanya oleh Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani: “manakah yang lebih alim antara guru kami (Imam Abu Hanifah) dan guru anda (Imam Malik). Saya jawab: “Perlukah jawaban inshaf (objektif) ?”. As-Syaibani menjawab: “iya”. “Saya menyumpai Anda, siapakah yang lebih alim dalam al-Qur’an, guru kami atau guru anda ?”. As-Syaibani menjawab: “tentu guru anda”. “Saya menyumpai anda lagi, siapa yang lebih alim dalam Sunnah ?”. As-Syaibani menjawab: “tentu guru anda”. “Saya menyumpai anda sekali lagi, siapa yang lebih alim tentang perkataan-perkataan Sahabat Nabi zaman dahulu?”. As-Syaibani menjawab: “tentu guru anda”. Dengan demikian, tidak ada yang tersisa kecuali qiyas sedangkan qiyas tidak berguna tanpa ini semua. Jadi dengan apa anda akan melakukan qiyas?.

Di masanya, Imam Syafi’i menghadapi orang-orang pintar yang dikenal mengingkari  Sunnah. Hadis sebagai kebenaran yang tidak mungkin saling bertentangan membuatnya harus memberikan penjelasan tentang adanya dugaan-dugaan pertentangan dalam hadis. Imam Syafi’i memberi solusi penyelesaian dengan al-jam’u wa at-taufiq atau mengkompromikan dua hadis shahih yang kelihatannya bertentangan agar kedua hadis tersebut sama-sama dapat digunakan tanpa meninggalkan salah satu hadis. Solusi ini kemudian disebut dengan ilmu mukhtalif al-hadis.

Imam Suyuti dalam kitabnya “Tadrib ar-Rawi” menyebut bahwa Imam Syafi’i adalah orang yang pertama kali berbicara tentang muktalif al-hadis meskipun tidak dalam kitab secara khusus, melainkan dalam kitabnya al-Umm. Namun demikian, jamak diketahui bahwa kitab mukhtalif al-hadis juga diterbitkan secara mandiri. Sebagian ulama menyarankan agar merujuk kitab “Marifah al-Sunan wa al-Astar” karya Imam al-Baihaqi untuk mengetahui hadis-hadis yang diriwayakan dari Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i memandang dua hadis yang sama-sama shahih tidak dapat dikatakan ikhtilaf atau bertentangan selama hadist shahih tersebut bisa dijalankan atau diamalkan isi kandungan hadisnya. Dalam hal ini, sang penolong Sunnah ini mengarang kitab ikhtilaf al-hadis dan menyelesaikan hadis-hadis mukhtalif dengan empat cara yaitu al-Jam’u wat Taufiq (mengompromikan), nasakh (menganulir), tarjih (menguatkan salah satu) dan tanawwul ibadah (mengambil yang lebih lengkap dan luas dalam masalah ibadah). Tahapannya, jika hadis nabi yang shahih tidak bisa dikompromikan lagi dan tidak bisa dinasakh mansukhkan, maka metode yang digunakan adalah tarjih.

Dalam pembelaan hadis, Imam Syafi’i dikenal berani menyatakan bahwa jika hadist itu shahih maka itulah madzhabku dan menegaskan: “Jika hadis itu shahih, maka lemparkan saja perkataanku ke tembok (abaikan pendapat saya)”.  Syekh Abu al-Ula Muhammad Abderrahman al-Mubarakfuri dalam kitabnya “Fawaid Fii Ulum al-Hadis wa Kutubihi wa Ahlihi” mengutip riwayat Rabi’bahwa dirinya mendengar Imam Syafi’i berkata: “jika saya meriwayatkan hadis shahih dan saya belum mengambilnya maka saya bersaksi kepada kalian bahwa akalku telah hilang”.

Selain itu, Imam Syafi’i juga meninggalkan banyak riwayat tentang Sunnah yang kemudian dikumpulkan oleh al-Amir Sanjar bin Abdullah (w. 745 H) dalam kitab bernama  “Musnad Imam Syafi’i”. Musnad Imam Syafi’i adalah kitab kumpulan hadis-hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh murid-murid Imam Syafi’i, yaitu Rabi’ bin Sulaiman dan al-Buwaithi. Salah satu muridnya Harmalah mendengarkan langsung dari Imam Syafi’i berkata: “Saya di Baghdad dijuluki sebagai penolong hadis”. Wallahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

imam nawawi

Alasan Imam Nawawi Membangkitkan Pengajian Hadis

Imam Nawawi (w. 676 H) merupakan sosok yang tidak hanya dikenal jasanya dalam ilmu hukum …

escortescort