kematian
kematian

3 Perkara yang Harus Dibebaskan Sebelum Ajal Menjemput

Cepat atau lambat, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Bagi kita, tidak penting kapan dan di mana sebaiknya kita mati. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kematian itu kita capai dalam ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Swt. Dengan demikian, untuk mencapai surganya Allah maka Rasulullah Saw memberikan jaminan kepada kaum Muslimin selama mereka terbebas dari tiga perkara sebelum kematian terjadi pada dirinyya, beliau bersabda:

من مات وهو بريء من ثلاث: الكبر والغلول والدين دخل الجنة

Artinya: “barangsiapa mati dan ia terbebas dari tiga hal yakni sombong, fanatisme, dan utang, maka ia akan masuk surga” (HR. At-Tirmidzi)

Berdasarkan penjelasan di atas, tampak jelas bahwa ketika kita ingin masuk ke dalam surga, maka sebelum kematian menimpa diri kita maka diwajibkan kita untuk melepaskan diri dari tiga belenggu yang menjerat masing-masing individu kita. Apabila ketiga poin atau salah satu dari perkara tersebut ada dalam diri kita, maka hal ini menjadi salah satu kendala untuk bisa masuk dalam surga. Karenanya, menjadi penting bagi kita untuk mengkuliti dan mengkaji tiga hal ini.

Pertama, adalah At-Takkabur (arogan) atau sombong. Maksudnya adanya anggapan dari seseorang bahwa dirinya lebih baik dari orang lain sehingga berimplikasi pada perwujudan rasa meremehkan orang lain. Karenanya, orang yang arogan itu seringkali menolak kebenaran. Apalagi kebenaran tersebut lahir dari orang yang dianggapnya rendah derajatnya daripada dirinya. Hal ini diperjelas oleh Rasulullah Saw dalam hadisnya:

الكبر بطر الحق وغمط الناس (رواه المسلم)

Artinya: arogan itu ialah sifat yang menolak kebenaran dan menghina orang lain. (HR. Muslim)

Takabbur ialah sifat atau watak yang diwariskan oleh iblis laknatullah, dengan sebab itulah ia divonis berdosa dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Allah Swt berfirman, وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Kedua, yang harus dibebaskan dari diri kita sebelum kematian menjemput kita adalah fanatisme. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latarbelakang yang berbeda-beda, termasuk latarbelakang kelompok baik karena kesukuan, kebangsaan, maupun golongan-golongan berdasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik hal ini seringkali diistilahkan dengan ashabiyyah.

Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Mekkah yang berhijrah). Pada dasarnya, golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehinnga tidak mengukur kemuliaan seseoarang berdasarkan golongan. Hal ini karena memang Allah Swt mengakuinya dalam QS. Al-Hujuraat: 13 berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:  Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan, sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan. Inilah yang disebut dengan ashabiyyah yang sangat dilarang di dalam Islam. Apalagi bila seseorang sampai mengajak orang lain untuk bersikap demikian. Lebih-lebih seseorang siap mati untuk semua itu. Naudzubillah min dzalik.

Ketiga, yang harus dibebaskan dari diri kita sebelum ajal menjemput ialah utang piutang. Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan mua’malah dengan sesamanya. Salah satunya adalah transaksi jual-beli. Namun, dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseroang tidak punya uang. Padahal, ia sangat membutuhkannya. Maka, ia pun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhnannya. Inilah yang kemudian disebut dengan utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai Muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan. Apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali di situasi yang sangat darurat. Karena itu, seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang. Rasulullah bersabda,

إياكم والدين فإنه همّ بالليل ومذلة بالنهار

Artinya: Behati-hatilah dalam berutang. Sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari. (HR. Al-Baihaqi)

Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar. Ia tidak boleh menyepelekannyam meskipun nilainya kecil. Bila seseorang muslim memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa menjadi manusia yang terbaik di mata Allah. Namun, apabila seseorang yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka, hal itu akan membawa keburukan dan malapetaka bagi dirinya. Apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti. Hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya.

Dengan demikian, maka masuk surga atau tida, semua bergantung pada kita, apakah kita bisa membebaskan diri dari hal-hal yang menghambat jalan menuju surga atau tidak dalam kehidupan di dunia ini.

Wallahu a’lam.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About M. Riyan Hidayat

Alumni Magister IAT UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta

Check Also

orang tua

Bekal Penting dalam menghadapi Usia Tua

Sesungguhnya manusia tidak mungkin bisa menghindari masa usia tua selama ia masih diberikan Allah kesempatan …

escortescort